The Art Of Love

12 2 2
                                        


Namaku Arya dan bagiku perempuan adalah makhluk yang menakutkan. Hanya dengan satu senyuman dan sedikit perhatian, kau akan mengira kalau mereka jatuh cinta padamu. Pengalaman itu kudapat ketika duduk di sekolah menengah atas. Kala itu aku hanya pria biasa yang mencintai seorang gadis idola sekolah dengan tulus. Gadis itu duduk di belakangku selama tiga tahun tanpa mau mengganti kursi dan memberikan harapan padaku dengan semua perhatiannnya.

"Za sejujurnya aku menyukaimu sejak dahulu."

"Benarkah, maaf aku masih mau fokus sekolah. Kita berteman saja."

Selang beberapa minggu setelah ditolak, aku mendapatkan info bahwa dia sudah berpacaran dengan lelaki lain. Karena peristiwa itu aku menyadari bahwa game dan cinta tidak memiliki perbedaan yang jauh. Cinta adalah permainan dan tergantung cara kau memainkannya. Ketika bercermin aku melihat wajahku yang penuh jerawat dan kusam. Penampilanku juga begitu biasa dan tidak memikat. Aku hanya seorang pemain dengan penempatan status buruk dan item yang salah.

Aku memutuskan untuk berubah. Aku bekerja di sebuah perusahaan penerbit dan menggunakan gajiku untuk memperbaiki penampilan. Aku juga mulai memperhatikan cara orang-orang berinteraksi dan menonton beberapa acara romantis sebagai refrensi. Selang beberapa bulan aku bekerja masuklah seorang gadis yang bernama Echa. Echa adalah seorang yang kuliah di universitas ternama dan memutuskan cuti untuk bekerja. Echa memiliki tinggi sekitar 165 cm, berkulit putih dan berhidung mancung bak seorang model. Selain itu Echa juga memiliki sifat supel yang membuat Echa mampu berbaur dengan mudah. Hal itu membuat dia menjadi sedikit Bossy, terutama kepada seorang desain grafis yang hanya duduk di depan komputer sepertiku. Pernah suatu ketika aku sedang serius mengerjakan sampul buku dan Echa tiba-tiba berdiri di belakangku.

"Bukankah ini adalah sampul untuk buku baru yang akan diterbitkan? bisakah kau buat beberapa efek di sekitar sini?"

Echa terus memberikan komentar yang mengesalkan kepadaku. Menyebalkan sekali ketika seseorang berkomentar pada pekerjaan kita yang belum selesai.

"Jika kau lebih mengerti soal desain, bagaimana kalau kau yang mengerjakannya saja?" jawabku ketus.

"Lalu gunanya kau ada di sini buat apa? makan gaji buta?"

"Bukankah kau yang berkomentar mengenai kekurangan dari desainku, kau selalu berkomentar seperti bebek pada semua orang bukan? kenapa tak kau coba buat satu cover dan biarkan Pak Hariyadi menilainya?"

Aku menatap Echa sambil menyeringai, memberikan sinyal tantangan yang kuat pada gadis itu.

Semua orang mungkin akan terpikat dan menjadi canggung ketika berada di dekat Echa. Namun, tidak dengan diriku. Untuk menjadi lelaki yang berkualitas yang pertama-tama harus dilakukan adalah bersikap tegas. Jangan selalu setuju dengan pendapat seorang gadis dan tegurlah jika dia memang melakukan kesalahan.

"Hash ... terserah kau saja." Begitulah Echa akhirnya menyerah dan pergi.

Hari-hari di kantor selalu kuhabiskan berdebat dengan Echa. Kami selalu berselisih paham dan kadang membuat Pak Hariyadi berkomentar,

"Kalian akrab sekali. Kenapa tidak pacaran saja."

"Pacaran, aku terlalu bagus untuk gadis cerewet sepertinya 'Pak."

"Apa maksudmu, banyak pria yang antri jadi pacarku."

"Maaf, tipeku adalah perempuan soleha jadi kau bisa minggir." Aku mengibakan tangan seolah Echa adalah debu.

Biasanya ketika lelah dengan pekerjaan di kantor, aku mampir ke rumah sahabatku yang bernama Sofyan. Aku selalu datang tepat pukul delapan karena Sofyan memang memiliki jadwal mengajar. Sofyan selalu mengajar bersama Aisyah dan mereka berdua adalah sahabat dekat di SMA.

Has llegado al final de las partes publicadas.

⏰ Última actualización: Jul 14, 2023 ⏰

¡Añade esta historia a tu biblioteca para recibir notificaciones sobre nuevas partes!

The Art Of LoveHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora