Pertengahan tahun sudah sampai, tetapi masih ada saja yang dilewati. Mempelajari hal baru salah satunya. Sebagai anak muda, ada baiknya kita banyak menjelajahi keberagaman dunia. Mencari tau apa yang baik dan buruk, apa yang maju dan mundur, apa yang belok dan lurus, tentang segala hal. Entah apa yang terjadi tetapi masih ada saja di masa kini anak muda yang merasa buta akan arah dan blank terhadap perkembangan zaman ini.
Sungguhlah perkenalkan remaja pria usia nanggung satu ini, Semanggi Rawan Siaksa. Anak kota yang betul-betul hidup biasa saja, tak menyadari perubahan, mengabaikan rumitnya kejam dunia, dan acuh terhadap hal-hal buruk yang dirasa tidak merugikannya.
Dia suka bergaul, temannya ada banyak dimana-mana. Dari sabang sampai ke sabang lagi pun ada, hiperbolanya. Tapi begitulah dia, beragamnya orang-orang sekitar tidak cukup membuat dia tersadar bahwa dunia sudah berbeda, jalannya mungkin sudah berbalik arah.
Sekarang dirinya sedang menempuh pendidikan di salah satu kampus swasta biasa saja di kota kelahirannya. Mengambil Jurusan Komunikasi merupakan keputusan yang ada apabila sudah kebingungan mengambil jurusan apa. Walaupun Aksa suka berinteraksi, bergaul sana-sini, sedikit-sedikit suka menulis juga, tetapi tetap jurusan komunikasi dirasa kurang pas bagi dirinya, jurusan ini dia anggap terlalu mudah sampai angkuh pun sudah menjadi makanannya sehari-hari. Dia yakin bahwa sebenarnya dia memiliki kemampuan mumpuni pada bidang lainnya, tapi bingung sudah merajai dirinya.
Aksa pernah mengeluhkan mungkin hampir semuanya. Merasa sendirian sampai menyalahkan keadaan, merasa keadilan tidak diperuntukkan untuknya, merasa "sakit" merupakan hal yang pasti, dan semua-semua keluhan remaja pada umumnya. Dia ingin mencoba semuanya, skala baik dan buruk bahkan tak ada di pikirannya. "Yang penting, tua nanti aku tidak penasaran. Dan jika ada orang lain ada yang mau mencoba hal batil, aku bisa menahan dengan cerita pengalamanku sedetail-detailnya, pula mengajaknya berhitung segala resiko dan keburukkan yang akan menimpanya." begitulah prinsip Aksa si kepala batu ini. Meski begitu, dia tetap saja buta.
Rumit sih jika ingin dicari apa penyebab dirinya jadi begini, mungkin harus dicari dari akarnya. Trauma masa kecil? tak ada teman cerita? atau putus cintanya? atau memang prinsip dirinya yang terlalu cetek? Entahlah, kita akan tau semua itu nanti.
Aksa menjalani hidupnya penuh dengan prinsip template ketinggalan zaman itu, sampai suatu waktu dia menemukan teman baru. Dara namanya, mereka saling kenal karena pernah bekerja paruh waktu di kedai kopi yang sama. Dara merupakan seorang programmer yang mahir, membuat website, menangani bug server dan lain sebagainya merupakan hal biasa yang dilakukan Dara.
Meskipun sudah bukan lagi menjadi partner bekerja, mereka tetap menjalin hubungan pertemanan yang baik sampai saat ini. Suatu waktu mereka berjanjian di salah satu kafe tengah kota.
"Woi Dara, gw denger-denger gaji programmer oke juga ya? untuk anak-anak usia kita." Tanya Aksa. "ya lumayan lah. Ya freelance sih, tapi luamayan sekali buat website mungkin itu setara upah tiga bulan paruh waktu kita di kedai." jawabnya.
"GILA." Aksa kaget, dia berpikiran bahwa di usia nanggung begini belum bisa untuk mendapatkan pemasukkan sebesar itu. Ditambah lagi, Aksa merasa tidak berguna karena Dara perempuan tetapi matanya terbuka lebih lebar dibandingkan dirinya tentang jalannya algoritma dunia digital saat ini.
"Ya tapi tetep aja, lu kata buat website dan bahasa programming semudah lu ngomong 'GILA'?! ya ngga. Gw belajar beginian dari SMP, mungkin minat turunan juga dari bokap gw yang emang teknisi IT di kantornya." Dara memperjelas.
Dari situlah mata Aksa sedikit terbuka tentang menggilanya teknologi digital saat ini. Banyak sekali kesempatan tentang apapun dalam bidang digital. Gambar digital, buku digital, maintenance digital, semuanya digital.
Dia merasa dirinya mulai ketinggalan zaman karena sebuta itu dengan hal-hal yang berbau digital. Ditambah lagi bukan hanya Dara, teman-teman sekitarnya pun tanpa Aksa sadari merupakan orang-orang yang sudah mulai peka bahkan mengetahui potensi apa saja yang bisa didapatkan apabila kita bisa mengikuti zaman lebih baik lagi.
Meskipun belum sepenuhnya sadar karena sampai kini dirinya masih bingung langkah apa yang harus dia ambil mengikuti perkembangan signifikan ini? Apa yang akan dia lakukan? masihkah melanjutkan template nya orang-orang lama itu? Dari sini lah muasalnya.
*****
Keseluruhan akan ada di part-part selanjutnya.
Temu lain masa!
YOU ARE READING
Nirmala Setitik Garis Putih
AdventureKepolosan seorang anak yang hidup di tengah majunya teknologi, nihil terhadap melihat potensi, gagap dalam kemajuan, bagaimana dirinya hidup?
