Sengaja di-up di sini. Selain biar awet, siapa tau bakal ada yang baca kegabutanku. Hehe.
Happy Reading 💜
🕊
__
Suara-suara saling bersahutan, hiruk pikuk kian bertambah ramai. Mata mereka mencari wajah-wajah yang sekiranya mereka kenal. Orang-orang yang datang dari jauh memenuhi tempat ini. Kapal yang bersandar di pelabuhan pada hari kamis di setiap minggu membiarkanku melepas rindu. Lautan lepas membawa mereka menuju ke tempat tujuan, tapi tidak sedikit yang tak pernah sampai. Di saat orang-orang melepaskan trauma dengan menjauhinya, aku malah selalu mencari mereka. Siapa yang tau, bisa saja orang yang aku tunggu tiba-tiba muncul di antara desakkan orang yang keluar dari kapal.
Seolah tidak ada putusnya, kumpulan manusia itu terus membludak setiap menit. Aku di sini sejak dermaga hening hingga seperti lapangan konser. Tidak ada yang aku lakukan, hanya menatap laut dan alam yang saat itu sedang berada pada spectrum warna biru muda.
Seorang wanita muda menggandeng dan menarikku keluar dari kumpulan buruh² yg membantu mengangkat barang. Saat itu aku berusia tujuh tahun. Tempat yang kami datangi cukup ramai, tapi tidak seramai tempatku dulu. Orang dengan wajah baru selalu mendatangi tempat kami. Sesekali ada yang menggoda dengan memberi permen dan menyuruhku meninggalkan ibu bersama mereka. Aku tidak suka, senyum ibu berbeda saat menatap mereka dan saat bersamaku. Dan itu membuatku ingin membawa ibu pergi jauh. Seperti sekarang, tidak ada yang mengalahkan kesenanganku hari ini. Akhirnya ibu benar-benar memilih pergi bersamaku.
"Ibu, aku ingin membeli stik dengan ember kecil itu. Yang ada krim cokelat dan sering kita beli saat di tempat bus itu." Aku sedikit merengek sambil menarik ujung baju ibu.
Ibu menoleh, tidak lupa dengan senyumnya yang manis itu. Aku rasa ketika dewasa aku juga akan secantik ibu. "Kamu mau berapa? Hari ini kita boleh beli banyak." Ibu mendekatkan wajahnya dan mengusap kepalaku dengan lembut.
"Benarkah? Tapi, bukankah aku tidak boleh makan itu terlalu banyak? Nanti gigiku akan dicabut dokter, bu. Kita beli satu aja, deh."
"His, sayang sekali. Padahal ibu bawa banyak uang hari ini."
Ibu terlihat kecewa, tapi aku takut dokter dan tidak ingin menemui mereka lagi.
"Hari ini kita bebas, Ira boleh beli apa aja. Kita akan borong stik hari ini. Ira gak boleh menahan diri. Kalau om dokter mau cabut gigi kamu, nanti kita gigit tangannya dan kabur. Bagaimana?"
"Benarkah? Beneran boleh, ibu?" Aku girang dan langsung berlari menghampiri bibi yang membawa dagangan.
Ibu memasukkan semua stikku ke dalam tas setelah memborong banyak tadi. Yey, aku benar-benar senang. Setelah sampai ke rumah, aku akan langsung menghabisinya.
Karena sudah terbiasa dengan keramaian, aku jadi tidak takut saat ditinggal sendiri. Ibu bilang dia akan kembali setelah mengambil beberapa tas yang tertinggal di kapal. Ibu juga memberi sebuah kertas dan menyuruhku memberikannya kedapa seseorang yang nanti mendatangiku. Aku tidak tahu membaca, jadi kertasnya aku simpan saja di dalam tas.
Dua gelas stik berukuran sedang sudah aku habiskan, dan gigiku mulai terasa sakit. Aku meneguk sebotol air mineral yang tadi ibu tinggalkan tau² aku kehausan menunggunya. Katanya tidak akan lama.
Matahari sudah terik, biasanya di tempatku sebentar lagi masjid akan berbunyi jika panasnya sudah seperti ini. Kuhentakkan kaki di tumpukan pasir di dekat trotoar tempatku duduk, lelah menunggu ibu terlalu lama. Beberapa kapal bahkan sudah pergi. Aku ingin mendatangi ibu ke sana, tapi takut kalau ibu ke sini dan aku tidak ada. Itu akan membuat ibu cemas. Jadi, aku terus menunggunya di sini.
Kini pohon-pohon sudah melindungi cahaya matahari mendatangiku. Air botol sudah habis, dan aku merasa haus. Kusisakan satu gelas stik untuk ibu, dia pasti lelah setelah membawa barang kami. Aku terlalu kecil untuk membantunya.
