"Sialan, maksud lo apa bangsat?!", Seorang laki laki terlihat sedang mengatur nafas nya yang memburu dan wajah yang sudah babak belur.
"Ya kayak yang lo liat", ucap Vano dengan tenang.
"Gue gak suka ada orang yang berani ngambil apapun yang udah jadi milik gue", Vano melanjutkan ucapannya dan pergi meninggalkan laki laki itu.
***
Vote sebelum baca sebagai bentuk apresiasi untuk author!
Gavano Rangga Raulan, seorang pemuda yang memiliki paras tampan yang selalu memikat perhatian kaum hawa. Sifatnya yang dingin bahkan mampu mengalahkan kutub utara. dengan paras nya yang tampan, Ia mampu membuat banyak wanita jatuh cinta kepada dirinya. tetapi tidak ada satu pun wanita yang mampu menarik perhatian seorang Vano.
"Abang! Ayo cepet turun, jangan jangan kamu masih tidur ya?!", Lestari - bunda Vano berteriak dari dapur.
"Sebentar bunda!", ucap Vano tak kalah kencang.
Perlu diketahui, walaupun Vano memiliki sifat dingin. Tetapi jika sedang bersama dengan keluarganya, Vano akan menjadi pribadi yang hangat. Dan itu hanya Vano tunjukkan kepada keluarganya.
***
Vano menuruni anak tangga dan menghampiri keluarganya yang sudah berkumpul di meja makan.
"Pagi Ayah, Bunda, cila", sapa Vano kepada anggota keluarganya.
"Pagi bang", mereka membalas sapaan Vano.
"Abang lama banget sih, gak tau apa perut aku udah laper banget nungguin abang yang gak turun turun", cila- adik Vano mengerucutkan bibirnya karena kesal dengan Vano.
Vano merasa gemas melihat sang adik dengan ekspresi seperti itu.
"Tadi kan Abang lagi siap siap dulu, cil. Jadi turunnya agak lama, maaf ya", ucap Vano sembari mencubit pipi cila.
"Bang, nanti Bunda sama Ayah mau keluar kota buat urusan bisnis. Cila juga diajak kok, kamu di rumah sendiri gak apa apa kan? Nanti bakal ada Bi Sumi yang bakal beresin rumah sama nyiapin makanan selama bunda gak ada di rumah", Lestari memberi tahu Vano tentang kepergian mereka untuk tujuan bisnis dan Vano hanya meng-iyakan karena sudah terbiasa ditinggal untuk hal ini.
"Iya, Bun".
Vano menyelesaikan sarapannya dan berpamitan dengan kedua orang tua dan adiknya.
"Inget, selama gak ada bunda, abang jangan nakal", Lestari memberikan peringatan kecil kepada Vano.
"Iya, Bun. Yaudah Vano berangkat dulu ya, Bunda, Ayah, sama Cila hati hati dijalan", ucap Vano lalu segera menaiki motor hitam kesayangannya dan segera berangkat ke sekolah. Vano bersekolah di SMA ternama, moon high school.
Vano memarkirkan motornya di parkiran dan langsung disambut dua sahabatnya yang sedang duduk di atas motor. Walaupun termasuk siswa populer, Vano hanya memiliki dua orang sahabat yang sudah menemaninya sejak di sekolah dasar. Bukan tidak ada yang mau berteman dengan Vano, hanya saja Vano yang sangat pemilih dalam memilih teman.
"Eh, kalian tau gak?", Geo memulai pembicaraan.
"Kaga", Gala menjawab pertanyaan Geo yang sebenarnya bukan sebuah pertanyaan.
"Ck, gue belom nanya bego!", Ucap Geo tidak santai.
"Apaan?", Tanya Vano.
"Tadi gue ketemu sama cewek, cantik banget. Kayaknya dia murid baru deh, soalnya gue gak pernah liat dia disini". Maklum lah, Geo kan seorang buaya darat yang sudah mengenal hampir seluruh perempuan yang ada di Moon HS.
"Kayak gak pernah liat cewek cakep aja lo tutup panci!", Gala menempeleng kepala Geo sampai Geo kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh terjungkal dari motor.
"Anjing!", Umpat Geo reflek dengan tangan yang berpegangan erat pada baju Gala.
"Sembarangan lo ngatain muka ganteng gue kayak tutup panci", Geo kembali berbicara setelah mengembalikan keseimbangan dan duduk di atas motor, lagi.
"Tapi ini cewek beda coy, cantik nya kaya bidadari yang turun dari langit", Geo melanjutkan ucapannya yang sempat tertunda.
"Masa sih?", Tanya Gala.
Sementara Vano terlihat tidak minat dengan percakapan teman teman nya itu, dia memilih pergi ke kelas lebih dulu.
"Woy Vano! Sialan udah ditungguin malah ninggalin", umpat Gala langsung mengejar Vano dan disusul oleh Geo.
***
Kelas terdengar sangat berisik, tetapi ketika Vano datang, kelas itu mendadak hening. Mungkin mereka membeku setelah merasakan aura dingin seorang Vano.
Tidak lama setelah Vano dan teman teman nya datang, seorang guru memasuki kelas dan langsung memulai pelajaran. Saat tengah menjelaskan materi, datang kepala sekolah yang diikuti oleh seorang gadis cantik di belakangnya.
"anjir itu kan cewek yang tadi pagi gue liat, Van!", Geo memberi tahu Vano yang duduk di sebelah nya. Dimana Gala duduk? Di meja sebelah. Gala duduk bersama cowok paling pintar di kelas itu, kalau ditanya kenapa, tentu saja jawabannya agar diberi tahu tentang materi yang tidak Gala mengerti.
Vano tidak memperdulikan ucapan Geo, dia fokus melihat gadis itu. Tapi bukan berarti Vano tertarik, Vano hanya penasaran dan segera mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
"Anak anak hari ini kalian kedatangan teman baru, ibu harap kalian bisa berteman dan membantu kayla bersosialisasi di lingkungan sekolah barunya. Ayo, Kayla perkenalkan diri kamu", ucap kepala sekolah.
"Baik ibu, hallo teman teman kenalin gue Kayla Thahira", Kayla memperkenalkan diri dengan singkat.
Cantik banget gila.
hai kayy.
Duduk sini aja, cantik.
cantiknya kaya bidadari turun dari hati gue!
"Sudah diam kalian semua, kayla kamu bisa duduk di meja kedua dari depan. Kamu duduk sebangku dengan Sarah", ucap sang kepala sekolah.
"Baik, terimakasih ibu", Kayla segera melangkahkan kakinya ke meja yang tadi sebutkan. Kayla duduk dan berkenalan dengan teman sebangku barunya itu.
To be continued.
YOU ARE READING
KAYVANO
Teen FictionGavano Rangga Raulan, seorang pemuda yang dikenal mempunyai sifat dingin dan sangat susah untuk di dekati. Dia bersikap hangat hanya kepada orang orang terdekatnya. Kayla Thahira, gadis cantik yang memiliki sifat ramah dan sedikit cuek itu sepertiny...
