kita mulai?

5 0 0
                                        


INI AKU.

Kamu tau apa hal yang sulit buat dilakuin dan banyak orang yang ga sadar ? menerima diri sendiri. Memeluk diri sendiri.mengerti diri sendiri. Sama hal nya aku yang berusaha mati matian mikir semua hal hal positif termasuk dari psikiater psikiater itu , tapi apa? Kosong.Semua pikiran itu ga pernah masuk ke hati , Cuma nyampe otak. Aku harus gimana?

Disaat ada yang bilang, semua baik baik aja, atau semua akan baik baik aja. BASI !, bedanya disini cuma aku yang berusaha yakinin diri semua tetap baik baik aja. ditengah malam, dibawah bantal, di kamar mandi, di tempat umum, di seluruh tempat di bumi ini yang aku pijak.  Padahal? Nyatanya semua ga pernah baik baik aja.  Apa aku salah berusaha berpositif saat yang terjadi memang sebuah masalah yang bukan kecil atau sepele, aku Cuma cape. Mau cerita?Bullshit. Ga ada yang akan ngerti. Bedebah itu cuman mau ngadu nasib. This is not fair, haha. Aku lupa kalo dunia emang ga adil.ya makanya dia jadi hukuman buat Nabi Adam.

Kamu si pembaca naskah ini,mungkin kamu harus diberi tahu asal muasal perkara yang kutampung. Kita mulai? K E H I L A N G A N.

Judul awal yang cukup klise. well Kamu tau apa tentang kehilangan? Katanya, semua manusia pasti pernah ngerasain ini. pertanyaannnya, Apa yang kamu rasain,,sama kaya yang aku rasain?

Waktu kecil, aku bahagia. Bukan karna harta, temen, atau sosok keluarga lengkap yang manis. Aku Cuma punya matari yang sinarnya kubutuhkan. Ibu.Selama ada dia. Selama itu pula aku hangat. Yang aku tau hanya main, tertawa,makan bersamanya, bercerita padanya tentang aktivitas ku hari itu. begitu saja 

Namun aku lupa, matari tak selamanya menyelimuti bumi. Matari tak selamanya menghangati, tak selamanya bersinar, juga bumi.ia lupa bahwa awan tebal bisa menutupi, jadi penghalang antar keduanya.

Ayah. Awalnya aku kira aku tak butuh sosok ini. Aku ga menanyakan sama sekali tentang nya. Tapi sebelum gelap itu tiba. Dia sempat mengisi hari ku . menambah kebahagiaan itu. Tak mudah memang, kenangan yang paling ku ingat adalah menaiki motor vino, berbonceng 5. Bisa kamu bayangkan betapa sesaknya? Tapi aku bahagia, seolah sesak itu tak ada disana. Kami bercengkrama, keluarga lengkap. Oh ini rasanya..

Tak lama bahagia itu, bumi ditutup awan tebal. Ibu ku pergi.Siapa yang bisa kusalahkan? dia yang tak bernyawa lagi, yang pergi padahal aku sudah melarang nya? Atau si pemabuk keparat yang lari membawa mobil jahannamnya meninggalkan ibu ku yang teriak kesakitan di akhir hidupnya? atau si pemberita koran mingguan yang mengambil keuntungan dari peristiwa ibu ku?  Beritahu aku siapa yang harus kusalahkan Tuhan.

Tak adalagi bahagia itu, matari pergi, saat aku sama sekalibelum mengerti arti pergi sesungguhnya, pulang dan tak pernah kembali. Juga bahagia itu,,  senyum tertawa yang hanya ada pada wajah warisan ibu ku ini. Satu satunya yang kupunya. Hidupku harus jalan. Tidak dengan matari, tapi dengan bulanku. Nenek.Yang sangat menyayangiku.. aku pun menyayanginya tuhan, sungguh. Maafkan akuyang kadang melampiaskan kekesalan padanya , melampiaskan ketidak adilansemesta pada nya yang rapuh dan hanya ingin menguati ku, mendorong ku untuk terus bertahan di usia yang belum mengerti kejam nya dunia.

Sempat ada kenangan manis yang harus ku tulis tuhan, sore itu di bulan ramadhan, akhirnya pertama kali aku bisa bisa penuh memenuhiperintahMU. Senja sore itu dengan kupu kupu kecil, aku sama sekali tidak ingatatas luka yang diberi semesta. Itu senja pertama yang ku tau tuhan. Yang kusuka dan akan terus ada senja berikutnya. Masa berlanjut, waktu demi waktu. Bulanku tak lagi bersinar terang, redup. Namun tak mengapa tuhan, aku tak akanmembiarkan cahayanya hilang, aku kuat, aku adalah anak yang mandiri, aku bisalakukan semua sendiri tanpa perlu mengharap pada siapapun. Lihat? Itu adalahkalimat yang ada pada anak umur 12 tahun. Apa wajar menurut mu? Aku telah siapakan kehilangan yang kedua.

