All The Boys I've Loved Before

128 3 0
                                        


Setidaknya seumur hidup, kalian pasti pernah melihat suatu adegan di film atau serial romantis, dimana ada beberapa gadis yang merubungi satu cowok paling tampan dan diidolakan di jurusan,

Kemudian sang cowok menolak mereka halus dan bilang dengan santun; "Maaf, saya sudah punya seseorang di hidup saya". Lalu akhirnya gadis-gadis tersebut hanya bisa tersenyum kecut dan berjalan gontai meninggalkan kursi sang cowok?

Ya, di kehidupan yang penuh dengan para pemeran utama ini, mungkin peran gue hanyalah cewek figuran tidak beruntung di setiap film romantis itu.

Halo, nama gue Syanna (bukan nama asli), dan gue adalah pemeran figuran kehidupan nomor sekian.

Dengan gelar S.Ars yang tersemat sehidup semati di belakang nama gue, pekerjaan utama gue sangat dekat dengan dunia konstruksi dan bangun-membangun. Gue adalah seorang Arsitek Junior di sebuah perusahaan pembangun besar dengan megaproyek yang tersebar di seluruh penjuru Jakarta Raya. Sementara pekerjaan sampingan gue adalah penulis cerita romance, menyelesaikan beberapa wattpad dan twitter AU meskipun gue sendiri gak punya begitu banyak pengalaman cinta.

Liar? Kalian bilang gue boong?
Oke, oke,

Well, maybe I do have some stories of mine. But that was a very.. long.. long time ago

Pacar pertama gue di SMA waktu kelas 10 adalah A, seorang atlet karate yang sering mendapat medali emas di PON bahkan ajang karate besar dunia. Saat kelas 10 ia sudah beberapa kali mengambil cuti sekolah untuk berkompetisi di Brazil dan Tenerife, Spanyol. Waktu itu, pertama kalinya dalam seumur hidup gue diantar pulang seorang cowok dengan mobil ford hitam, dan pertama kalinya juga gue merasakan pengalaman ditembak seorang cowok dengan sekuntum bunga mawar putih di rumah gue sendiri. Tapi jujur gue tahu waktu itu A menjadikan gue pacarnya hanya karena dia tidak bisa mendapatkan teman gue, tapi di sisi lain gue juga memanfaatkannya untuk merasakan rasanya pacaran pertama kali. Uno reverse card! Dan ending sudah bisa ditebak, hubungan kami tak berakhir lama.

Lucunya pacar kedua gue di SMA adalah B, seorang scout boy atau pramuka yang waktu itu tengah melakukan volunteer mengawasi kompetisi olahraga di stadion kota kami, dimana A (pacar gue saat itu) bertanding didalamnya. Waktu itu gue yang datang memberikan support untuk A disana, malah berpapasan dengan seorang cowok tinggi bernama B yang tak disangka akan menjadi pacar gue di kemudian hari. Dia dengan kikuk menawari gue sekotak makanan miliknya, makanan snack khusus para panitia. Gue dengan senyum mengambil satu buah kue soes karena he kept insisted.

Hari-hari berpacaran dengan B adalah masa-masa cinta putih abu paling menyenangkan, mendebarkan, penuh drama, dan menyebalkan. B dengan motor besar CBR 250 RR edisi terbaru miliknya itu adalah salah satu cowok terpopuler di jurusan IPA yang sering dielu-elukan banyak perempuan di sekolah (Dan cewek beruntung yang bisa naik di boncengannya adalah gue hehehe) Kelompok pertemanan B juga merupakan orang-orang dengan minat yang sama di dunia motor-permotoran besar, dan mereka famous.

Namun sayang, B terlalu posesif, sementara gue adalah tipe orang yang semakin dikekang, akan semakin memberontak. Pertemanan gue dan anak-anak perempuan di kelas, benar-benar tidak bisa ditoleransi oleh B. Katanya teman-teman gue membawa pengaruh buruk, mean girls wannabe. Tapi menurut gue, temen-temen gue saat itu lucu dan asyik. Parahnya lagi, dia juga tidak suka gue berinteraksi sedikitpun dengan teman-teman cowok di kelas. Karena tingkah laku B juga yang beberapa kali ketahuan mengancam teman-teman gue di chat seperti Juan dan Myer, gue seringkali bertengkar.

Jika saja kepribadian B tidak separah itu, mungkin kisah cinta gue dan B selama dua tahun itu tidak akan penuh pertengkaran, tangis, putus nyambung, dan drama.

Memasuki masa kuliah, gue dan B mulai berpisah. LDR Jakarta-Palembang karena dia berkuliah di Universitas Sriwijaya jurusan Teknik Sipil. Di masa itu juga, pertama kali dalam seumur hidup, gue mematahkan hati seorang cowok.

To All the Boys I've Loved BeforeBağımlısı olacağınız hikayeler. Şimdi keşfedin