[1] Humas

79 10 1
                                        

This is a work of fiction. Names, characters, business, events and incidents are the products of the author’s imagination. Any resemblance to actual persons, living or dead, or actual events is purely coincidental—Self Publishing.com

***

Renjun tak bisa menahan senyumannya. Dia melihat Jeno dengan gagahnya masuk ke dalam ruang himpunan FT. Renjun menyukai Jeno sejak pertama kali mereka bertemu. Renjun bertemu dengan Jeno ketika dies natalis teknik sipil. Semenjak itu Renjun setiap hari datang ke kantin FT untuk melihat pujaan hatinya.

Lee Jeno, Teknik Sipil'21  

Sejauh itulah informasi yang Renjun tahu mengenai Jeno. Dia terlalu sibuk dengan semua tugasnya sehingga dia tidak punya waktu untuk mencari tahu lebih jauh mengenai pria itu. He's fame too, which is why Renjun don't look up much about Jeno.

"Kantin teknik lagi?" tanya Haechan.

Renjun mengangguk,"Ngikut ga??"

Haechan memajukan bibirnya,"Lo kalo mau ikut SBM masi bisa taun depan."

"Ngacoooo, gue anak IPS anjir," Balas Renjun.

"Lagian lo bulak balik mulu siii, lama lama tu anak teknik hapal dah sama muka lo," Ejek Haechan. Renjun memukul bahu Haechan hingga menimbulkan bunyi yang cukup nyaring,"Lo jangan gitu gue panikk nih."

Haechan mengelus bahunya pelan,"Sekedar info yaaa anjeenggg."

Renjun menundukkan kepalanya, ucapan Haechan masuk akal. Dia terlalu sering berada di kantin FT,"Terus gue harus gimanaa??"

"Emang lo ke sana ngapain si?? Kalo cuman liat si Jeno doang ga mungkin lo balik telat mulu," Tanya Haechan. Haechan bingung kenapa Renjun setiap hari ke kantin FT dan selalu pulang di malam hari. Bahkan saat tidak ada kelas pun Renjun tetap pergi ke kampus.

'Apa gue punya doi juga biar rajin ke kampus??' batin Haechan.

"Rahasia." 

Haechan tampak kesal,"Tadinya mau gue temenin tapi kagak jadi, mending gue boci."

Setelah kepergian Haechan, Renjun dilanda kebingungan. Dia memikirkan ucapan Haechan, bagaimana jika anak-anak teknik mulai menyadari kehadirannya terutama Jeno.

Renjun takut Jeno akan risih dengan kehadirannya dan mulai menjauhinya. Renjun tidak berharap Jeno untuk menyukainya kembali, dia hanya ingin bertemu dengan Jeno setiap hari. Hanya itu keinginan Renjun. 

"Kayaknya gue harus absen dulu." Renjun melangkahkan kakinya menuju arah kosan, meskipun hati kecilnya masih kekeuh ingin bertemu dengan Jeno.

"Rennnn!!!" seseorang memanggilnya dari kejauhan.

"Wiiii tumben lo kagak rapat," ucap Renjun dengan nada mengejek.

Sunoo menoyor kepala Renjun,"Yeuuu anjing ni gue juga lagi ditengah tengah rapat."

"Terus lo ngapain di sini anjir?? Gue aduin ketuplak lo baru tau rasa." Renjun mengeluarkan smartphone miliknya.  

Sunoo memasang tampang sombong,"Lo tau gitu ketuplak proker kali ini siapa?"

Renjun tersenyum polos,"Kak Yeonjun bukan si ehehehe."

"Yeuu koplak, itu mah kahim. Ketuplaknya Kak Mingi, berani ga lo sama dia wkwk??" Ejek Sunoo.

"Ahh anjinggg takut gue, dulu gue pernah numpahin milo ke almetnya." Renjun merinding ngeri mengingat tatapan Mingi dulu. 

"Nahhh pinterrr, lo jadi divisi humas ya," ucap Sunoo dengan senyuman lebarnya.

