Liburan yang cukup panjang kadang membuatku bosan, apalagi bila hanya berdiam diri dirumah. Namun, sore ini kami pergi ke sebuah perlombaan yang finalnya tepat hari ini.
Bukannya memikirkan bagaimana perlombaan itu berlangsung, aku justru langsung ingat bahwa disitu ada yang akan berjaga. Para polisi muda akan dikerahkan turun, untuk menjaga ketertiban disekitar perlombaan.
Hati ku sangat bahagia saat memikirkannya saja rasanya aku ingin cepat cepat bertemu dengannya, dia yang selama ini selalu kucari.
Ku coba mengelilingi dan mencari keberadaannya. Sudah terlihat ada beberapa polisi yang duduk berkelompok. Aku mulai memperhatikan apakah ada dirinya diantara mereka.
Ku putuskan untuk mencari jajanan terlebih dahulu, sembari masih melihat sekeliling.
"Nyari apa sih kak?" Tanya sepupuku yang telah sedari tadi memperhatikan gerak-gerik ku.
"Nyari kawanku dek, kali kali ikut juga jaga hari ini" jawabku mengalihkan.
Aku mengenalnya hanya virtual dan karena mengenal kaknya. Sebelumnya juga sudah sempat bertemu orang tuanya, saat makan malam di sebuah cafe.
Setelah sekian lama sosok yang kucari terlihat, itu Temanku yang memperkenalkanku padamu.
Dia yang telah membuatku tau bagaimana suaramu.
Ku sedikit berlari menghampirinya, sambil kegirangan seakan ada yang ingin ku kejar. Begitu tepat di depannya aku langsung menepuk pundaknya.
"Woilah sombong amet gak nyapa gue" ucapku meledeknya
Dia hanya tertawa dan menunduk, menunjukan dia pun senang bertemu denganku setelah sekian lama. Aku hampir terbuai dengan masih meledek perubahan dirinya yang begitu banyak. Dari tinggi badannya yang berubah drastis saja sudah membuatku terpelongo kaget.
Akhirnya ku berani bertanya padanya tentang dirimu. Aku menjadi gugup kembali, rasanya pipiku hampir terbakar.
"Si Irsan ikut patroli kesini?" Tanya perlahan.
Temanku itu kembali mentertawakan ku, sepertinya sejak awal dia tau aku akan menanyakan itu.
"Haha dah tau gue mah lu mau nanya itu Haha" tebaknya sambil masih tertawa.
"Tapi, gak ikut dia patroli disini. Cuma gue aja, dia ditempatkan di tempat lain" jawabnya kembali.
Aku langsung merasa kecewa, padahal sudah cukup berharap jawabannya akan membuatku bisa bertemu langsung.
Ku kembalikan situasi dengan akhirnya mengajak temanku ini untuk berfoto, sebelum mereka kembali ke kantor atau asramanya.
Hari itu berakhir seperti itu, rasanya cukup lega bisa bertemu teman lama tapi sedih saat tau kau tak ada disana.
Malam harinya, aku kembali melihat Instagramnya. Aku melihat dia membuat story, di story pertama hanya ada penampakan jalan dimana dia sedang berjaga. Di story selanjutnya malah membuat ku tertegun kaku, rasanya seperti dijatuhkan dari ekspektasi yang sudah begitu besar.
Itu fotonya bersama kekasihnya, dengan senyuman yang sangat merekah. Awalnya malam itu aku tak percaya, dan masih berharap. Tapi, ekspektasi kembali dipatahkan dengan story 2 hari setelah story sebelumny.
Disitu ada vidio kebersamaan mereka yang saling berpegangan dan tertawa layaknya sedang dimabukkan oleh asmara.
Ku kira masih ada harapan untukku, nyatanya aku yang harusnya sadar diri sejak awal kalo dia bukan untukku.
Walau rasanya sakit, namun tak sesakit itu. Apalagi kami belum pernah bertemu atau bertegur sapa sekali pun.
YOU ARE READING
One Shoot
Teen Fictionberbeda cerita setiap babny. blh request bab yg mau dibuat novel
