1.Awal dari Segala Masalah

1 0 0
                                        

Terasa embusan angin dari kipas angin yang berputar di atas kepala ini. Suara riuh siswa mengobrol menyadarkanku bahwa aku masih di sekolah, membuyarkan lamunanku tentang kasus yang terjadi semalam, mendengarkan cerita itu saja membuat ku merinding, apa lagi membayangkan jika itu terjadi padaku huh.. Tak sanggup kurasa.

Akhir-akhir ini di kota Bangka banyak sekali peristiwa- peristiwa aneh yang terjadi, mulai dari teror suara aneh yang muncul di malam hari, sampai banyaknya kasus kematian yang disebut-sebut sebagai kasus bunuh diri Bangka, katanya sih karena polisi tak menemukan bukti yang kuat bahwa ini pembunuhan, tetapi banyak yang percaya ini bukan bunuh diri, sebab dalam beberapa bulan sudah ada 10 orang dengan cara kematian dan keadaan yang hampir sama.

"Eva lo dengar gw enggak sih?" Kata teman di sebelahku dengan kesal.

"Heh iya maaf, tadi lagi ngelamun." Jawabku.

"Makanya jangan ngelamun mulu sih Va, yang ada nanti kepala lo botak karena banyak pikiran wkwk." Katanya dengan nada meledek.

"Enggak mungkin lah, lebay banget," kataku tak percaya.

"Tapi menurut lo saja banyak orang yang ditemukan tak bernyawa di pinggiran laut saja itu aneh apalagi berturut turut dalam waktu dekat. Apa ini memang ada hubungan nya dengan kutukan 100 tahun yang menghantui perairan bangka pulau kita?" Tanya Linda kepadaku.

"Aneh-aneh saja lo Lin, mungkin saja kan itu kecelakaan apa lagi akhir-akhir ini cuaca di sekitar perairan kitakan lagi enggak kondusif." Kata ku membantahnya.

Beberapa saat bunyi bel berbunyi tanda jam istirahat telah berakhir. Tampak sesosok guru yang kukenal memasuki kelas kami. Ia merupakan guru sejarah di sekolah kami, aneh jika siswa-siswa di sini tak mengenalinya, ia terkenal karena guru muda dan ganteng di kalang para siswi sekolah kita, tak sedikit pula siswa yang mengaguminya.

Materi pertama yang ia jelaskan kali ini kebetulan adalah sejarah pulau kami, banyaknya masalah di perairan pulau yang bernama bangka ini membuatku penasaran dengan sejarah di baliknya. "Sebelum kita mulai materi tentang Pulau Bangka, apakah ada pak Ares. yang tahu a arti kata Bangka' dan asalnya," Kata apa

"Tidak pak, emangnya artinya apa?" tanya salah satu siswa.

"Kata Bangka jika dilihat dari masa penjajahan Belanda berasal dari kata Wanka atau Vanka yang berarti timah, ini sesuai dengan banyak nya penghasil timah di kota-kota yang ada di bangka," jelas pak Ares.

"Pak boleh saya bertanya?" Angkat tangan salah satu siswa bernama Agel.

"Ya, tentu saja Agel apa yang ingin kamu ketahui?"

"Tapi pak selain itu saya pernah dengar bahwa ada

makna lain dari kata bangka, dan juga sudah ada sebelum masa

penjajahan belanda?" Kata Agel bingung.

"Ya, kamu benar Agel kata bangka sudah ada sebelum masa penjajahan belanda dan tentu saja di artikan berbeda beda sesuai pada masanya, salah satu makna yang dikenal adalah pada masa dinasti Ming yang berasal dari kata "Ma-yi-dong" atau "Ma-yi-tung", kata ini merupakan julukan para pedagang arab yang berdagang di lautan bangka pada sekitar masa 1368 sampai 1648 yang diartikan Mayit," Kata pak Ares dengan serius.

Salah satu anak menyeletuk,

"Pak bukankah arti mayit berarti mayat jika dalam bahasa arab,"

"Pintar. tapi pada masa itu kata "Bangkai" lebih digunakan karena lebih terdengar bagus"

"Kenapa harus kata bangkai yang digunakan pak??

Kata ku ikut bertanya.

Dengan muka serius dan mengerutkan dahi, "Menurut legenda serta sejarah di perairan Bangka selama lebih dari ratusan tahun laut Bangka banyak memakan korban para pedagang yang berlayar di sekitarnya, ini dapat kalian lihat dari banyaknya puing-puing kapal karam di sekitar pulau kita ini. Hal ini diperparah dengan mitos bahwa selama masa penjajahan Belanda dan Jepang banyak Mayat korban perang yang di buang di perairan bangka."

"Apa ini ada hubungannya dengan kasus akhir-akhir ini menurut bapak?" kata linda bertanya pelan. "Ya kita tidak tahu, mungkin arwah yang tenggelam di laut bangka mengamuk," Kata pak Ares dengan nada bercanda. Setelah pertanyaan itu pak Ares mulai menjelaskan materi sejarah lainya. Perkataan Pak Ares terngiang-ngiang di kepalaku, apa mungkin legenda itu benar, arwah marah dan mengutuk penduduk yang tinggal di sekitar laut tersebut, ya tapi tak ada yang tahu. Setelah untuk beberapa saat tidak fokus pada pelajaran aku mulai mendengarkan penjelasan pak Ares kembali. Tak berselang lama bunyi bel terdengar.

Sambil membereskan buku di mejanya,

"Oke anak-anak pelajaran kita sampai di sini dulu nanti di rumah pelajari lagi ya, sekian dari bapak terima kasih."

Bunyi bel menandakan waktu pulang, Eva mengambil tasnya lalu berjalan menuju Parkiran motor, melirik motor satu persatu lalu menuju ke arah motornya. Ia menaiki motor nya dan berjalan perlahan melewati gerbang menuju ke arah rumahnya, jarak antara sekolah dan rumah Eva tidaklah terlalu jauh hanya sekitar 15 menit dengan kecepatan normal untuk sampai di rumahnya. Rumah Eva tidaklah terlalu besar terlihat suasana rumah yang sedikit kosong dan tak terlihat satu orang pun berada di dalamnya mungkin saat itu orang yang ada di rumahnya sedang keluar karena ada keperluan tertentu.

Ketika ia sampai di depan rumah dan memarkirkan motor lantas berjalan masuk mengetuk pintu, tetapi tidak ada yang menjawab. Ia membukanya dan langsung berjalan ke arah kamarnya di sana terlihat banyak sekali foto-foto kenangan masa lalunya tertempel di dinding salah satunya ada suatu foto yang mencolok terlihat dia dan seorang pria remaja berada di sampingnya dengan senyum yang ramah.

***

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: May 04, 2023 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

KATTARAStories to obsess over. Discover now