Bab I

2.4K 19 0
                                        

Biasan matahari melesik masuk ke sela-sela gorden kamar tidurnya. dan tentu saja itu membangunkan si empunya yang sedang terlelap, padahal sudah pukul 7.35 pagi.

hembusan nafas hangatnya menerpa tengkuk leher jenjangnya. berhasil membuat bulu kuduk ini meremang, tapi bukan karena takut. justru sebaliknya.

kini posisi mereka saling berhadapan, yaa pria tampan dengan wajah tegas, di hiasi hidung mancung menantang, mata hitam legam. serta bulu mata lentik miliknya, bibir penuh kemerahan semakin menambah kesempurnaan pria itu. yang tepat di depan wajah dengan jarak beberapa cm, dengan masih memejamkan mata yang mungkin saja sedang bergelung dalam mimpinya. sehabis peperangan panas semalam.

tanpa sadar pipi wanita itu langsung memanas, Bulshing. 

Haiss..

sudahlah lebih baik ia mandi saja. daripada memikirkan yang iya-iya terus.

OH MY GOOD!! HELP!!! Rani menjerit kecil.

tak kala melihat seonggok pedang, eeh bukan samurai yang membentang dengan gagahnya. sumpah salah banget ini, pake angkat selimut!! tapi guedeee banget cuy! lagi, ia membatin penuh kagum.

dan entah keberanian darimana. perlahan tapi pasti, jemari lentiknya kini sempurna menggenggam inti tubuh prianya yang hangat. mengecup kecil serta membelai dan melumatnya sesekali dengan penuh kenikmatan. seperti sedang memakan lolipop. tidak henti mengocok pelan benda pusaka yang menegang itu mengimbangi gerakan mulutnya yang naik turun, matanya sayu dipenuhi kabut gairah. yang siap meledak bersamaan.

tanpa ia sadar pria yang sedang ia jamah sepihak itu sudah tersadar dari alam mimpinya. "Kau tau.. "

"semuanya sangat biasa, tapi itu luar biasaa.. " bisiknya dengan suara serak nan tampan.

mendengar pujiannya, entah kenapa wanita bernama Rani itu semakin ingin memberikannya lebih. urat-urat yang menonjol di sekitaran penisnya semakin menambah sensasi yang luar biasa nikmat dalam rongga mulut wanita cantik ini.

"Hmm.. apa yang sedang kau bicarakan? itu sangat aneh," tanyaku menatap matanya sekilas, seraya merangkak naik, meraih puting dan dada bidangnya yang bebas.

"tiba-tiba aku semakin tidak ingin melepaskanmu.. " tangan kekarnya semakin menarik pinggang rampingku mendekat, hingga tubuh naked kami saling bersentuhan. hangat dan dingin secara bersamaan.

Rani meraih Tangan kekarnya mengarahkan tangan yang satunya untuk menyentuh liang surgawi yang sudah basah, dan dengan rakus pria itu terus menghisap putingnya,  memainkan klitorisnya yang sudah tegang karena berhasrat dengan jari-jarinya. Ah miliknya terasa semakin basah, langsung ia masukkan jari tengah dan telunjuknya masuk kedalam lubang milik Rani.

"aaahhh ,Lian.. ini sangat enak kocok yang kencang pak" desahnya semakin keenakan, dan menutup matanya. Kata-katanya membuat Lian semakin liar, dan jemari tangannya mengocok semakin cepat didalam miliknya.

Tubuhnya meregang semakin keenakan dan desahannya semakin kuat, suara basah miliknya yang dikocok memenuhi kamar, Lian melumat lagi bibir ranum Rani agar desahannya tidak terlalu kencang.

"kau dengar suara becek milikmu yang sudah menahan hasrat padaku selama ini?" bisik Lian ditelinganya sambil menghisap rakus telinganya.

merasa tidak tahan lagi, dengan mudah Rani meraih penisnya yang sudah menegak sempurna. "dan saat ini membesar, itu terlihat sangat enak bukan!!"

Eengghh..

"kau tau.. sesaat setelah aku membuka mataku, aku akan memasukkannya ke mulutku. dan saat aku melihat matamu dengan dekat. aku ingin membuatmu merasa lebih baik," ucap Rani seraya menghujami seluruh wajah tampannya dengan kecupan kecil.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Sep 09, 2023 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

About "Hold on" ?Where stories live. Discover now