Hari yang begitu indah dan damai di pagi hari, jalanan kota yang tampak ramai dengan kendaraan kendaraan dan beberapa orang yang berlalu lalang di atas trotoar, seorang gadis berseluncur dengan skateboard miliknya beserta seekor kucing yang turut mengikutinya di belakang. Pakaian putih dan rok hitam yang ia kenakan adalah tanda yang mengatakan bahwa gadis itu adalah seorang santriwati di pondok pesantren yang cukup tersohor di sana.
Ia berseluncur sesekali melakukan atraksi saat menuruni tangga atau melewati beberapa orang yang berada di depannya, "MINGGIR?!!" Tuturnya dengan 'sopan' saat hendak melewati beberapa orang.
Kacamata hitam, jaket, dan celana olahraga merah dibalik roknya membuat dirinya mudah diperhatikan para pejalan kaki disekitarnya, tak lupa tampang sangarnya juga membuat orang orang memberikan jalan pada gadis itu.
Lathifah Eleora, si ketua kelas yang tegas dan agresif dikelasnya. "Meow!" Dan itu adalah Ice, kucing kesayangan miliknya, bulunya yang tebal dan seputih salju serta manik mata biru Aquamarine sudah cukup jelas alasan mengapa Lathifah memberi nama itu padanya. Bukan hanya penampilannya, kucing itu juga memiliki tatapan dingin dan tak terlalu suka kontak fisik kecuali dengan 'babu'nya.
Tak jauh didepan sana, "lu tau gak, kemarin pas libur panjang gua bareng keluarga jalan jalan kemana?" Tanya Katrina Inabella Haily, atau sebut saja Kinah pada temannya. "Ke surga?" Tebak Feliciamala Dhea, panggil saja Mala, dengan tatapan seriusnya.
"Eyes-mu! Lu kalo nebak anti-mainstream banget ya!" Kesal Kinah sembari memberikan tabokan 'kasih sayang' pada Mala.
"Woy kampret! kalo mau ngegosip jangan di tengah jalan?!" Teriak Latifah yang berseluncur begitu cepat menuju keduanya. Serentak Kinah dan Mala menengok kebelakang, "WAAAAARRGHH?!" Teriak mereka histeris.
"Awas!" Seorang pria dengan seragam SMA berlari dan berdiri di depan dua santriwati itu sembari merentangkan kedua tangannya, pria itu menutup mata tatkala Lathifah akan datang menabraknya.
*Ckiiit*
Namun bukannya tabrakan yang terjadi, Lathifah dengan mudah menghentikan papan seluncurnya. Diam terjadi pada tempat ramai itu, pria itu berbalik dan menatap canggung kedua santriwati yang tadi berteriak histeris. "Kalian gak papa?" Tanyanya yang masih mencoba memberikan senyuman pada wajahnya.
"Iii..." Kata Kinah cengo. Melihat temannya yang berdiri kaku menatap pria di depannya Mala menabok Kinah dan 'keajaiban' terjadi. "Iya gak papa kok, ganteng!" Latahnya karena mendapatkan tabokan tiba tiba dari Mala.
Lagi lagi sunyi terdapat pada tempat ramai itu, hingga...
"WOY DUGONG! JANGAN NGALANGIN JALAN DONG?! Teriak Lathifah menggelegar. "Oh! I-iya" pria itu menyingkir dari jalan, mempersilahkan Lathifah berseluncur dengan skateboard-nya. "Kalian, awas aja kalo sampe terlambat nanti!" Ucapnya melenggang pergi dari tempat itu.
"Lah iya, sekolah?!" Ingat Mala yang tadinya terlupa. "Lu kira kita mau ke sawah pake baju kayak gini?" Kinah menimpali. Keduanya pergi menyusul Lathifah membiarkan pria yang masih terdiam di tempatnya.
Masih dengan trotoar, seorang gadis baru saja keluar dari komplek perumahan dan berlari menuju sekolahnya, "kak! Chia pamit ya?! Assalamualaikum!" Teriaknya pada sang kakak tertuanya, Ryan.
"Minggir lu?!" Gadis itu menegur Reza, remaja dengan seragam SMP yang tinggal di sebelah rumahnya, alias tetangganya.
Reyna Tia Chiara, gadis itu berlari mendahului Reza yang tadinya bersiap pergi ke sekolahnya. "Dih, nantangin?" Seringai pria itu dan berlari menyusul Chiara.
"Lah- Loh?! Tu-tuan tunggu! Nanti tuan terlambat?! Aduh... Gimana ini..! Kalo nyonya tau bisa diomelin aku!" Keluh pak Wawan, si supir pribadi Fahreza dan saudara kembarnya Fahrezi. "Udah biarin, ntar susul di gerbang ponpes aja." Ucap Rezi yang sibuk dengan video game miliknya.
YOU ARE READING
Santri Putri
HumorMenceritakan kisah 1 tahun terakhir mereka di pesantren. kelas (B), kelas yang dicap buruk dari 5 tahun lalu oleh penduduk pesantren bahkan wilayah sekitarnya hanya karena sebuah insiden yang menggemparkan kota. Kini mereka memasuki kelas 12, apakah...
