"Berhenti Put, gue bilang berhenti!" Teriak Azqeela dengan suara nyaringnya. "Lo kalau ada masalah percintaan cerita, bukan malah bikin samsak sekolahan rusak." Lanjutnya sembari berjalan menuju arah Putri.
Terdengar deru nafas Putri yang kini tengah memandang kosong. Gadis itu tengah bergelut dengan kejadian satu jam yang lalu.
"Kita selesai sampai sini Put. Sorry kalau gue lebih milih Zoevinda dari pada lo."
"Gue benci sama lo Devan Ardila Jaya!" Ucap Putri penuh penekanan.
"Sabar sobat, gue yakin lo akan lebih bahagia tanpa manusia toxic itu." Timpal Azqeela mengelus bahu Putri. Setelahnya beralih ke jam tangan putih di pergelangan tangannya. "Setengah jam lagi ada rapat OSIS. Lo mau ikut atau izin dulu?" Tanyanya menghadap Putri yang masih menatap lurus. "Oke, mending lo ijin aja. Lo butuh waktu buat tenangin hati sama pikiran lo." Lanjutnya memberi saran.
Putri tidak bergeming, cairan bening yang ia tahan lolos. Ia menangis, luruh sudah pertahanannya sebagai seorang wanita yang tangguh hanya karena rasa sakit yang di torehkan seorang Devan. Lelaki yang selama enam bulan telah berhasil merobohkan hati seorang Anggia Putri Lee. Segera dihapusnya air mata itu, lalu ia bangkit untuk membereskan samsak yang telah ia rusak. Disusul Azqeela yang membantu membereskan barang-barang Putri.
"Selesai." Seru Azqeela menepukkan kedua telapak tangannya. "Gue ke ruang OSIS dulu, lo kalau udah selesai pulang aja." Ujarnya kepada Putri kemudian berlalu pergi.
🌼🌼🌼
"Gue nggak setuju sama pendapatnya Zoevinda. Menurut gue event kali ini cukup menarik perhatian para siswa di sekolah kita. Apalagi sekolah kita yang jadi tuan rumahnya. So, saran gue bikin tema yang keren dong." Tolak Azqeela secara terang dan hanya di angguki beberapa anggota OSIS lainnya.
"Seperti?" Jawab Dikta selaku ketua OSIS.
Namun Azqeela hanya diam. Ia sedang berpikir keras untuk mencari tema yang cocok. "Duh, apa ya. Niat hati biar tema si panda ditolak kog malah gue yang terjebak gini. Ngeselin!" Seru Azqeela dalam hati.
"Nah, gak bisa jawab kan lo Qeel." Tebak Dito yang tak lain musuh bebuyutan Azqeela.
Azqeela melotot, sungguh menyebalkan si Dito ini. Dalam situasi genting dia malah mencari kesempatan. "Bentar ngapa, ribet banget deh lo." Timpalnya sewot.
Dito hanya memutar bola matanya, "Kalo buntu mending diem deh."
TOK TOK TOK
CEKLEK
Semuanya diam dengan pandangan ke arah pintu masuk. Terdapat seorang wanita berdiri dengan muka datarnya. Tatapannya lurus dan tajam.
"Sorry, gue telat." Ujarnya melangkah ke arah meja rapat.
"Minggir lo Dito! Kursi ini tempatnya sahabat gue ya." Seru Azqeela kepada Dito.
"Enak aja lo, siapa cepat dia dapat." Timpal Dito dengan raut muka tanpa dosa.
Azqeela hanya mendengus. Percuma berdebat dengan manusia kepala batu ini.
"Dari ..." Belum sempat Dikta bertanya sudah di sela Putri terlebih dahulu.
"Dari ruang silat." Ujar Putri sembari duduk di sebelah Adrian.
"Lo mau rapat di ruang silat?" Sela Dito.
