"Aaarrgh!"
Teriakan yang berasal dari luar asrama secara terus-menerus itu menebar teror ke semua orang yang berada di balik pintu yang tertutup di lantai bawah asrama putri. Suara yang terdengar seperti raungan binatang buas itu diiringi dengan jeritan dan banyak langkah kaki.
Melalui sebuah jendela kaca yang sudah ditutupi bermacam-macam kertas dan meja kursi sebagai penahan, aku mengintip ke arah luar untuk mendapati pemandangan yang mencekam, menjijikkan sekaligus menyedihkan.
Setelah lebih dari satu bulan bertahan di dalam asrama, persediaan makanan sudah mulai menipis. Beberapa penghuni asrama bahkan sudah kehabisan makanan siang ini dan mulai mengganggu satu sama lain.
Rasa setia kawan perlahan akan mulai hancur seiring waktu berlalu. Orang-orang akan menjadi egois dan hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri. Itu bisa menimbulkan keributan dan mengundang para zombie di luar sana ke arah asrama karena menyadari keberadaan kami di asrama ini.
Tadi saja kami sudah berdebat untuk memilih siapa yang akan keluar asrama dan pergi ke minimarket kampus yang terletak sekitar satu kilometer dari bangunan asrama tempat kami bersembunyi selama ini. Namun masalahnya minimarket itu letaknya sangat dekat dengan kampus utama yang sudah dipastikan telah dipenuhi oleh para manusia yang sudah berubah menjadi zombie.
"Ini bukan ide yang bagus." Hinata, mahasiswa yang letak kamarnya di sebelah kamarku berkomentar dengan mata yang menatap nyalang setelah mengintip juga melalui celah di antara tempelan koran di jendela kaca.
Gadis berambut gelap itu memegangi sebuah pemukul baseball dengan kedua tangannya yang gemetaran. Hoodienya yang berwarna abu-abu terlihat sudah kusam dan sangat kusut, memberikan bukti dari kondisi asrama yang sudah mulai kehabisan air bersih.
"Kau bisa tetap berada di asrama dan mati kelaparan kalau kau mau," sahut seseorang dengan nada sinis.
Suara itu datang dari Tayuya, orang yang pernah keluar dari asrama untuk mencari makanan di lokasi terdekat dan pulang dengan selamat sekitar seminggu yang lalu. Kali ini, gadis itu kembali menawarkan diri untuk pergi keluar lagi.
"Aku juga merasa ini bukan ide yang bagus." Yuni, mahasiswi asal Asia tenggara yang memilih untuk mengurung diri di kamar selama tiga hari saat wabah di luar sana mulai menggila, mengatakan itu dengan raut wajah penuh keraguan. "Tapi berdiam di dalam asrama mulai membuatku gila."
Kami berempat dan lima orang mahasiswi di lantai bawah menoleh ketika mendengar langkah kaki dari arah tangga. Itu Helen, ketua asrama putri, wakil ketua senat, sekaligus anak paling kaya di antara semua penghuni asrama ini, turun dari lantai dua dengan diikuti oleh empat orang cecunguknya.
Sebagai orang yang berkuasa, Helen mengatur semua persediaan makanan dan air selama ini. Terdengar sangat mengagumkan di situasi yang mengerikan. Namun itu belum semuanya. Helen jelas-jelas menikmati lebih banyak dari semua orang.
Gadis itu juga sudah mengorbankan empat orang mahasiswi yang didorong keluar asrama untuk mencari makanan, dan malah menjadi makanan para zombie di luar sana.
Setelah itu, Helen dengan tanpa merasa bersalah mulai membuat daftar baru, seperti sebuah daftar piket kelas, berisi nama-nama orang yang harus keluar dari asrama untuk berusaha mencari makanan.
Rasa patuh kami bukankah terdengar sangat tak wajar?
Orang yang takut dengan Helen lebih banyak dari yang berani. Jadi jika ada dari kami yang membantah ucapannya, maka kami harus bersiap untuk didorong keluar dengan cara paksa oleh mahasiswi lainnya.
"Here she is," bisik Tayuya dengan nada geram. "Ia kira dirinya ratu apa?"
"Ssst." Aku meletakkan satu telunjukku di depan bibir. "Kita lebih baik keluar dengan cara baik-baik ketimbang didorong paksa menjadi makanan para zombie di luar sana."
BINABASA MO ANG
One Fine Day: Indestructible
FanfictionSasusaku Fanfiction Aku seharusnya sudah mati satu bulan setelah wabah zombie menyerang seluruh kampus tempatku berkuliah, juga seluruh penjuru negeri. Tapi aku kembali terbangun di kamar asramaku sesaat setelah aku digigit. Aku kembali satu hari se...