Renjun menatapnya bingung,"Maksudd lakasuddd??"

"Panitia kurang orang, tapi udah mepet kalo mau oprec sekarang. Jadi kata Kak Mingi lo harus ikut jadi panitia, mantap kan??" Sunoo mengacungkan kedua ibu jarinya.

"LOHH KOK GUEE???????? GUE KAN ANAK NOLEP LO JUGA TAU, GUE UKM AJA KAGAK IKUT APA APA!!!" 

"Mending lo tanya sendiri ke Kak Mingi," ucap Sunoo.

"DIHH KAGAKK." Renjun berlari menjauh, dia tidak mau ikut acara-acara kampus. Melelahkan dan membuat waktunya melihat Jeno berkurang.

Sunoo hanya menarik napas lelah melihat Renjun berlari sangat kencang,"Yahh gali kuburan sendiri dia."

 ***

Dorr dorr dorr

Renjun mengetuk pintu kos Haechan dengan brutal. Haechan yang tidur siangnya terganggu langsung mengamuk,"INI JADWAL GUE BOCI YA ANJENGGGGG!!!!!"

"Ihh lo mahh, gue mau cerita," balas Renjun.

"BODO AMAT." Haechan masih tidak mood karena tidur siangnya diganggu.

Renjun menyodorkan keprabon,"Sorryyy."

"Ok, jadi lo mau cerita apaan?" tanya Haechan sambil membuka keprabon kesayangannya.

"GUE DIPAKSA KAK MINGI JADI PANITIA ANJINGGG."

Haechan menjatuhkan sendoknya,"HAH??? KAK MINGI?? LO NGAPAIN SAMPE KAK MINGI MAKSA BEGITU???" 

"Ihh ga tau ya anjingg, padahal gue jarang ada di gedung fakultas kita." Renjun mengacak rambutnya frustasi,"Lo bisa ga gantiin gue??"

"IH OGAHH, GUE NATAP MATANYA AJA GA BERANI APALAGI KERJA BARENG," ucap Haechan.

"Terus gue gimana anjinggg??" 

Haechan menatap nanar,"Derita lo si, banyakin sabar kata gue mah."

"Tai, gak membantu lo." Renjun membaringkan tubuhnya di atas kasur, mungkin untuk saat ini dia harus menjauhi teman yang ikut panitia proker kali ini.

"Proker apaan si emang?" tanya Haechan.

"Festival budaya," balas Renjun.

Haechan menggelengkan kepalanya,"Gue setuju si kalo lo ga ikut, acaranya bakal gatot."

Renjun melemparkan bantal,"Anjingg!! Tapi lo bener si."

Tingg 

Suara notifikasi dari smartphone Renjun. Renjun membuka pesannya, dia sontak terperanjat kaget. 

"ANJINGGGGGG KAK MINGI CHAT GUE DONGGG!!!!!!" 

Haechan juga sama terkejutnya,"SERIUS LO????? DIA CHAT APAA??"

"Katanya gue harus jadi panitia," ucap Renjun lesu.

"Bales aja, lo ga siap gitu." 

Renjun menatap Haechan cemas,"Gue ga bakal dilabrak kan kalo bales gitu??"

"Ga tau si." Haechan tersenyum kecut.

Tingg

"ADUH ANJINGGG DICHAT LAGI GUE." Renjun hampir pingsan melihat notifikasi di layar smartphone-nya.

"Apa ceunahh??" tanya Haechan.

Renjun mau tidak mau membuka pesannya,"Fakkk katanya gue hutang budi sama dia, gara gara si milooo."

"Kata gue si lo mending ikut aja," ucap Haechan.

"Kagak ada opsi yang lebih baik gitu??"

***

Hello theree!! It's been a long time🙌

Im sorry, i completely forgot, lol. Sorry gue belum bisa nerusin buku yang lama karena gue lupa jalan ceritanya huhu. Saking lamanya☹ 

Muse | NorenWhere stories live. Discover now