Atualizamos nossas Diretrizes de Conteúdo.
Consulte as diretrizes mais recentes para continuar compartilhando histórias com segurança.

Bab 1

98 8 0
                                        

Pandangan Nora sedikit buram terarah pada jalan. Kedua tangannya memegang kemudi dengan kuat. Kakinya menginjak pedal gas hingga segala sesuatu di luar mobil tampak kabur.

Dia menggigit bibir bawahnya, berusaha keras menahan agar genangan air mata itu tidak jatuh. Masih terbayang jelas dalam kepalanya hal yang membuatnya lari dari ballroom hotel tempatnya seharusnya menikmati prom night. Ingatan tentang dua orang paling berharga di hidupnya-sahabatnya dan kekasihnya.

"Bagaimana kalau dia tahu, Dan?"
"Tidak, kalau kamu tutup mulut, Haze."
"Aku pasti tutup mulut, tapi ... aku takut ada yang melapor padanya."
"Jangan takut! Orang itu tidak akan bicara sebelum sempat menemui Nora."

Kakinya menambah tekanan di gas saat masuk di George Washington Bridge. Kemarahan merasuk ke dalam hatinya dengan kuat.

Dia tahu-sejak beberapa bulan lalu-soal hubungan terlarang Daniel dan Hazel. Namun, berita itu disampaikan oleh seorang nerd girl yang jadi musuhnya di bidang akademik. Dia pun tidak terlalu mendengarkan dan menganggap sebagai angin lalu.

Mungkin ... kalau aku percaya ... rasanya tidak akan sesakit ini sekarang, batinnya.

Air mata perlahan jatuh mengalir di pipinya. Genangan muncul kembali menutup pandangan. Dia berkedip mengusir air itu agar jatuh. Tangannya terangkat mengusap jejak di pipi kiri dan melebarkan mata.

Di depannya, sebuah kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi ke arahnya. Dia menginjak rem dan memutar kemudi, berusaha menghindar. Tanpa bisa dicegah, mobilnya menabrak besi pembatas jembatan hingga putus. Kepalanya menghantam airbag dengan keras, membuat rasa pusing menyerang.

Tangannya terangkat memegang kepalanya yang berdenyut nyeri. Dia merasakan sekelilingnya seperti berputar. Napasnya memburu dengan jantung menggedor dada dengan keras.

Dengan masih tidak fokus dan tangan gemetar, dia bergerak dan berusaha membuka seatbelt. Namun, gerakannya terhenti saat mobil itu seperti bergoyang maju perlahan. Dia pun memandang ke depan dan melebarkan mata.

Oh! No, no no! Kengerian merasuk saat di depannya terpampang pemandangan Hudson River. "Aku harus keluar dari sini!" gumamnya.

Nora menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Dengan setenang mungkin, dia kembali bergerak menyentuh seatbelt. Melepaskan benda itu dengan hati-hati lalu diam saat merasakan mobilnya meluncur pelan.

Setelah gerakan itu dirasakannya berhenti, dia yang ganti bergerak perlahan memutar tubuh. Rasa panik merasuk dengan kuat saat menyadari posisinya saat ini-mobilnya tepat ada di tepi jembatan, tertahan oleh penyangga besi. Dia menatap pada sedan hitam yang berhenti setelah menabrak pilar penyangga utama.

"Hei! Tolong!" teriaknya.

Namun, setelah menunggu beberapa saat, dia tidak melihat pengemudi atau penumpang mobil itu keluar. Dia pun berpikir cepat untuk keluar dan menyelamatkan diri dari situ. Merasa tidak ada pilihan lain, dia bergerak pelan membuka pintu mobil. Melongok untuk melihat jarak dengan tepi jembatan.

Dia bergerak pelan mengeluarkan tubuh sambil berpegangan pada pintu. Berhenti saat mobil mulai menukik turun menghadap air. Dia mempertimbangkan sejenak-melompat dan meraih tepi jembatan.

Sayangnya, dia tidak punya waktu lama untuk berpikir. Mobil tiba-tiba jatuh dari jembatan. Dia melompat dan berhasil meraih tepi jembatan. Kepalanya menoleh, menatap mobil merah dari brand Audi keluaran terbaru hadiah ulang tahunnya yang ke-18 dari papanya. Sedih sekaligus lega karena berhasil keluar.

Papa pasti mengomel, batinnya pasrah.

Dia menarik napas panjang kemudian berusaha mengangkat tubuhnya. Namun, matanya melebar saat merasakan seperti ada yang menarik kakinya. Terlalu kuat, membuat pegangannya terlepas.

GHOST GAMES: THE HOLLOW'S CALLHistórias para pegar e não largar. Descubra agora