Bab 1. Melati Niken Sari

60 11 19
                                        

Hutang keluarga menjadikan kepribadian Lala, nama panggilan Melati Niken Sari berubah. Remaja yang berasal dari kota Purwokerto, Jawa Tengah tersebut menjadi suka diam dan melamun. Di saat yang sama, ia sedang berusaha menyelesaikan kuliah di Universitas Bina Bangsa. Fakultas Psikolog menjadi pilihannya, bahkan saat ini ia sudah semester tiga.

Lala tidak seberuntung anak lainnya. Ia sudah tidak memiliki Ayah. Ibunya juga mulai sering sakit. Gadis itu harus bisa mandiri di kota besar Jakarta. Ibunya tetap bersikukuh agar Lala bisa menyelesaikan kuliahnya untuk memenuhi permintaan terakhir mendingan suami.

Lala tak ingin menjadi beban bagi ibunya. Ia menjadi asisten dosen untuk bisa mengurangi biaya kuliah. Gadis tanpa ekspresi itu tak mengenal lelah dan pantang mengeluh untuk usaha yang ia geluti.

Hobi menulis Lala juga bisa tersalurkan selama ia mengenyam pendidikan di jenjang ini. Ia sangat suka menulis cerita anak. Entah mengapa ia sangat suka dengan buku anak. Ia bisa menuliskan apa saja yang ingin ia lakukan dengan ayahnya dalam buku itu. Berawal dari hobi, akhirnya menjadi salah satu profesi yang digelutinya.

Kampus yang memiliki fasilitas cukup lengkap sangat mendukung terhadap usaha Lala untuk bisa menjadi psikolog. Memahami karakter satu per satu orang mulai dipelajari. Sesi konsultasi yang melelahkan pun dilalui. Memang bukan tugasnya, ia hanya menjalankan perintah sang dosen. Pikiran Lala, ia mendapat ilmu gratis dan pengalaman baru. Jadi kenapa tidak?

Bu Anga selalu meminta bantuan Lala untuk bisa menyelesaikan beberapa keperluan ajar juga tugas untuk para mahasiswanya. Bu Anga cukup puas dengan hasil kerja gadis tanpa ekspresi itu, meskipun terkadang wanita paruh baya itu kesal akan ekspresi Lala. Seperti saat ini, Bu Anga sedang ada keperluan rapat mendadak ke rektorat. Lala diperintahkan untuk mengajar dan memberikan tugas kepada mahasiswanya, tetapi Lala tak segera merespon Bu Anga terlebih ekspresinya itu seolah ia tak perhatian akan apa yang dikatakan dosennya itu.

"Lala dengerin atau ngelamun, sih? Ibu nggak bisa tahu maksudmu, kalau selalu memberikan ekspresi seperti es batu!" ucap Bu Anga.

Lala hanya diam, tatkala Bu Anga mengomel. Lala sudah terbiasa akan keadaan itu. Ia hanya akan mengeluh, jika usahanya sedikit pun tak membuahkan hasil. Keadaan keluarga membuatnya kuat.

Sewaktu almarhum ayahnya masih hidup, ia terbiasa bertemu penagih hutang yang kasar bahkan kejam terhadap mereka. Mereka tak segan menagih sambil teriak-teriak membuat tetangga berhamburan datang. Ada juga yang mengambil perabot rumah yang berharga. Hal tersebut tentu membuat trauma bagi ibunya. Hal itu pula yang membuat Lala menjadi dingin.

Omelan Bu Anga tentu bukan hal yang besar menurut Lala. Ia hanya mengangguk perlahan, jika Bu Dosen sudah mulai tinggi. Bu Anga kerap bernada tinggi, tetapi jauh di lubuk hatinya ia juga mengagumi sosok Lala yang mampu bertahan dengannya. Setiap mahasiswa yang menjadi asisten dosennya paling lama bertahan sampai satu bulan. Berbeda dengan Lala yang sudah hampir 3 bulan mendampingi wanita paruh baya itu.

Keahlian memasak Lala juga kerap membuat Bu Anga senang. Ia sangat menyukai makanan rumah. Lala sering membagikan bekalnya ke Bu Anga. Kerja Lala juga bagus dan tepat.  Banyak hal yang ia kagumi, tetapi ia sembunyikan dari anak didiknya itu.

"Ngajar lagi, La? Emang Lo, sampai kapan bertahan ama tuh, Dosen?" Kemi bertanya sambil terus berjalan.

Ekspresi Kemi kesal bukan main melihat Lala membawa tumpukan buku. Lala hanya diam tak membalas apa yang dilontarkan teman dekatnya itu.

"Kapan Gue mau lo ajak ke kosan, La?" Kemi kembali bertanya. Kali ini Lala melihat ke arahnya dan menatapnya dengan intens. Perempuan berwajah imut dengan ekspresi kulkas itu hanya menatapnya sesaat.

"Belum waktunya," ucap Lala.

"Kapan, dong?" Tiba-tiba Kemi merajuk, hal itu membuat Lala tak tahan untuk tertawa terbahak. Justru tawa Lala membuat Kemi heran bukan main.

