DKI Jakarta, kota metropolitan yang terletak di pesisir bagian barat laut pulau Jawa. Sebagai pusat bisnis, politik dan kebudayaan, tentunya kota ini merupakan tempat berdirinya kantor pusat BUMN maupun perusahaan swasta. Salah satu-nya ''PT Kencana Architecture'', perusahaan yang bergerak dalam bidang arsitektur dan pengembang properti.
Nama yang begitu besar tentunya dibarengi dengan usaha keras dari setiap karyawan yang bernaung di perusahaan tersebut. Seperti pada pagi hari ini, dimana derap langkah kaki terdengar bersahut-sahutan.
"Kamu udah ngumpulin konsep?'' Tanya seorang wanita berambut sebahu itu pada rekan di sebelahnya.
"Belum, masih belum nemu konsep yang cocok. Kamu?''
"Sama Ran, mana ini pengalaman pertama gabung ke tim Alpha'' Keluhnya.
"Semangat! Kamu pasti bisa kok''
"Lah kamu mah enak Ran, otak seencer kamu udah bikin kamu nangkring di tim ini bahkan cuma dua bulan setelah gabung di Kencana'' Dumel Anita.
"....''
Maharani. Sosok perempuan yang menurut orang-orang disekitarnya beruntung karena terlahir dengan kemampuan otak yang mumpuni dan bakat nyata.
Maharani tersenyum mendengar omelan Anita, rekan kerja yang juga merangkap sebagai teman karib-nya di kantor. Perempuan dengan sejuta cara yang mampu menghadirkan emosi positive untuk orang di sekitarnya.
Anita, perempuan cantik usia 25 tahun ini memiliki paras cantik dengan tinggi semampai. Rambut sebahu semakin menambah kesan segar dalam penampilannya.
"Aish.. kamu mah banyakan diemnya'' Omel Nita Lagi.
"Anita! Konsep kamu sudah selesai?'' Sahutan itu berhasil mengintrupsi percakapan mereka.
"Itu pak.. anu..''
Maharani tersenyum sambil geleng kepala melihat temannya kebingungan dan panik.
"Apa? Belum selesai juga? Kamu ini, malah ngegosip bukannya mikirin konsep yang benar. Kamu juga, Maharani. Ini udah H-3 deadline, tapi kamu belum stor apa-apa!'' Ucap Matthew dengan amarah menggebu. Bagaimana tidak? Ia sudah didesak oleh atasan mengenai konsep awal proyek baru ini, tapi bawahannya bahkan sibuk bergosip ria di kantor.
"Sebelum deadline kami kumpul kok Pak'' Jawab Maharani dengan tenang.
"Saya tunggu'' Kata lelaki itu sembari keluar dari ruangan.
"Hufft.. bisa mati muda gue lama-lama dengerin omelan Matthew'' Keluh Nita. Kini ia sudah merosot bersandar penuh di kursi.
"Dia emang gitu. Palingan dia lagi kesel dan bingung karena didesak atasan''
"Kok bisa sih kamu setenang itu ngedepin iblis pemarah Matthew itu?''
"Aku udah 2 tahun di tim ini, kalau kamu lupa'' Jawabnya.
Mengingat awal kisah ia berada di tim Alpha, ia merasa buruk. Saat itu, ia perempuan seorang diri di tim tersebut. Belum lagi ia adalah karyawan baru yang masih terhitung fresh graduation. Ia merasa seperti seekor kelinci yang masuk ke kandang harimau. Ditambah lagi sosok manager team yang terkenal dengan tingkat amarah dan perfeksionis tingkat tinggi. Lengkap sudah.
Maharani sendiri heran, padahal Matthew terbilang masih muda. Dengan usianya yang baru menginjak 30-an dan dengan karier secemerlang itu, kenapa seolah-olah awan gelap meyelimuti wajahnya setiap hari. Hingga lawan jenis berpikir beribu-ribu kali sebelum mendekat.
Termasuk dirinya sendiri. Ia pernah berusaha mengakrabkan diri, agar ia bisa mendapat bimbingan dan arahan selama berada di tim. Yah.. ia orang baru, tapi orang-orang di tim seakan menutup mata. Pikir mereka, orang yang berhasil masuk ke tim Alpha adalah orang-orang terpilih.
Bahkan pernah ia mengumpulkan konsep awal rancangan yang mendapat coretan merah penuh dari Matthew. Ia bahkan mencemooh dan meremehkan kemampuannya. Saat itu ia bahkan berpikir ''apakah saya se-tidak berguna itu?'' Namun ia tidak menangis, malah menatap lamat-lamat mata setajam elang itu. Dalam hati bertekad, ''Saya akan membuat kemampuan saya membuktikannya''.
Alhasil, ia kemudian berhasil membuat rancangannya terpilih dalam proyek tersebut. Ternyata sudah cukup lama waktu berlalu disini, apakah ia masih sama? Sudah kokoh kah kaki-nya untuk berdiri sendiri?
"Woi!'' Teriakan Nita membuyarkan lamunannya.
"Kenapa? Sorry..''
"Udah jam pulang, kamu lembur hari ini?''
"Iya, kejar deadline''
"Kalau gitu, duluan ya?'' Pamit Nita.
Maharani kembali berkutat dengan layar komputer.
Berselang beberapa menit setelahnya, seseorang masuk ke dalam ruangan kemudian meletakkan coffeecup hangat di atas meja. Maharani sontak mendongak melihat si pemilik tangan yang sudah sangat ia kenali, melempar senyum.
"Lembur, hmm?'' Tanya lelaki itu.
"Iya'' Jawab Maharani sembari melanjutkan pekerjaannya.
"Aku temani ya? Nggak ganggu kok, cuma duduk diem doang'' Pintanya. Walau belum mendapat izin, ia sudah mendudukkan diri di kursi milik Nita, tepat di samping Maharani.
"Kenapa nggak pulang? Nggak capek udah ngomel seharian ini?'' Tanya Maharani tanpa menoleh.
"Kamu tau kan beban kerja aku gimana? Anak-anak tuh kalau nggak diomelin kayak gitu nggak bakalan gerak''
"Iya tau, makanya aku nanya.. pulang gih istirahat. Besok kamu kerja kan? Oiya, besok konsep rancangan udah ada di meja kamu''
"Kamu mau kemana besok?''
"Nggak ada, mau rebahan doang. Udah beberapa hari ini lembur soalnya''
"Besok aku mampir kalau gitu, nggak usah masak makan malam. Besok aku bawain, malam ini aku temenin lembur ya? Aku khawatir, kamu sendiri soalnya''
"Makasih'' Perempuan itu tersenyum manis kemudian melesak ke pelukan kekasih-nya.
"Anything for you, babe'' Jawab Matthew penuh kasih.
Yah, Matthew dan Maharani. Sudah hampir setahun keduanya menjalin hubungan backstreet.
Maharani bahkan lupa bagaimana keduanya bisa bersama. Tapi ia menyukai rasa ini. Walaupun ia sendiri masih ragu, mampukah ia? Bisakah mereka bertahan?
Terlalu banyak kalimat tanya di kepala perempuan itu. Yang ia tak tahu apakah ada suara yang bisa memberitahunya kalau ia mampu? Bahwa dirinya bisa melakukannya?
*To be continue*
YOU ARE READING
MAHARANI
RomanceRumah.... What kind of house do you want ? Rumah sebagai tempat berpulang di kala peliknya hiruk pikuk dunia luar. Tempat ternyaman, sehingga kamu bisa mengekspresikan dirimu secara bebas. Tapi apa yang terjadi bila rumah bahkan membuatmu enggan k...
