[1] Kinara dan Waktunya

87 13 15
                                        

"Hai, Kinara."

Seorang gadis berbando pita yang dipanggil dengan sebutan Kinara, hanya dapat membalas sapaan yang ditujukan kepadanya itu dengan senyuman. Kinara melangkahkan kaki menuju gerbang utama kampusnya. Lantas mengalihkan pandangan ke arloji gold yang bertengger di pergelangan tangannya.

"Astaga, sudah lewat tujuh menit dan belum datang juga!" gerutu Kinara.

Waktu adalah hal yang tidak bisa Kinara toleransi. Dia selalu menghargai waktu dan membenci orang-orang yang telah menyepelekan waktu. Karena bagi Kinara, waktu dapat mengubah banyak hal, termasuk menyamarkan batas antara ada dan tiada.

"Kinara!"

Kinara menolehkan kepala, mengalihkan pandangan yang semula ke trotoar menjadi ke sumber suara itu. Didapatinya seorang perempuan sedang melambaikan tangan ke arahnya.

Kinara tersenyum tipis lalu ikut melambaikan tangan kepada perempuan itu. Tidak lama kemudian, perempuan tersebut berjalan ke arah Kinara dan menyapa Kinara.

"Kamu nunggu jemputan, ya?"

Kinara menganggukkan kepala.

"Oh, mungkin sopirnya sedang terjebak macet. Tadi aku lihat di Instagram Pemerintah Kota, sedang ada demo di gubernuran," kata perempuan itu.

"Kalau berita itu sudah tersebar, berarti tidak ada alasan buat terlambat dong? Kan bisa jaga-jaga untuk cari jalan alternatif," ungkap Kinara. "Lagi pula ini sudah hampir sepuluh menit, sedangkan belum jelas sopirnya sampai di mana. Padahal waktu sepuluh menit bisa aku gunakan untuk sampai ke Simpang Tujuh."

"Ayolah, Kinara. Menunggu sepuluh menit tidak akan membuatmu menjadi tua," kata perempuan itu. Rautnya masam, seolah tidak setuju dengan sifat disiplin Kinara.

Kinara tidak menanggapi ucapan tersebut. Bagi Kinara, menjelaskan makna waktu kepada orang yang tidak satu pikiran dengannya, hanya membuang-buang energi. Lebih baik Kinara melihat ke arah jalanan untuk memastikan bahwa jemputannya sudah datang.

Untungnya mobil yang menjemputnya sudah terlihat berjalan ke arahnya. Jadi, Kinara tidak perlu membuang waktu lebih lama untuk melakukan hal yang tidak penting.

"Duluan, ya, Raisa. Jemputanku sudah datang," kata Kinara kepada perempuan bernama Raisa itu.

Kinara berjalan kecil menghampiri mobil berwarna silver. Segera setelah mobil itu berhenti, Kinara masuk ke dalamnya. Namun, bukannya merasa senang dengan kedatangan mobil ini, Kinara justru melempar tatapan tajam pada spion bagian dalam mobil.

"Pak Andre, bisakah Bapak berbicara dengan Pak Munawar untuk tidak memberi saya fasilitas penjemputan saja? Karena saya rasa fasilitas ini sangat merugikan. Bapak sering terlambat menjemput dan itu membuat seluruh rancangan saya berantakan. Sepuluh menit itu bukan waktu singkat, loh."

"Maafkan saya, Mbak Kinara. Ini memang keteledoran saya. Saya yang tidak bisa memperkirakan waktu keberangkatan, sehingga ketika jalanan tidak kondusif, saya jadi terlambat menjemput. Saya janji, besok saya lebih tepat waktu," ucap Pak Andre, meminta maaf akan keteledorannya.

Mungkin Pak Andre membela diri, mengingat kondisi jalan adalah hal yang tidak dapat diprediksi. Namun, dia mengenal sifat Kinara yang tidak menolerir keterlambatan. Jadi, jika dia membela diri, itu hanya akan memperpanjang masalah.

"Yasudah, Pak. Tidak apa-apa. Tapi, saya harap Bapak benar-benar memenuhi omongan Bapak dengan datang lebih awal. Karena kalau Bapak tidak sungguh-sungguh, saya akan mengajukan permohonan untuk menghilangkan fasilitas penjemputan."

Pak Andre tampak menganggukkan kepala, lantas memfokuskan pandangan pada jalan yang ramai lancar. Kirana pun memilih untuk tidak banyak bicara karena dia ingin menikmati perjalanan sore harinya.

Memasuki wilayah pertengahan kota, cuaca mulai tidak bersahabat. Awan menghitam, disambut dengan petir yang menggelegar. Jantung Kinara berdebar hebat. Kilatan itu membangkitkan rasa takut yang selalu Kinara sembunyikan.

Tidak lama kemudian, hujan deras mengguyur bumi. Saking derasnya, kaca mobil yang Kinara tumpangi menjadi berembun dan tidak dapat menunjukkan secara jelas jalanan yang sedang Kinara lalui.

Kinara menyatukan tangannya di kaca mobil itu, lantas matanya ditutup perlahan. Hadir kilatan bayangan yang berwujud samar, tetapi dalam sekejap kilatan itu dapat membuat perasaan Kinara bergetar. Bayang-bayang itu berputar dengan cepat, mengombang ambingkan perasaan Kinara, dan mengalirkan air mata pada pipi Kinara.

"Mama, hari ini kita akan merayakan ulang tahun Kinara di puncak ya? Asyikkkkkk. Akhirnya Kinara bisa liburan!"

"Iya, Sayang. Kinara siap-siap dulu, ya. Jangan lupa bawa boneka boba kesayangan Kinara agar nyaman tiduran di mobil," kata seorang wanita bersuara lembut, yang terlihat membungkuk di depan Kinara kecil.

Kinara terlonjak bahagia. Kemudian bayangan berganti dengan keadaan yang begitu kacau, menampilkan mobil yang terguling di jalan dengan posisi hujan deras.

"Kinara mau ke dalam, Papa dan Mama terjepit di sana. Tolong, tolong lepaskan Kinara. Kinara ingin bersama mereka. Lepasssss!"

"Mamaaaaa!"

Mata Kinara seketika terbuka, mengalirkan perasaan sakit yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Kinara meletakkan tangannya di telinga, menggeleng pelan untuk menolak kenyataan yang baru saja berputar di otaknya.

Sakit, itulah yang sedang Kinara rasakan. Rupanya waktu tidak pernah bisa menghapus lukanya karena lagi-lagi dia tersakiti oleh kejadian di masa lalu yang merenggut nyawa kedua orang tuanya.

Orang-orang selalu menggaungkan rasa kesalnya atas sikap segelintir orang yang senang menitik waktu, seakan mereka tidak pernah dirugikan oleh cepatnya waktu berjalan. Tidak banyak yang merasa bahwa dalam hitungan detik saja, nasib orang bisa bisa berubah.

Tawa yang terukir, bisa menjelma menjadi derita karena kejamnya sang waktu. Lalu, siapa yang bisa disalahkan atas waktu yang hilang? Akankah jarum jam? Tidak! Karena yang paling bersalah adalah diri sendiri yang tidak dapat memperhitungkan waktu, hingga petaka itu benar-benar terjadi.

Rupa Rapi KinaraMga kuwentong kahuhumalingan mo. Tumuklas ngayon