Story of Seasons © Xseed Games
Raeger membalik tulisan 'Open' menjadi 'Closed' di pintu restorannya. Sebenarnya ia ingin pergi jauh saja malam ini, tapi tumpukan piring di wastafel menahannya untuk tidak berkelana. Tidak biasanya Raeger dengan gegabah meninggalkan tumpukan piring kotor sampai tinggi bertingkat. Umumnya, ia akan langsung mencuci piring setelah selesai memasak satu menu, atau langsung mencuci piring yang dikembalikan dari meja pelanggan, tapi belakangan ia sedang tidak berminat untuk menaruh perhatian ekstra pada restoran yang sudah menjadi sebuah hobi maupun pekerjaannya. Mungkin karena ia menjadikan hobi sebagai sumber utama pendapatannya, ketika sedang tidak minat, ia lantas tidak bertenaga untuk menanggung konsekuensinya.
Raeger menyandarkan kepalanya ke pintu restoran dan membuka kepalan tangannya yang sedari tadi ia genggam. Di jari manisnya, masih ada tanda di mana ia pernah menggunakan sebuah cincin pemberian Annie.
Sekitar tiga musim lalu, Annie dengan tergesa mendobrak pintu restorannya pagi-pagi sekali. Raeger yang saat itu sedang menyeka meja pelanggan terpaksa mengalihkan perhatiannya pada sosok perempuan yang lebih mungil darinya.
"M-maukah kau menjadi pacarku...?!"
Suara Annie kala itu cukup besar, Raeger berani bersumpah Marianne sampai datang ke restorannya, masih menggunakan piyama berwarna ungu, karena mengira restoran Raeger terbakar. Setelah Raeger dan Annie meyakinkan Marianne kalau tidak, tak ada api, dan tidak, mereka berdua tidak terjebak dalam masalah dan justru baik-baik saja, Marianne pulang kembali ke klinik dengan wajah kecewa.
"T-tunggu dulu... Annie... Bisakah kita bicarakan ini di tempat lain...?"
Dengan wajah memerah karena Annie lebih malu mendapati Marianne sampai terganggu dengan suara kerasnya di pagi hari ketimbang mengajak Raeger menjadi kekasihnya, ia duduk di salah satu kursi pelanggan dan memerhatikan Raeger yang berhenti menyiapkan restorannya untuk mengambil jaket dan kunci. Annie dapat dengan jelas melihat wajah Raeger yang memerah, telinganya pun tidak hanya memerah tapi sedikit mengecil. Annie masih ingat kali pertama ia pindah ke desa Pohon Ek. Hari-hari pertamanya sungguh melelahkan, harus mengurus kebun usang yang tidak terurus, dan mengolah tanah yang tidak subur. Baru saja menapakkan kaki ke luar dari kabinnya, kedua tangan Annie langsung berpeluh. Jadi, ia kerap mencari-cari alasan untuk menunda pekerjaan kebunnya. Salah satunya adalah dengan bersantai di kedai. Di tempat inilah, Annie pertama kali bertemu dengan Raeger. Annie masih ingat betul dengan perawakan Raeger yang terlihat tertekan saat melayani pelanggan, namun pria itu menyembunyikan perasaannya dengan baik. Garis senyum yang tersungging di bibir pria itu tidak menggunakan otot senyum dengan benar. Annie belajar banyak soal ekspreksi mikro manusia di kota tempat tinggalnya dulu, tepatnya di salah satu mata kuliah yang kini sudah tidak ia ingat. Kalau mengingat mengenai apa yang ia impikan dulu ketika masih tinggal di kota besar, dengan dirinya yang kini menjadi seorang petani di sebuah desa, Annie pasti tertawa.
Annie tersadar dari lamunannya yang mengenang masa lalu ketika ia melihat tangan Raeger yang memerah, diulurkan untuknya. Annie menanggapi uluran tangan Raeger perlahan, dan merasakan telapak tangan pria itu terasa hangat. Raeger menuntun Annie ke sebuah tempat rahasia, tempat di mana ia biasa menghabiskan waktu ketika sedang tidak ingin terjebak dalam rutinitasnya. Sebuah taman kecil dengan air terjun, bunga, dan banyak kupu-kupu liar. Sepanjang perjalanan, mereka tidak bertukar suara. Niat Raeger membawa Annie duduk di salah satu bangku bermaterial kayu ek, tapi baru setengah perjalanan, Annie menarik tangan Raeger dan melepasnya.
ESTÁS LEYENDO
Chamomile Tea
FanfictionSecangkir teh hangat, semangkuk sashimi. Kau harus ingat, bahwa aku kerap merasa sepi. Tapi kurasa, aku dapat menampik emosi ini dengan bermain di tengah lautan ombak yang sepi.
