ch 00

63 4 2
                                        


"Jeje kalau kita besar apa keinginan Jeje?"

"Memangnya kita bisa sampai besar yang Sagi maksud?"

Jelas ucapan gadis kecil itu membuat ke-3 teman kecilnya menoleh kecil bersamaan, "Jeje, kata bunda kita gaboleh bicara sembarangan! Nanti Tuhan marah"

"Emm, kata bunda Cecil juga. Kita punya masa jadi besar kaya papah bunda kita kan. Kalau Cecil udah besar, Cecil pengen banget punya anak yang caaanntiiik kaya teh Bunga"

"Kita bisa punya mimpi Jeje" imbuhnya sembari memainkan boneka kesayangannya

Jeje gadis dengan kuncir kudanya yang agak berantakan kini sedang terdiam, menatap ketiganya tanpa ekspresi.
"Tapi aku gapunya mimpi,"

Semuanya melihat Jeje dengan ekspresi bertanya

"... Dulu ada" terlihat binaran mata ketiganya menunggu kelanjutan "kenapa cuma dulu?" Bayu menginterupsi

Jeje terdiam membisu, bibirnya ia kantupkan dengan angin sedikit berhembus membuat beberapa rambut Jeje yang tida ikut terkuncir jadi tersapu di wajah kecilnya. Mata Jeje yang kuat terlihat pilu, "Sagi, Jeje mau pulang" pintanya

Gadis itu langsung beranjak, tangannya meremat bajunya "Cepat Sagi, Jeje mau pulang!" Sedikit bentakan

Bayu serta Cecil terlihat bingung, kenapa Jeje marah? Kenapa yang diajak cuma Sagi? Kenapa kita gak diajak?
Berbagai pertanyaam muncul di benak kecil mereka.

Tangan mungil Sagi lantas menggandeng tangan mungil Jeje, "Bayu, Cecil, kita pulang ya?"
Anggukan keduanya terlihat, melihat atensi kedua  anak kecil yg pamit pada mereka menghilang dari jarak pandang pun membuat mereka turut menyudahi jam main mereka

"Cecil, Jeje kayanya nangis deh" jawaban gadis kecil itu hanya menggeleng kasar

"Jeje gasuka nangis, Bayu salah lihat! Ayo cepetin jalannya!"

Sagi melihat Jeje yang menariknya "Jeje nangis? Jeje inget Rara?" Tak kunjung mendapat jawaban

"Jeje inget mereka?" Pertanyaan itu sukses membuat gadis yang menariknya kini berhenti

Tubuhnya bergetar, ia langsung terjatuh "Sagi... Kenapa Tuhan jahat, kenapa Tuhan ambil segalanya dari Jeje... Kenapa Tuhan gak ambil Jeje sekalian?" tangisnya pecah
Wajahnya mengangkat menghadap Sagi, wajahnya kini penuh dengan air mata

"Jeje jangan nangis, mungkin Tuhan sayang mereka"

"Berarti Tuhan gak sayang Jeje?" Tanyanya polos
Sagi yang mana juga berumur sama dengan Jeje ikut bingung, ia tak tahu jawaban untuk pertanyaan gadis kecil di depannya. Ia berkata seperti itu hanya mendengarnya dari sang ayah, jika Tuhan mengambil nyawa seseorang tandanya Tuhan sayang orang itu.

"Udah Jeje ayo kita pulang"



"Jeje beneran nangis?"

The Final ChapterWhere stories live. Discover now