06.30 wib - Pagi hari - Kamar Cagita
Cagita tampak serius memilah milih baju seragam putih abu-abu-nya yang akan ia kenakan pagi ini. Hari ini adalah hari pertama untuk tahun ajaran baru, yang berarti hari ini ia resmi naik ke kelas 2 SMA dan resmi menjadi seorang senior. Bahkan ia juga sudah mempersiapkan diri untuk memberikan kejutan listrik sejuta volt kepada adik-adik kelasnya yang baru saja lulus dari bangku SMP, dan kalau kata orang dewasa jaman dulu...masih pada bau kencur.
Tak perlu waktu lama berdandan, Cagita pun langsung meluncur ke bawah.
"Cagita.. sarapan dulu sayang, kamu kan perlu tenaga untuk hari ini, rotinya mau dibakar pakai meisis atau di olesi selai saja..?? kata Bunda sambil mengeluarkan setangkup roti tawar dari bungkusnya.
Sudah menjadi kebiasaan bagi Cagita untuk tida sarapan dengan makan besar di pagi hari, hanya sebuah sarapan kecil sudah cukup memberinya tenaga hingga bel istirahat pertama berdentang. Soalnya kalau ia makan besar semisalnya nasi goreng, yang ada nanti ia akan sering-sering pergi ke toilet sekolah yang kurang bersahabat penampilannya. Dan pergi kesana adalah sebuah rutinitas yang paling ia benci.
"Pakai meisis saja Bunda, aku lagi buru-buru, takut telat.." ujar Cagita sambil mencium kedua pipi Ayahnya yang tengah menyantap nasi goreng spesial pakai cintah dari Bunda.
"Jangan galak-galak ya Non.. kasihakan adik kelas mu itu.." pesan Ayah dengan mulut yang penuh nasi goreng.
Terkadang Cagita heran melihat Ayahnya, dan kalau ingat salah satu iklan susu formula, sepertinya Ayah memang pantas menyandang nama AyahSaurus. Yup Ayah ku adalah pelahap ulung segala jenis makanan, terutama makanan aneh yang dimasak oleh Bunda, yang terkadang suka gak aku terima kelogisannya. Sebenarnya bagi Bunda, Ayah dan Cagita adalah kelinci percobaan untuk berbagai macam jenis masakannya, dan Cagita akan kembali tersenyum kalau mengingat alasan Ayah menjadi AyahSaurus, jawabannya hanya satu, Cintah.... itu semua karena cinta, makanan gak enak pun terasa lezat kalau dimasaknya dengan cinta dan dimakannya dengan penuh cinta.
Dengan mulut penuh sumpelan roti bakar, Cagita melaju dengan Pak Soleh, Ojeg pengkolan pribadinyayang selalu standby jam 06.15wib di depan rumah Cagita demi mengantarnya berangkat ke sekolah.
Sekilas Cagita melihat jam masih menunjukkan pukul 06.28 wib di pergelangan kirinya, Cagita melirik nona matahari bersinar cerah di ufuk timur, sepertinya semalam tidurnya nyenyak, atau mungkin ia bertemu cemcemannya di belahan bumi lain, karena sinarnya cerah banget... hmmm.. pasti hari ini akan seru, batin Cagita.
di SMU Nusa Bangsa
Akhirnya Cagita menginjakkan kakinya dengan mantap di sekolah setelah mengalami perjalanan penuh terpaan angin diwajahnya. Sesampainya disana suasana sekolahan sudah ramai, wajah-wajah baru berseragam putih biru terlihat asing, unik dan lucu. Dikarenakan mereka di wajibkan mengenakan pita warna-warni di rambutnya, topi camping yang menggelayut di punggungnya, tas slempang yang terbuat dari karung goni, kaos kaki belang-belang dengan warna menyolok, toa yang terbuat dari karton, kecrekn sarimin, dan tentunya lamtek nama mereka yang di ikatkan di kening mereka. Membuat Cagita kembali mengingat masa-masa Moss-nya yang tak kalah seru di tahun lalu.
Di hadapan Cagita saat ini tengah berdiri seorang cowok charming, bukan pria, karena ia belum sedewasa itu untuk mendapatkan gelar pria. Tubuhnya tegap, berkacamata, anak basket, salah satu anggota team Robotic dan tentunya ia adalah si ketua OSIS. Cowok itu bernama Djaka, dan saat ini tengah memberi pengarahan kepada anak buahnya termasuk Cagita yang dari seksi kesenian dan mading, Cagita sendiri selain ikut mengawasi kelas X3 nanti, ia juga di tunjuk sebagai penanggung jawab untuk kelas tersebut.
"Kak Djaka..." seru Cagita sebelum mereka berkumpul di lapangan upacara untuk pembukaan Moss tahun ini.
"Yah...Cagita..." balas-nya berwibawa.
YOU ARE READING
Metamorfosis Cinta
RandomTelur.. Telur Ulet.. Ulet Kepompong Kupu Kupu cring...!! Dari benci jadi cinta ❤ Cagita Mahez
