Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
. . .
•Awal•
Hujan kini menemani Karina yang terduduk lesu di halte bus depan sekolahnya, dengan sesekali menghelakan nafas. Tubuhnya merinding akibat terpaan angin. Tangannya pun bergerak mengelus tubuhnya sendiri guna menghangatkan.
"Hei, kau sendirian?"
Karina hanya melirik kecil, tak ingin kepedean jika orang itu sedang mengajaknya bicara.
"Iya.. gue sendiri." Jawabnya cukup lirih. Suaranya mungkin terendam oleh hujan, namun sepertinya gadis itu paham apa yang dikatakan olehnya.
"Tidak di jemput?" Karina menggeleng, bagaimana dirinya dijemput? Orang tadi pagi Karina berangkat dengan orang yang sudah menjabat jadi 'mantan'.
Iya betul, Karina putus dengan Giselle- pacarnya. Mereka bertengkar hebat tadi, menyebabkan dirinya dan Giselle menjadi tontonan tersendiri bagi murid-murid sekolah. Sedangkan jika ia meminta jemput kepada sang ayah, atau anggota keluarga yang lain pasti tak bisa, keluarga sedang berada di rumah neneknya. Karina hanya sendirian di rumah.
"Karin, mau mampir ke rumahku?"
Karina tersentak kaget, "Lo tau nama gue?!"
Bukannya menjawab gadis itu hanya tersenyum tipis. "Tau kok. Jadi, mau mampir gak?"
"Gak usah, gue udah pesan gojek kok, bentar lagi sampe." Tolak Karina, gadis itu mengangguk mengerti.
Karina mengusap tangannya kembali yang terasa dingin akibat terpaan angin. Gadis disebelahnya yang peka pun segera melepaskan jaket yang ia gunakan, dan segera mengulurkannya kepada Karina.
"Ngapain?" Tanya Karina.
"Lo kedinginan, ambil!"
Karena tak kunjung di ambil, gadis itu pun bergerak memakainya ke tubuh Karina.
"Kalo gitu, gue pamit." Karina segera mencekal lengannya saat gadis itu hendak menerobos hujan.
"Hujannya masih deres, ntar Lo sakit."
"Gak bakal, rumah gue deket dari sini kok. Ya, cuma beberapa blok dari sini." Jelasnya.
Gadis itu kembali melangkahkan kakinya, namun terhenti saat Karina berteriak. Karina baru menyadari jika seragam gadis itu sama dengannya.
"Nama Lo siapa?!" Teriaknya.
"Kim Winter!"
✯✯✯
Kim Winter, gadis itu menghelakan nafas. Sekarang seragamnya jadi basah kuyup dirinya memilih berhenti di depan toko kelontong.
Melihat Karina sendirian di halte bus, membuat Winter mengurungkan niatnya untuk langsung pulang ke rumah. Ia memilih berhenti di halte, dan menemani gadis itu. Cukup senang, karena dirinya mendapatkan- setidaknya secuil interaksi dengan Karina.
Hari ini, Winter cukup bangga ke dirinya sendiri.
Kalau boleh jujur pula, sebenarnya rumahnya jauh dari sekolah. Ia hanya 'sedikit' berbohong karena tak mau membuat Karina khawatir. Winter pula, tak tau ini gang lewat mana supaya cepat sampai ke rumahnya. Ia sudah kedinginan sekarang.
"Kira-kira gojek nya udah dateng belum, ya?" Gumam Winter seraya menatap rintikan hujan, ia mengkhawatirkan Karina.
Sekarang Winter menyesal, seharusnya ia lebih lama di halte agar bisa menikmati moment lebih lama lagi bersama Karina, ya kapan lagi coba. Namun sayangnya, jantungnya tak bisa diajak kompromi, selalu saja berdetak kencang saat berada di dekat ataupun hanya membicarakan tentang Karina.