Bab 1

10 1 1
                                        

"Kamu yakin bisa jadi seketaris yang baik?" perempuan cantik paruh baya dengan rambut tipis berkulit putih kemerahan itu menghampiri tasya
"Yakin nyonya." Ucapnyadengan penuh ketegasan.
"Pekerjaanmu merakup banyak hal, kamu akan digaji seratus juta perbulanya."

Tasya terdiam sejenak, perkataan perempuan itu sungguh membuatnya kaget. Gaji seratus juta perbulan? Ah, masa yang bener aja. Kalo gini sih enak bisa cepet kaya dong perempuan miskin sepertiku.

"Iya saya siap nyonya."
"Baiklah kamu bisa mulai bekerja besok."
"Terima kasih nyonya." Ucapku sambil menunduk.

* * * *
Ini hari pertamanya kerja. Ia harus semangat untuk seratus juta pertamanya

"Kamu bisa menemui atasanmu di dalam sana, panggil aja dia tuan muda."
"Oke, baik nyonya."
"Ini list pekerjaanmu. Sambil memberikan secarik kertas pada gadis itu.

ketika tasya masuk terlihat seorang pria yang cukup tampan sedang duduk di sebuah kursi roda, tetapi tanganya tengah sibuk dengan tumpukan berkas-berkas. pria itu melirik sejenak pada tasya dengan tatapan yang sulit di artikan.

"Mau kamu kesini?"
"Emmm....maaf tuan saya ditugaskan oleh nyonya untuk menjadi seketarisnya tuan muda."
Pria itu terdiam sejenak lalu melemparkan bantal tepat mengenai kepala tasya.
"Aduh sakit tau!"
"Saya nggak butuh pembantu keluar sana!"
"saya ini bukan pembantu, saya ini seketaris"
"Kamu ini bodoh mana ada seketaris kerja dirumah. Mending kamu keluar sana!"
"Lho...kenapa? Ada juga kok seketaris yang kerjanya dirumah."
"Saya ngak butuh belas kasihan dari orang lain"
"Lagi pula siapa yang kasian sama tuan muda, saya ini dibayar saya bukan volunteer. Jadi nggak usah kepedean deh."
"oke..."
"Lalu apa pekerjaanku hari ini."
"Nih..." pria itu melemparkan kertas dengan kasar pada seketarisnya.
"Jutek amat jadi orang." Gumam tasya. Ia membaca rincian pekerjaan yang di berikan tuan mudanya itu. Ia terkejut dengan tugas-tugas yang diberikan tuan mudanya karena tidak seperti ekpetasinya
"Astaga banyak sekali. ini mah tugasnya pembantu bukan tugasnya seorang seketaris."
"Terus kenapa? Mau komplain?"
"Ya, masa saya di suruh beresin tempat tidurnya tuan muda setiap pagi, bikinin sarapan, ngajarin jalan, ngasih obat. Emang saya bininya apa? untung aja disini tidak tertulis harus mandiin tuan muda"
"Ya sudah kalo kamu nggak mau, berarti kamu nggak jadi dapet duit seratus juta"
"Eh saya bersedia tuan muda."
"Oke, tugasmu hari ini buatkan sarapan untuku habis itu ajari saya sajal."
"Emangnya nggak mandi dulu tuan muda?."
"Saya bisa mandi sendiri nggak perlu bantuan kamu."
"Hidih....Siapa juga yang mau mandiin tuan muda ogah." ujar tasya sambil bergidik ngeri.

**********

Mengurus orang yang sakit memang harus mempunyai kesabaran yang super ekstra. Apalagi yang sakit adalah bos nya sendiri yang sangat bawel dan sedikit menyebalkan, eh bukan sedikit sih, tapi memang menyebalkan orangnya.

"Hei kamu kenapa diam aja? Cepat bantu saya berdiri."

"Eh iya tuan muda." Dengan sigap tangan tasya memegang tangan bosnya itu untuk membantunya berdiri. Namun malah di tepis kasar oleh bosnya.

"Eh ngapain tanganmu itu pegang-pegang tangan saya."

"Tenang aja tuan muda, tanganku ini bersih kok, barusan habis cuci tangan pake sabun detol tuan"

"Nggak. Nggak mau! Tangan saya ini cuma buat istri saya, enak sekali kamu pegang-pegang."

"Lah kan tadi tuan muda yang nyuruh ?"

"Kapan saya nyuruh hah."

"Tadi tuan muda kan yang nyuruh saya buat bantuin berdiri?"

"Tapi kan saya nggak nyuruh kamu buat megang tangan saya. Jangan suka nyari kesempatan dalam kesimpitan ya kamu."

"Apa? Tadi tuan muda bilang apa? Saya nyari kesempatan? Hidihh...geer sekali, saya ini cantik nggak mungkinlah selera saya seperti tuan muda."

"Cepat bantu saya!! Kamu ini cerewet sekali."

"

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jan 27, 2023 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

USTADZ CEO TAMPANWhere stories live. Discover now