Semilir angin menyapa lembut seluruh penghuni hutan. Gemersik daun yang saling bergesak melantunkan nada yang indah.
Jalan setapak yang mulai di penuhi dedaunan kering kecoklatan memenuhi pandangan mata, semilir angin musim gugur menyapa lebih intens permukaan kulit.
Langkah kaki yang tergesah-gesah terdangar mendominasi hutan. Peluh sebiji jagung membashi kening di musim gugur yang mulai mendingin. Baju tipis kumal nan kusam terpasang di tubuh ringkih wanita berumur 38 tahun itu.
Kaki dengan sepatu terbuat dari kain kaku hampir terlepas itu menemani langkah sang wanita. Sesekali kepala tertutup kain segita berwana abu-abu menengok ke arah belakang. Seakan memastikan tidak ada satu pun peguntit mengikutinya. Terus memasuki hutan hingga mencapai aliran anak sungai wanita itu menemukan seluit pemuda berumur belasan tahun yang sibuk menombak ikan di aliran anak sungai.
"Arlan."seru sang wanita.
Raut wajah yang tampak jauh lebih tua dari usia terlihat khawatir.
"Ibeam."*Ibu
Pemuda bernama Arlan itu tampak bahagia menyambut sang wanita yang ternyata adalah sang Ibu. Namun, raut bahagia berganti kebingungan ketika ekspresi Ibunya tampak khawatir.
"Mana A'ypa mu?"*Ayah
"A'ypa ada di sungai utama untuk mendapatkan ikan yang jauh lebih besar."jelas Arlan.
"Segera naik dan tunggu Ibeam. Ibeam ingin menjemput A'ypa terlebih dulu."
Setelah itu Arlan Haemer di tinggalkan sendirian, ada kebingungan yang terlihat jelas dari pemuda bernetra aqua marine dengan surai coklat kemeasan itu.
Wanita bernama Deelin Haemer yang telah melahirkannya itu akan memiliki kepanikan berlebihan setiap kali pengumuman dari kepala desa tentang kunjungan kecil dari rombongan tangan kanan kaisar setiap setahun sekali di adakan. Karena pada dasarnya kunjungan itu terkadang menjadi ajang menarik hati anggota kerajaan.
Namun, bisa menjadi hal mengerikan bagi mereka rakyat biasa ketika para bangsawan yang ikut rombongan mengetahui rakyat seperti mereka memiliki kecerdasan luar biasa. Seperti bisa membaca, ahli pedang, sihir dan ahli politik. Anak-anak dari rakyat biasa seperti mereka setelah kunjungan berkahir akan menghilang untuk selamanya.
Jadi, Arlan berusaha memahami ke khawatiran Deelin setiap kali kunjungan itu terjadi. Keluar dari dalam sungai celana pendek selutut dengan warna pudar melekat pada kulit pucat Arlan. Tubuh jauh lebih tinggi dari anak seumurannya akan selalu mencolok dari pada anak lain. Tapi, di bandingkan itu semua Deelin sang Ibu selalu khawatir akan rupa Arlan yang begitu rupawan.
Menyusuri bebatuan kecil di tepi sungai hingga menaiki lima anak tangga dari batang kayu. Arlan tiba di jalan setapak yang tertutupi banyak dedaunan kering. Tas terbuat dari anyaman bambu hampir penuh oleh ikan yang memiliki banyak duri serta ikan bersisik kepala hampir mirip ular. Ikan mirip ular itu cukup mahal di jual untuk para bangsawan pelancong. Belum lagi kalau ikan tersebut memiliki bobot lima kilogram harga pasti jauh lebih mahal.
Bersandar pada pohon eusideroxylon zwageri muda hampur setinggi tiga kaki. Arlan menarik nafas dan menghembuskan secara perlahan untuk lebih menikmati betapa harmonisnya suara alam, dalam keadaan seperti ini indra manusia jauh lebih sensitif.
Energi alam adalah energi paling suci namun, begitu mudah di kuasai rasa sedih. Energi alam begitu jujur.
Setengah jam berlalu suara langkah kaki Deelin terdengar bersama langkah kaki lain yang sangat di kenal. Andreson Haemer, pria dengan perawakan tinggi besar, ukiran mata kecil tajam, memiliki hidung bengkok, rahang hampir kotak dengan fitur wajah kejam dan kulit coklat begitu gelap. Gambaran itu tidak pernah bisa di ubah.
YOU ARE READING
LANGKAH
FantasyAuthor : Rizellayraki Chapter : 1 of ? Summary : Menjalani sesuai alur itu sudah cukup baginya. Walau, ke sempatan kedua itu memang tidak masuk akal. Tapi, tidak bisa di pungkiri itu lah yang terjadi. WARNING : ❗️BOY X BOY ❗️| 🔞🔞 | GIRL X BOY | AD...
