Malam ini seorang laki-laki berbadan tinggi kurus sedang berjalan menuju kamar apartemen milik kekasihnya. Divan berjalan dengan semangat menemui kekasihnya karena sudah lama sekali ia tidak bertemu secara langsung dengan laki-laki kesayangannya. Hampir empat tahun tak bertemu dikarenakan saling mengejar impian satu sama lain. Divan baru saja lulus dari Universitas di Inggris, sehabis kelulusan tersebut laki-laki ini langsung pergi kembali ke Indonesia untuk menemui pacarnya.
Berada tepat didepan pintu kamar pacarnya, ia langsung menekan tombol pin masuk, bersemangat membuka pintu apartemen. Namun ketika Divan masuk, Divan terkejut setengah mati saat matanya melihat ruangan terlihat berantakan. Ada heels berwarna merah tergeletak disana juga sepatu kulit yang sepertinya milik pemilik apartemen. Lampu diruang tengah, juga dapur tidak dinyalakan sama sekali, hanya lampu dari kamar utama yang menyoroti hingga ruang tengah.
Jantungnya mulai terasa berdetak begitu kencang. Perlahan ia mulai melangkahkan kakinya kearah kamar utama dengan usaha tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Tangan yang memegang koper mulai bergetar tak karuan akibat hantaman kenyataan yang mengejutkan jantungnya malam ini. Apa dia salah masuk?
Tetapi semakin langkah kaki mendekat suara lirih desahan mulai terdengar. Ia bingung saat melihat serta harus seperti apa mengekspresikan dirinya bagaimana ketika melihat kekasih atau orang yang dicintai malah bercumbu dengan orang lain.
Dadanya mulai sesak seperti tertahan oleh batu besar. Air mata sedikit demi sedikit mulai berjatuhan ke pipinya sambil menahan suara tangis yang teramat sakit di tenggorokan. Kekasihnya Jian, sedang menciumi leher telanjang wanita itu. Diremasnya payudara kembar besar nan penuh dengan penuh nafsu. Kemeja berwarna putih yang dikenakan lelaki itu tampak berantakan, kancingnya mulai terbuka satu persatu. Dengan mata kepalanya sendiri wanita itu, dengan setengah telanjang juga berusaha membuka sabuk celana kekasihnya. Betapa panas mereka berdua diatas ranjang tanpa menyadari ada orang yang memperhatikan mereka berdua.
Divan mulai mundur selangkah demi selangkah. Menahan suara tangisnya agar tak terdengar oleh orang yang sedang bercumbu mesra. "Kenapa? Kenapa Jian seperti itu?! Ibu.. aku mau pulang dengan mu saja". Air matanya terus mengalir kepipinya hingga turun ke leher yang ikut basah. Sejenak bayangan Divan mulai hilang dari tempatnya membeku dan berburu pergi dari tempat sampah ini. Kaki jenjang Divan bergetar dan mulai secepat mungkin tangannya memegang engsel untuk membuka pintu.
Baru saja akan keluar. Dirinya didekap dari belakang begitu kencang, menghentikan niatnya yang ingin pergi dari tempat. Punggungnya bisa merasakan detak jantung yang berdebar milik Jian. Divan mencakar tangan besar yang melingkupi tubuh kecilnya yang sama sekali tak bergerak dan membawa dirinya ke sofa besar disana. Divan berteriak sambil meminta tolong, namun sepertinya tak ada seorang pun yang mendengar kecuali di ruangan itu.
Sambil lebih menguatkan kedua tangannya Jian berbicara dengan panik "Sayang ku. Tolong dengarkan aku sebentar ya." Mendengar itu Divan malah makin memberontak. "Keluar! Aku mau keluar! Lepas Jian, LEPAS! DASAR BAJINGAN SIALAN!! Lepas!"
Jian kaget mendengar hal itu, lalu berjalan dengan menyeret Divan yang masih dalam dekapannya ke arah kamar.
"KELUAR!" Suara keras hingga membuat seisi ruangan bergema. Lelaki jangkung itu memasang wajah kesal dihadapan wanita yang sedang ketakutan sekarang. "Cepat keluar!" Seketika wanita itu memakai pakaian miliknya yang ketat serta acak-acakan lalu lari terbirit birit keluar dari apartemen.
Tangisan kekasihnya makin keras, juga tak henti hentinya mencakar dan berkata ia hanya ingin pulang. Hingga dengan keras kepalanya Jian melemparkan kekasihnya ke ranjang secara kasar. Tak gentar sedikitpun Divan hanya bisa terus berteriak dengan isak tangisnya. Menangkis tangan kekar itu dari tubuhnya yang mulai sakit akibat cengkraman lelaki diatasnya yang begitu kuat.
