Innocent Laugh

1.2K 2 1
                                        

Jam dinding dengan corak coklat klasik yang bertengger pada dinding berwarna putih menunjukkan pukul 11.27 malam hari. Sekumpulan mahasiswa yang kira-kira jumlahnya belasan orang itu baru saja keluar secara bersamaan dari ruangan yang berada di sebuah cafe. Rapat telah diakhiri.

Tersisa tiga orang remaja kuliah yang terpaksa tidak ikut pulang bersama yang lain. Rena, Viola, Anaya, serta satu laki-laki dari kampus yang sama namun organisasi yang berbeda, duduk tak jauh dari tempat ketiga perempuan tersebut.

Hari ini adalah hari terakhir sebelum esok hari, penyerahan nama calon ketua organisasi yang baru diserahkan kepada pihak kampus.

Mereka bertiga selaku Tim Perumus, harus merapikan notulensi dari Rapat Musyawarah hari ini sebelum diizinkan pulang kerumah. Tujuannya supaya apa yang tadi belum diselesaikan, bisa segera diselesaikan tanpa perlu ditunda-tunda lagi.

Tadinya seperti itu niat mereka-

Sebelum Rena memasukkan laptop, buku, serta alat tulisnya dengan cepat, dan berkata, "Duhhh... udah malem banget, aku harus pulang. Kalau lebih malem lagi bisa-bisa pintu rumah keburu dikunci." ucapnya dengan gelisah. Rena Eartha Salim adalah anak rumahan, wajar jika ia tidak sebebas mahasiswa rantau yang tinggal di kos. Herannya, Tim Perumus beranggotakan mahasiswa yang tidak tinggal di kos seperti mereka bertiga.

"Eh kok pulang duluan sih Ren, gue ikut. Anterin gue kerumah sekalian." 

Melihat Rena yang bersiap pulang meninggalkannya, Dea kemudian juga ikut membereskan barang-barangnya. 

"Terus ini gimana?" Suara kesal Anaya Fransesca terdengar ketika ia melihat kedua teman satu divisinya itu hendak meninggalkannya. Moodnya langsung turun seketika.

"Duh sorry Nay.. kali ini aku duluan... aku udah dimarahin." Jawab Rena tanpa menatap Anaya sedikitpun, ia masih fokus membereskan barang-barangnya yang berserakan tak tentu.

Anaya mulai marah. Ia tak apa jika Rena harus pulang mendahuluinya, karena Anaya sendiri paham apa yang dirasakan perempuan itu jika pulang larut. Ia akan dimarahi habis-habisan oleh orangtuanya. Namun Dea? Perempuan asal Jakarta yang selama rapat kerjaan nya hanya Live Streaming di aplikasi Instagram itu kenapa harus ikut meninggalkannya juga?

"Gue kan berangkat bareng Rena, gue juga pulang bareng dia. Duit gue abis buat beli makan seharian disini, jadi gue nebeng." Ucap Dea yang menjawab pertanyaan Anaya dengan santai sembari ia memasukkan selembar note kecil berwarna kuning, ponsel, charger, dan barang bawaan lainnya.

"Nanti aja, pulang bareng aku kalau gitu. Bantu selesaikan tugas kita dulu.." Meskipun kesal, namun Anaya tampak gelagapan jika harus ditinggal sendirian. Tak ada siapa-siapa lagi disini, semuanya sudah pulang daritadi. Sedangkan anggota organisasinya yang lain meminta tugas diselesaikan malam ini juga.

"Duh Nay, sorry banget... tapi gue gabisa, sorry."

"VIOLA MARGARETH!! DASAR PEREMPUAN BIADAB!" Pekik Anaya dalam hati. Anaya tak lagi bisa sabar, raut diwajahnya berubah menunjukkan raut kekesalan yang luar biasa. Hal ini tak sekali dua kali dirasakan olehnya, ini sudah berulang kalinya. Namun setiap kali Anaya melapor pada ketua organisasinya, dia hanya diberi jawaban, "Ya sudah, kalau dia tidak bisa, kamu aja yang back-up duluan."

Tak ingin berdebat, akhirnya Anaya membiarkan kedua perempuan itu pergi. Anaya hanya bisa mengamati langkah kaki keduanya yang perlahan menjauh.

Waktu sudah begitu larut, dan Anaya belum menunjukkan tanda-tanda untuk segera pulang. Masih banyak yang perlu disusun dan diketik. Rapat hari ini benar-benar menghabiskan energi dan juga uangnya. Banyak sekali komentar dan kritik yang diberikan oleh anggota organisasinya terkait calon kandidat ketua baru yang telah terpilih, yang harus diketik ulang dengan rapi dan harus selesai malam ini juga.

Secret PurposeWhere stories live. Discover now