Kepadamu, Sahabatku Satu Satunya

9 4 0
                                        


Apa gunanya membaca surat ini?

Beberapa menit lalu, sekonyong-konyong aku datang ke kamar sahabatku. Aku ingin memastikan dengan kedua mataku sendiri bahwa dunia sudah kiamat. Awalnya aku tak sanggup menahan tawa. Betapa lucu dan konyol candaan Maria bahwa dunia sudah kiamat.

Tetapi, apa yang kupirsa adalah kenyataannya. Surat ini dan pemandangan ketika aku telah sampai sudah menjadi bukti bahwa dunia sudah kiamat. Langit malam mendadak nyala benderang di kota, silau menembus dari jendela kamar. Aku punya tempat untuk ditinggali sebelumnya, dalam sekejap tempat itu menghilang. Semuanya terjadi terlalu cepat sehingga aku tidak mengerti apa-apa.

Aku dan Maria hanya tahu bahwa berhasil selamat adalah suatu keajaiban.

Namun, selain itu semuanya berantakan. Ini bukanlah kota yang aku kenal lagi. Kota yang kosong, rusak akan dampak sesuatu yang hebat. Langit juga tidak menunjukkan pertanda kehidupan sama sekali. Seakan-akan dunia ini hanya menyisakanku dan Maria berdua saja. Pemandangan dan lingkungan kota begitu suram, jadi aku dan Maria memutuskan untuk menetap di pesisir pantai saja—cerah dan udara segar membuatku dan Maria punya harapan untuk hidup.

Radio yang selama ini menemaniku dan Maria mulai mengusik ketentraman. Belakangan, suara bisingnya makin menjadi-jadi, dan alunan lagu yang keluar terdengar buruk.

Maria, sepertinya ini adalah lagu terakhir yang akan kita dengar. Lagu terakhir yang akan terdengar oleh umat manusia, perlahan mulai menjadi suara statis.

Maria, radionya tidak berfungsi lagi.

Apa yang harus dilakukan? Apa yang harus dilakukan? Aku mondar-mandir di hadapan Maria.

Oh, aku tahu! Mungkin kita harus mengganti baterainya! Ayo kita ke kota, siapa tahu selagi mencari baterai kita bisa mendapatkan sesuatu yang bagus. Aku mengulurkan tanganku kepada Maria yang sedari tadi duduk menatapku, tetapi ia sama sekali tidak bergeming.

Maria! Mengapa kau sama sekali tidak menjawabku hari ini? Sebal karena tak kunjung mendapat respons darinya, aku mengeluarkan sebuah pena dan buku catatan yang berantakan akibat banyaknya tumpukan kertas dari saku.

'Pagi ini, Maria tidak mau berbicara padaku sama sekali karena ikannya lebih kecil ketika sarapan tadi. Maksudku, semua ikan itu ukurannya beda-beda bukan? Dasar Maria.' Tulisku sebelum memaksa Maria ikut bersama ke kota.

Pemandangan di dalam kota sekarang menjadi tampak liar, dan tak kenal ampun. Banyak peninggalan gedung tinggi dan besar, telah roboh menutupi banyak jalanan di kota. Rumput dan dedaunan besar nan tebal di bawah kaki, membuat jejak kakiku dan Maria maupun makhluk lainnya sulit terbuat. Tanahnya keras sekeras batu, namun ada juga beberapa jebakan atau lubang jurang yang tertutup dedaunan. Batu pijakan juga kecil dan licin tertutupi lumut, membuat kota ini sulit untuk dilalui.

Aku dan Maria sering kali mesti memanjat atau merangkak untuk melewati pengadang jalan yang biasanya adalah gedung yang roboh. Terkadang Aku dan Maria juga menemui jalan buntu, sehingga terpaksa harus jalan memutar. Aku dan Maria sebenarnya sudah mengeksplor seluruh wilayah yang bisa ditelusuri. Kecuali satu—sebuah gedung yang akses satu-satunya adalah 3 pipa raksasa yang berperan sebagai jembatan. Pipanya terbuat dari besi berkarat dan tampak licin. Sebenarnya aku berani, namun tidak dengan Maria.

Maria, dahulu kau melukai kakimu, sehingga tidak bisa berjalan dengan baik— Bukan, tetapi dia yang melukai kakimu, kan? Aku tahu, karena aku memang berada di sana. Aku membeku ketika melihat ayahmu di sana untuk memberitahu—menantangku untuk melaporkannya kepada pihak berwajib, dan kemudian telepon itu ada di sana. Dia memegang sebuah batang kayu, dihujamkan ke arah kakimu terus menerus, sementara kau menangis kesakitan dan aku menangis karena ketidakmampuanku, dia berteriak "Telepon! Telepon! Telepon! Memangnya kau bisa apa!?"

Aku menelepon polisi dan akhirnya dia berhenti ketika mendengar suara siren dan melihat lampu biru dan merah secara bergantian menyala di depan rumah. Dia terlihat... senang.