"Iya, tadi gue rapat dulu sama Putri. Dan hasil rapatnya, strategi gue buat musnahin lo Ardito Rian!" Timpal Azqeela penuh penekanan.
"Nama gue kur..."
"Diem!" Lerai Putri menatap tajam ke arah Dito. Sedangkan Dito hanya menghela nafas tanda mengalah. Ia cukup tak berani jika Putri sudah menatapnya tajam.
"Oke, lanjut pembahasan tema event perlombaan antar sekolah." Ujar Dikta memulai topik kembali. "Qeela, mau melanjutkan usulan sarannya?" Tanya Dikta menatap kearah Azqeela.
"Sebelumnya terimakasih untuk waktunya. Mari kita berkaca pada event POS setahun lalu yang diadakan di SMA Deandelion. Kita tahu, event ini kurang sukses akibat tema yang kurang tepat." Terang Azqeela menatap seluruh anggota rapat.
"Masuk. Menurut gue bukan karena tema. Tapi strategi panitia yang salah." Timpal Zoevinda.
Azqeela hanya memutar bola mata malasnya. "Lo tau, tema mereka nggak jauh beda sama tema lo." Pernyataan Azqeela mengalihkan pandangan Dito.
"Lo tau dari mana, kalo tema mereka nggak jauh beda sama tema Zoevinda?" Tanya Dito.
"Makanya, punya hp digunain, jangan dibuat php in cewe mulu!" Jawab Azqeela sewot.
"Gue setuju sama Qeela." Ujar Putri yang di angguki Azqeela.
"Tema yang menarik dalam suatu event justru sangat diperlukan terlebih untuk promosi. Memang pengaruh tema tidak begitu besar untuk sukses tidaknya suatu event, tapi tema juga perlu dipertimbangkan juga." Papar Azqeela.
"Tapi tema yang di usulkan Zoevinda bagus kok." Timpal Dito. "Tema dia mengusung tentang lingkungan, itu justru bagus, terlebih konservasi lingkungan itu sangat diperlukan di kalangan pelajar SMA apalagi event seperti ini. Gue yakin selesai pertandingan tempat para penonton menjadi padat sama sampah." Jelas Dito.
"Sanggah." Ucap Putri sembari angkat tangan. "Menurut gue, tema itu bagus dan tidak salah kalau ditempatkan pada event yang berhubungan dengan konservasi lingkungan bukan sport. Saran gue untuk event ini mengusung tema Healthy Generation and Great Talent." Lanjut Putri memaparkan.
Sedangkan yang lainnya hanya diam, mempertimbangkan kedua tema yang telah diusulkan. Ardito yang sibuk mengetuk-ngetuk meja dengan telunjuknya. Azqeela yang tersenyum penuh kemenangan. Serta Zoevinda yang masih terdiam memikirkan sanggahan.
"Oke, udah ada dua tema untuk event POS. Kita akan lakukan voting, tema dengan suara terbanyak yang akan dipilih." Jelas Pradikta. "Tema pertama, conservation for sport. Silahkan yang memilih tema ini bisa angkat tangan." Lanjut Dikta sembari melihat kearah anggota rapat.
Hanya terdapat delapan orang yang mengangkat tangan tanda setuju, termasuk Ardito.
"Tema kedua, Healthy Generation and Great Talent. Silahkan angkat tangan." Seru Dikta kembali.
Hanya selisih dua orang dari tema yang pertama. Namun tidak termasuk Pradikta.
"Lo nggak milih Ta?" Tanya Dito mengangkat satu alisnya. Namun tidak direspon si pelaku.
"Sesuai voting, tema kedua yang akan kita gunakan dalan event POS di sekolah kita. Ada yang mau ditanyakan?" Ujar Dikta menatap seluruh anggota rapat. "Jika tidak ada, rapat cukup sampai disini. Terimakasih dan selamat sore." Final Dikta menutup rapat Osis sore itu.
¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.