"Mohon maaf sebelumnya jika hal ini akan menyakiti hati kamu, Man. Tapi maaf sekali lagi, saya tidak bisa menerima lamaran kamu," ucap Mutiara penuh kelembutan. Memberikan pengertian pada Kirman--pria di hadapannya yang kini sedang menatapnya tajam.
"Kenapa? Apa alasannya? Apa aku tidak cukup baik untukmu?" tanya Kirman dengan emosi yang sedang berusaha ia tahan sekuat tenaganya.
Mutiara menggelengkan kepalanya pelan. Terdiam sejenak untuk mencari alasan yang tepat yang bisa ia berikan pada Kirman agar pria ini mengerti dan mau menerima keputusannya. Meski, Mutiara memang memiliki alasan kuat kenapa ia menolak Kirman.
"Kamu sangat baik, Man. Hanya saja kita memang tidak cocok. Saya memiliki kriteria tersendiri untuk menentukan calon suami untuk saya."
"Heh! Apa kamu ingin orang yang berpendidikan tinggi dan juga kaya? Sampai kamu menolak aku yang hanya tamatan sekolah menengah atas ini?!" tuduh Kirman, mulai tidak bisa mengatur emosinya.
"Tidak! Bukan seperti itu. Saya hanya~"
"Sudahlah! Aku paham maksud kamu. Jadi tidak perlu untuk di katakan lagi. Cukup bagi kamu menolak aku. Itu artinya, aku memang tidak pantas untuk kamu!" sambar Kirman, cepat. Tanpa ingin menunggu penjelasan dari Mutiara.
Setelah berkata demikian, Kirman pun bangkit dari tempat duduknya dan berlalu begitu saja. Meninggalkan Mutiara dengan perasaan gamang yang menyelimuti hatinya.
Secara fisik, Kirman memang sangat tampan. Secara keturunan, Kirman juga tidak kalah karena berasal dari keturunan dan keluarga yang kaya. Dan walau Kirman hanya sampai tamatan sekolah menengah, tapi pria itu sangat cerdas. Intinya, dari semua kriteria, Kirman termasuk dalam kategori pria sempurna.
Sayangnya, hanya satu hal yang Mutiara inginkan dan yang paling utama untuk ia jadikan pertimbangan. Yaitu masalah agama. Dan itu tidak Mutiara temukan dalam diri Kirman.
Kirman memang pria yang rajin shalat. Tapi, untuk menjalani kehidupan rumah tangga bukan hanya itu yang menjadi bahan pertimbangan. Melainkan, pemahaman terhadap ilmu agama adalah sesuatu yang sangat penting agar kehidupan berumah tangga kedepannya akan menjadi perjalanan yang menyenangkan karena memiliki pemimpin yang bisa membimbing.
Mutiara tidak menginginkan yang muluk-muluk. Ia hanya ingin memiliki suami yang bisa membimbingnya dalam menjalani bahtera rumah tangga yang akan penuh dengan ujian, halangan dan rintangan nantinya. Dan jika bukan sekarang Mutiara mempertimbangkan semuanya dengan matang, maka ia khawatir jika dirinya akan menyesal di kemudian hari karena telah salah memilih pasangan.
Kirman pergi dengan kemarahannya. Tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya dengan pandangan yang tidak lepas dari memandangi jalanan desa yang kini terlihat sempit layaknya sempitnya dadanya yang ia rasakan saat ini.
Sebelumnya Kirman tidak pernah menyangka jika ia akan di tolak seperti ini oleh Mutiara. Sebab sudah sejak dulu, ia telah menaruh hati pada tetangganya itu. Bahkan ia seringkali terang-terangan mengungkapkan perasaanya pada Mutiara melalui sepupu-sepupunya yang dekat dengan Mutiara.
Sayangnya, Mutiara memang tidak terlalu memberikan tanggapan yang berarti. Tapi gadis itu juga tidak pernah memberikan penolakan pada perasaanya. Hingga ketika Kirman berpikir untuk memulai hubungan yang serius dengan Mutiara dengan cara menikahinya, gadis itu menolaknya mentah-mentah meski dengan cara yang lembut.
Akan tetapi, lembut atau kasar semuanya sama saja bagi Kirman. Mutiara tetap tidak ingin menerimanya menjadi pendamping hidupnya.
Kirman masuk menuju rumahnya yang ada tepat di samping rumah Mutiara dengan raut kecewa. Ia di sambut oleh ibu tercinta yang langsung menanyakan tentang hasil lamarannya pada Kirman.
YOU ARE READING
Mutiara Cinta Illahi
SpiritualMUTIARA CINTA ILLAHI : Kisah spiritual seorang wanita yang berusaha membebaskan dirinya dari sihir yang dikirimkan oleh pria yang pernah ditolaknya. Cerita ini merupakan true story yang hanya sedikit ditambah-tambahkan agar lebih menegangkan dan ser...