Polisi meminta pengakuannya dan juga kita berdua. Kau dan aku sudah sangat memar, dan terisak-isak. Namun, mereka tidak menangkapnya. Mereka sangka bahwa semuanya bisa diselesaikan dengan baik-baik. Kita berdua berteriak bahwa itu tidak ada gunanya, namun di saat itu juga, aku mengerti mengapa ayahmu menantangku untuk menelepon polisi. Dia kebal hukum.

Maria, dahulu kau tidak pernah berani melalui jembatan pipa ini karena jalanmu yang pincang. Tetapi, sekarang kau tidak perlu khawatir. Aku akan menuntunmu. Aku akan membawamu melewati jembatan pipa itu secara perlahan dan pasti.

Woah, Maria! Lihat! Aku terkesima ketika memasuki gedung misterius itu. Rupanya, gedung ini adalah sebuah pusat perbelanjaan. Hanya karena tidak ada penerangan dari dalam, gedung ini kelihatan sangat gelap dari luar. Aku dan Maria menemukan sumber persediaan makanan dan minuman, pakaian, dan tentu saja baterai. Selain itu, Aku dan Maria juga menemukan senter. Aku dan Maria sempat menemukan korek api, namun sayangnya semuanya telah basah dan tidak mau menyala. Aku dan Maria memutuskan untuk segera pulang, mengumpulkan makanan dan minuman sebanyak mungkin. Tentu saja dengan tetap mengingat bahwa tempat ini penuh dengan hama seperti serangga dan tikus, aku memeriksa makanan dan minuman yang kami bawa dengan saksama.

Ayo kita kembali Maria. Aku takut kemalaman, karena kita berdua tidak suka berjalan di kegelapan kota bukan? Pertualangan hari ini terasa luar biasa bagiku. Sebelum malam tiba, kemana kita akan pergi, Maria?

Oh ya! Aku akan menulis kejadian hari ini!

Aku bergegas ke pondok untuk mengambil pena dan buku catatanku. Aku mulai menulis dengan semangat sampai melupakan Maria yang berada di samping.

Malam pun tiba. Hemburan udara yang sejuk berputar di sekeliling kami, membuat rambutku terbang ke segala arah. Cahaya bulan membuat lautan tampak berkilau seperti batu permata. Suara ombak menghujam pantai dan aroma air laut yang menenangkan. Juga, kehangatan yang kami dapat dari api yang aku buat.

Huh? Mengapa aku selalu menulis catatan harian kau tanya? Oh, Maria. Itu berkat dirimu.

Karena aku mengingat jelas ketika kau tersenyum, rasanya besok hari akan cerah juga. Aku takut... Aku takut, musik di radio yang kau sukai, tempat di kota ini yang senang kau datangi, bahkan hal kecil seperti tawamu, teriakanmu, nyanyianmu, apa yang kau takuti dan apa yang kau benci. Aku takut jika aku akan melupakannya.

Maria, kau mengajariku banyak hal. Mulai dari menuntunku menuju kota ini—padahal kakimu terluka parah, mengajariku cara untuk membuat api—padahal kau sama payahnya denganku. Aku berterima kasih banyak padamu, Maria. Tanpamu, sebenarnya aku tidak bisa sejauh ini. Tetapi, ada satu hal lagi yang kau ajarkan padaku. Entah bagaimana pun kita menjalani hidup, kita pasti akan menghilang juga. Awalnya aku berpikir seperti itu, tetapi sebenarnya kita tidak sepenuhnya menghilang jika masih ada orang yang mengingat siapa diri kita sebenarnya. Kau punya aku Maria, tetapi apa yang akan terjadi jika aku juga menghilang? Oleh karena itu, aku menulis buku catatan ini. Jauh di lubuk hatiku, sebenarnya aku tahu. Tetapi, hey apa kau tahu Maria? Bisa saja ada orang yang akan menemukan buku ini suatu hari nanti. Kemudian, rasanya tidak akan kesepian sama sekali. Pasti tidak akan.

Maria, jika semuanya bisa diulang kembali, apa yang harus kita lakukan besok hari? Karena jikalau kita berdua tersenyum, mungkin kita akan mengingat dunia yang kita kenal dulu.

Itu benar, Maria. Barusan adalah perasaanku yang paling jujur kepadamu. Meskipun agak sedikit memalukan, tetapi—

Oh...

Aku rasa sekarang aku sudah mengerti.

Surat ini, berisi perasaanmu yang paling jujur kepadaku, bukan? Aku sudah mengungkapkan perasaanku, berarti sekarang adalah giliranmu. Itu yang ingin kau katakan bukan, Maria?

Aku tidak takut lagi, Maria. Aku akan membaca surat ini dihadapanmu yang telah tergantung di langit-langit kamar ini.

Aku akan membacanya sekarang.

'Kepadamu, Sahabatku Satu-Satunya.'

Hai finito le parti pubblicate.

⏰ Ultimo aggiornamento: Jul 10, 2023 ⏰

Aggiungi questa storia alla tua Biblioteca per ricevere una notifica quando verrà pubblicata la prossima parte!

Kepadamu, Sahabatku Satu SatunyaLa tua prossima ossessione. Scoprilo ora