Tuhan,, waktu waktu kepergian nya. aku mengenali seseorang. Dia anak baik. Itu yang ku tau. Dia mengajariku rasa suka untuk pertama kali. Aku menyukainya. Begitu pula sebaliknya. Namun sayang, dia tak mengerti rasa itu sampai akhir hidupnya. Dia pergi , kembali pada Tuhan. Aku, tinggal hanya hembusan nafas yang menyertai kepergiannya penuh penyesalan. Kembali, kehilangan itu aku dapatkan. Aku mengutuk diri. Merasa bahagia itu memang bukan untukku. Belum cukup aku berduka, bulan ku juga berhenti bersinar di malam yang teduh. Kembali, semesta terlalu jahat tuhan. dia tak mengerti rasa di hatiku. Harus apa aku sekarang? ..

Kembali hidup. Ya itu jawabannya. Menjalani hari hari tanpa semangat hidup. Hanya berpikir tentang hari ini tanpa ada kata esok. Aku punya saudari, kami saling menguatkan. Setidaknya, itu salah satu hal yang masi bisa kusyukuri. Apa kamu pikir,, semua kesedihan itu hanya tentang kehilangan saja ?salah. Tuntutan hidup. Bisa apa anak putih abu abu seperti kami tanpa bimbingan orang tua? Tak jarang tatapan menjengkelkan aku dapatkan. Aku benci rasa kasihan dari orang yang sok mengerti rasa ku seolah tatapannya sangat kubutuhkan, bisa memberi yang ku mau, mengembalikan hidupku yang hilang. Pernah sewaktu sore. Seseorang bilang .. ibu teman yang ku anggap sahabat itu, tak mau anaknya bermain denganku hanya karna aku tak punya orang tua. Haha. Kamu tau bagaimana rasanya? MARAH. Aku marah pada diri ku, aku marah pada dia, aku marah pada semua yang ada.

Kenapa aku? Kenapa harus aku Tuhan.. aku yang harus menampung semua sendiri , begitu pula dengan saudariku.. kami saling berusaha baik baik saja. Jadi berhenti mengajariku kata baik baik saja. Aku khatam bagaimana melakukannya. Kamu tau saat sedih tak lagi lewat air mata namun tawa, itu titik tertinggi dalam sebuah rasa hancur, marah, sedih, kecewa akan hidup. Itu yang sering kami lakukan Tuhan. percayalah, aku muak dengan air mata tak ada harganya itu.

Hidupku seperti air mengalir, kadang keruh, kadang menabrak batu batu curam. Tapi tetap mengalir, kadang kala aku berpikir untuk berhenti Tuhan, maafkan aku. Saudariku , mungkin alasan satu satunya aku bertahan . ibarat kata, seandainya ujian harus diberi , biar pada ku saja tuhan, jangan pada nya yang lemah itu.

Tuhan, Engkau menciptakan manusia dengan rasa dan logika. Tapi kenapa tak ada yang mengerti deritaku .. kemana pun aku pergi, aku mencari sosok yang bisa mengerti rasaku. Tanpa adanya perbandingan balik dari mereka. Aku benci kalimat, ' masalah itu saja .. lihat masalahku..'

Kenapa Tuhan. apa aku juga harus kehilangan rasa empati pada makhlukMU? Yang Engkau cipta dengan sebaik baiknya. Kemana aku harus pergi, membawa beban ini. Semua sudah kutumpahkan pada MU tuhan, tapi aku hanya lah makhluk yang sekeras apapun mencoba mandiri, tetap saja lemah di kala waktu tersendiri. Aku memang penyuka sepi, tapi bukan sendiri Tuhan.

Sempat. Entah itu sebuah jawaban atau bukan. Seseorang hadir, dia baik, dia manis, dia mengerti permasalahnku , menerima diri ini. Tapi kenapa justru saat ia hadir, jiwa ku menolak. Dimana letak kesalahan nya.. apa karna manusia ini terlalu baik untukku.. atau aku lah masalahnya. Waktu ku tak banyak bersamanya Tuhan, yang seringkali justru ku kecewakan hatinya. Maafkan aku. Aku hanyalah makhluk yang tak dapat menerima diri . bagaimana mungkin meminta makhluk sebaik itu menerima diri yang tak dapat kugenggam sendiri. Saat terakhirnya, dia sampaikan kata yang cukup membuatku besedih. Maafkan aku, bahkan saat terakhir nya aku tak sanggup menguati diri menemani. Selamat jalan, teman.

K E H I L A N G A N.

Berkali kali sudah aku rasa, diiringi masalah hidup yang selalu kuanggap hanya masalah kecil namun tetap saja menyakitkan. Tuhan, maafkan Aku, terlalu banyak menuntutmu. Biar aku menjalani hidup, yang kata nya tak selamanya menyakitkan ini. Aku hanya butuh Engkau, aku hanya milik MU, kepadamu aku kembali. Tapi sebelum itu , bantu aku menemukan , apa arti hidup ku ini ...

Sukabumi , 30 november 2022

senjani

ini akuStories to obsess over. Discover now