Seorang ibu tua berjilbab mendekatiku. Mengingat perkataan ibu, aku langsung mengeluarkan kertas yang ibu tulis dan memberikannya kepada ibu tua yang menghampiriku sebelum dia sempat mengatakan apapun.
Tapi tiba-tiba saja dia memelukku, dan, apa ibu tua ini menangis? Kenapa? Apa yang dia baca dari kertas ibu?
Aku terus bertanya-tanya tanpa mencoba memikirkan jawaban bodoh.
Saat dia mengucapkannya pertama kali, aku tidak bisa mencerna apapun, mungkin karena perutku terlalu kosong. Jadi, ibu tua itu mengulangi ucapannya dan memegang bahuku dengan keras.
"Nak, malang sekali nasibmu. Kau tidak tau ibumu akan meninggalkanmu, kan? Wah, ibu macam apa dia? Teganya meninggal anak sendiri seperti ini."
Apakah ibu menyuruhku melakukan itu untuk mendengar ibu tua ini memaki ibu? Aku sudah sering mendengarnya. Orang-orang itu terus saja mengatakan ibuku bodoh dan tidak bisa apa-apa.
Aku mundur beberapa langkah hingga membuat tangan ibu itu kehilangan tumpuan. Aku tidak suka siapapun yang menghina ibuku.
"Bibi pergi saja kalau ingin menghina ibu, aku tidak memberikan itu untuk mendengar ini." Aku menarik kertas dari tangannya.
Aku tidak mengerti dengan tatapan yang ibu tua itu berikan.
"Ya Allah, polos sekali kamu nak. Ibumu pergi, ibumu yang kau sayang itu meninggalkanmu dan pergi dengan kapal yang lewat tadi. Astaga, bagaimana caranya aku memberi tahumu."
Ibu tua itu berdiri dan mengusap matanya. Aku masih tidak mengerti apapun. Saat ibu tua itu akan pergi, aku berlari dan menahan tangannya. Dia menatapku kemudian membuang kasar napasnya.
"Apa ibuku benar-benar pergi? Ke mana dia pergi? Kenapa aku ditinggalkan di sini?"
Tiba-tiba saja mataku terasa panas.
"Astaga, tentu saja karena dia ingin membuangmu! Dia tidak ingin bersamamu, mungkin saja kamu anak haram!" Dia menjawabnya sedikit kasar.
"Kenapa aku ingin dibuang?"
Tanganku gemetar hebat. Boneka beruang kesayanganku terlepas dari tangan. Aku berlari ke arah dermaga dan teriak memanggil ibu. Aku tidak bisa memikirkan apapun.
"Ibuuu! Ibu lupa ira, ira masih di sini! Ibuuu."
Setelah apa yang sudah aku sadari, aku hanya bisa memandang kapal yang berlayar menjauh. Apa ibu ada di sana? Apa dia melihatku? Tangisku pecah saat itu, aku berteriak seperti orang gila hingga satu dermaga memperhatikanku. Kekuatanku runtuh, kakiku mendadak lemas dan tak bisa berdiri. Aku tidak ingin memikirkan kemungkinan apapun hingga ibu kembali ke sini.
"Ibuuu, kembali ibuuu. Ira gak mau di sini kalau gak sama ibu. Siapa mereka? Ira gak kenal, gak mauuu!!!" Kuhentakkan kaki kuat² ke aspal hingga sepatu yang aku gunakan terbang menjauh.
Aku terus saja berteriak memanggil ibu dalam dekapan ibu tua itu, hingga langit orange berubah gelap. Dan aku tidak bisa melihat apapun.
Hingga saat ini, dermaga dan stik krim dalam gelas berbentuk ember itu menjadi satu-satunya tujuanku kembali. Lima belas tahun, tidak ada yang berubah. Hanya dinding dermaga yang hilang warna catnya, dan aku yang terus tumbuh tinggi dengan perubahan bentuk di tubuhku. Apakah aku sudah secantik ibu? Kurasa kami benar-benar mirip.
Jangan tanya tentang perjalananku, aku sudah melalui banyak hal dan bertemu banyak orang, sama seperti ibu. Sampai² mual terus saja mengganggu dan membuatku merasa lelah setiap saat. Aku ingin memberi tahu ibu, bahwa sekarang perutku membesar melebihi pinggul, seperti tuan² rumah mewah yang digandeng mesra oleh suaminya. Aku benar-benar mengikuti jejak ibu seperti penggemar beratnya. Ibu, cepat kembali. Aku takut.
___
4223, 1147.
