Semilir angin membelai dedaunan, menghasilkan nyanyian alam yang syahdu saat daun-daun itu saling bergesekan, menghantarkan rasa nyaman di sore hari kepada para pengunjung taman kota.
Kecuali kepada seorang laki-laki yang tengah terduduk dengan tubuh gemetar di bawah pohon cherry.
Kepalanya tenggelam disela-sela lutut, tangis lirih sesekali terdengar.
Maureen Nathanael, mahasiswa tata boga yang baru saja memergoki kekasihnya melamar mesra perempuan cantik di pinggir jalan. Perempuan itu tampak sangat bahagia, sehingga Nathanael tak kuasa menghentikan moment itu, atau bahkan hanya sekedar menampar Louis Edguardo, yang sekarang telah menjadi mantan kekasihnya.
Nathanael berlari sekuat tenaga, lalu di sinilah dirinya berada.
Jari-jari berisinya mengusap air mata, memaksakan diri bangun untuk kembali ke apartemennya.
Meski dipandangi aneh oleh orang-orang di taman, Nathanael memilih acuh.
***
Lima hari berlalu sejak kekasih- tidak, maksudnya mantan kekasih brengseknya melamar seorang perempuan. Saat pulang ke apartemen juga, Nathanael mendapati pesan di ponselnya bahwa Louis memutuskan hubungan mereka.
Tanpa ragu, laki-laki chubby itu menyetujuinya, dan memblokir nomor Louis. Membuat Louis sedikit kaget dengan respon Nathanael yang diluar perkiraan.
Karena, Nathanael itu seperti bayi besar, selalu manja, tersenyum dan merengek bagai anak kecil. Wajahnya bulat dengan gingsul dan pipi sehalus kulit bayi, kadang merona saat digodanya.
Namun, belakangan ini, Nathanael bukan lagi tipenya. Louis ingin sosok yang 'matang' untuk diajak berumahtangga. Maka dari itu, Louis menerima seorang wanita yang dijodohkan ibunya. Tanpa mempertimbangkan keberadaan Nathanael yang sudah menemaninya selama delapan tahun.
Rasa sedih memang ada sedikit, tapi itu segera pudar saat Louis sadar akan pernikahannya yang tinggal dua minggu.
Berbeda dengan Louis, Nathanael saat ini sudah menghabiskan botol soda ke sebelasnya. Bungkus keripik kentang yang dia makan tiga hari lalu berserakan, bersatu dengan tumpukan novel-novel romansa. Kamarnya itu, kini lebih mirip kapal pecah.
Nathanael berbaring di ranjang, jari-jarinya menggulir layar, memperhatikan novel-novel yang akan dibelinya.
"Merpati Putih Pembawa Surat Cinta"
Novel yang penjualannya menduduki peringkat kedua paling banyak, ulasan dari pembaca yang kelihatannya menggebu-gebu, menginginkan kematian lebih tragis untuk Nathanae- Oh, maksudnya Nathaniel, si antagonis dalam cerita.
Nathanael memutuskan membeli satu buah novel itu, menunggu setengah jam untuk sampai di depan pintunya.
🦋🦋🦋
"Apa, sih, ini?! Kenapa Nathaniel menderita sedemikian rupa? Padahal dia di sini juga korban kelicikan pangeran keempat yang brengsek itu! Arghh ... Aku kesal!" teriak Nathanael frustasi, sudah dua hari dua malam dia membaca novel itu tanpa henti.
Bahkan, saat pergi ke kamar mandi untuk buang air, novel itu tetap dibawa.
Nathaniel, Starly yang berasal dari Negeri Rizelle, Negeri yang terkenal dengan anugerah dari Dewi Rairy, sang dewi bintang. Kecantikan luar biasa dan kelemah lembutan penuh kasih sayang menyertai mereka, itu di karenakan para leluhur Negeri Rizelle sangat menjaga alam sekitar. Sehingga Rairy tersentuh. Maka turunlah anugerah itu.
Seluruh masyarakat Rizelle begitu di dambakan pria mau pun wanita dari Negeri lain, dapat menikahi mereka dianggap membawa banyak berkat.
Masyarakat Rizelle juga punya kemampuan menumbuhkan tanaman, seperti peri, akan muncul serbuk berwarna kuning keemasan dari jari-jari mereka ketika menyembuhkan atau menanam tanaman.
DU LIEST GERADE
[BL] Beauty from Rizelle
FantasyMaureen Nathanael yang sedang patah hati membaca sebuah novel tentang perselingkuhan sampai puas, dia mencari novel yang menceritakan betapa mengenaskannya nasib seorang peselingkuh. Namun, karena selama lima hari dia hanya menangis, membaca novel...
![[BL] Beauty from Rizelle](https://img.wattpad.com/cover/335704553-64-k560836.jpg)