"Emang ada yang lucu ya, La?" Lala hanya menggeleng dan masuk ke gedung A1 untuk melanjutkan aktivitasnya.

Kosan Lala memang terkenal dengan banyaknya cowok ganteng nan maskulin. Wajah-wajak idol Korea berhamburan di indekos Lala. Kemi sangat ingin berkenalan dengan anggota indekos. Niatnya tak bersambut. Lala selalu menolak.

Lala sebagai penghuni kamar indekos Bu Endang lantai dua agak protektif dengan orang-orang yang ingin berkenalan dengan teman indekosnya. Lala tak sembarangan mengajak temannya bahkan teman dekatnya untuk sekadar mampir sejenak. Ia sudah menganggap anggota indekos layaknya keluarga sendiri.

Menjelang sore, baru Lala pulang. Ia menenteng belanjaannya. Ia mau memasak sayur asam, tempe goreng, ikan asin dan sambal. Entah kenapa ia ingin memakan makanan yang segar dan pedas. Mungkin reaksi hormon akan datang bulan membuat Lala ingin makanan pedas dan segar. Ia melihat ke arah kamar Mbak Uci yang berada tepat di depannya. Saat tak bertemu siapa pun Lala kemudian melangkah masuk ke kamarnya. Mbak Uci salah satu anggota kosan yang sangat cantik dan menawan. Ia adalah primadona indekos.

Lala melepas hijabnya dan merebahkan tubuh lelahnya sejenak. Ia kemudian berganti dan turun lagi untuk memasak. Tentu saja ia harus bertemu dengan penghuni indekos lantai satu yang notabene cowok. Ia agak ragu untuk turun, tetapi perutnya sudah tak tahan lagi. Selesai memasak ia membawa makanan secukupnya ke atas. Ia terbiasa memasak dengan porsi banyak. Ia tak segan menawarkan masakannya ke anggota indekos lainnya. Biasanya jelang malam, masakannya sudah ludes.

Menikmati sayur asem dengan lantunan musik dari Jin BTS membuatnya damai. Lagu Ephipany menemaninya menyantap hidangan makan malamnya. Sesekali ia menghela napas panjang. Ia sangat mengagumi Jin BTS. Ia begitu mengagumi wajah sempurna Jin dan kerandoman salah satu anggota BTS itu. Satu yang menjadi kekagumannya adalah Jin sangat kreatif dan komunikatif, hal itu yang ingin ia tiru.

Mencintai diri sendiri itu yang selalu ia tanamkan dalam benaknya. Ia harus bisa berdamai dan mencintai dirinya sendiri. Bukankah itu juga sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah. Ia memang suka menutup diri dalam kamar sambil memasang headset dan mendengar lagu BTS dengan keras.

Aktivitasnya terhenti ketika mendapat notifikasi di ponselnya. Ibunya sudah mulai sehat kembali. Gadis itu menunduk dan meneteskan air mata bahagia. Ia hanya memiliki Ibu dan Oni. Merekalah penyemangat terbesar Lala untuk tetap bertahan dalam hiruk pikuknya tinggal di kota besar.

Malam hari adalah dunia Lala. Saat itu ia bisa mengekspresikan semua hal tentang dirinya, harapannya dan juga keinginannya dalam tulisan. Terlebih jika esok hari libur, ia akan betah berada di depan laptop untuk membaca dan juga menulis.

Terkadang orang terkecoh akan sikap dingin Lala, jika ia melihat wajahnya yang imut, orang tak menyangka jika ia sangat dingin. Ekspresi marah Lala bahkan terlihat sangat lucu sehingga orang kadang salah mengartikan.

Malam ini Lala sangat lelah. Ia hanya membolak-balik badannya. Kantuk tak kunjung menghampiri. Sempat terpikir mau makan lagi, tetapi ia tak berani. Ia sangat menjaga pola makannya, setelah terkena sakit anemia. Gadis itu masih menyibukkan diri untuk bisa tertidur. Ia membaca buku, berolahraga bahkan menulis satu cerita pickbook. Alhasil, kantuk tak kunjung datang.

Lantai bawah masih terdengar ramai sampai lantai dua. Suara Bang Naka, Yoyo, Mas Wisnu, Mas Lanang, Iqbal, Ilham sesekali terdengar, meskipun sayup kemudian hening. Perhatian Lala kemudian tertuju kepada buku kecil dzikir berwarna biru muda. Ia buka baca dan rasa kantuk tiba-tiba mulai menyerang, meskipun ia belum bisa tertidur. Gadis itu kemudian mengambil mushaf Al-Qur'an berwarna ungu muda. Ia baca sampai akhirnya ia terbuai mimpi indah.

Suara telepon mengusik kedamaian mimpi Lala. Tepat pukul satu dini hari, Kemi meneleponnya. Gadis itu tak segera mengangkatnya, meskipun dering telepon sahut menyahut. Baru menjelang pukul empat, Lala buka notifikasi ponselnya. Ia membulatkan mata sempurna mengetahui jika Kemi kecelakaan dan sekarang berada di rumah sakit.


3MWhere stories live. Discover now