Laga pertama tim Jake berbuah manis. Mereka menang 4-0, angka yang cukup jauh mengingat lawan mereka adalah tim yang biasa langganan masuk semifinal tingkat kota.
"Good game! Good game!" Yechan berteriak keras sambil mengacungkan tinjunya ke udara. Cowok itu merangkul erat Jake dan pemain lainnya, Jake tergelak.
Sayup-sayup ia bisa mendengar suporter sekolah mereka di tribun mulai kembali chant ala pendukung. "Gamau pulang~ maunya ngebantai~! Minggir dong, Valeo mau lewat nanti keinjak-injak! Valeo terlalu gede terlalu OP~" yang buat Jake meringis kecil.
Dari dulu dia selalu ngerasa yel-yel sekolahnya agak-agak anarkis, tetapi biarlah. Beberapa sekolah malah lebih provokatif lagi yel-yelnya.
Setelah itu semuanya berjalan sedikit kabur bagi Jake.
Dia ingat coach memberikan sepatah-dua patah kata ke mereka, mengucapkan apresiasi dan teknik berikutnya untuk minggu depan. Minggu ini mereka cuma main sekali karena di draw putaran pertama tanding grup mendapat bye--keberuntungan luar biasa. Jake ingat dia mandi dan berganti baju. Dia ingat Sungchan sempat memberinya senyum dan berterima kasih karena tadi Jake memberinya assist yang bagus.
Meski begitu, yang paling jelas ia ingat adalah bagaimana ketika ia menghampiri tribun dah lihat sosok yang sedang berdiri menunggunya di sana.
"Hai."
Jake tidak bisa menahan senyumnya. "Hi," balasnya sebelum berjalan untuk semakin mendekat. "Maaf agak lama, Hee. Tadi gue mandi dulu."
Sosok itu , Heeseung, tertawa. "Aman, aman. Tadi gue sempet match dulu sekali makanya gak berasa nungguin," kata Heeseung sambil mengangkat dan menggoyang-goyangkan ponselnya. Jake bisa lihat ada tulisan victory besar-besar di layar.
Yah, dia sudah tahu, sih, kalau Heeseung juga gamer. Rank dia bahkan lebih tinggi daripada rank Jake dan teman-temannya yang lain.
"Mau ke mana abis ini?" tanya Jake. Dia bisa merasakan rasa gugup yang tadi tidak ada itu mulai merangsek hadir di dalam dirinya. Kata orang-orang, first date itu menakutkan.
Eh, tunggu. Dia dan Heeseung tida--belum berpacaran. Apakah ini akan terhitung sebagai first date?
"Hmm, kemana ya?" Heeseung bergumam sambil menyimpan ponselnya di saku celana jinsnya. Dari sepanjang dirinya berada di stadion ini, Jake baru bisa melihat dengan jelas Heeseung dan apa yang ia kenakan.
Pakaiannya sederhana. Hanya kaus yang sedikit oversized warna hitam dan celana jins skinny. Dia terlihat jauh lebih ramping dengan pakaian biasa seperti ini ketimbang dengan seragam sekolah.
"Terserah lo, deh." Pada akhirnya Heeseung berkata seperti itu. "Gue ikut lo aja, lo yang nawarin."
Jake ingat, dulu ia pernah menuliskan date plan; mulai dari tempat-tempat yang ingin ia kunjungi, apa yang akan dilakukan, dan hal-hal lainnya. Dia sendiri menertawakannya ketika selesai menulis itu--hal yang percuma karena Jake tahu dia terlihat cringe dan mungkin saja rencana itu gak akan dia wujudkan.
Kenyataannya, hari ini dia mendapati seseorang yang telah ia idamkan dari lama tersenyum ke arahnya--menunggunya untuk mengutarakan pendapatnya dengan keadaan sudah mengetahui perasaannya.
Rasa gugup itu semakin membesar, namun Jake menutupinya dengan berdeham kecil.
"Makan?" Jake bersuara dengan agak ragu. "Sehabis makan, kita bisa pikirin lagi mau ke mana. Kebetulan gue tau tempat makan yang enak di sini."
Itu tidak bohong. Di sekitar stadion, ada restoran yang cukup enak dan Jake pernah bermimpi membawa date-nya ke tempat itu. Restorannya tidak terlalu ramai, tata ruangnya bagus, dan rasanya lumayan enak dengan harga yang standar.
"Boleh." Heeseung mengangguk. "Pas banget jam makan siang gini, gue laper. Lo juga laper, kan?"
Jake mengangguk.
Keduanya berjalan keluar stadion dengan santai. Jake bersyukur bahwa hampir seluruh anak klubnya sudah pulang, dia tidak ingin ada sesuatu yang tidak enak terjadi. Setidaknya, ia tidak ingin Heeseung menjadi bahan gosip ketika baru lebih dari sebulan lalu pemuda itu memiilki kisah cinta yang kandas.
"Oh, ya, hari ini gue bawa motor," beritahu Jake. Sebenarnya sedikit malu mengingat Jay--temannya sendiri dan juga mantan Heeseung--kemana-mana bawa mobil sendiri. "Supir gue pulang buat minggu ini jadi gak dianter."
Heeseung mengangguk. "Gak apa-apa," jawab Heeseung. "Asal bawanya gak ngebut aja kayak orang gila."
Jake tertawa. "Gue safety dan taat peraturan, kok, orangnya," kekeh Jake. Heeseung juga ikut tertawa.
"Eh." Heeseung kemudian menoleh ke Jake. "Gue gak bawa helm."
"Gue bawa dua." Jake berkata dengan cepat. Dia sudah mengantisipasi hal ini. "Gak mungkin gue mau ngajakin lo tanpa siapin helmnya, kan?"
Heeseung tertawa lagi. "Keren banget emang lo, Jake."
Jake merasa hatinya menghangat.
Ketika mereka tiba di depan motor Jake, Jake tidak langsung memberikan helmnya ke Heeseung. Alih-alih demikian, ia mengangkat helm tersebut ke atas kepala Heeseung dan membuat Heeseung menatapnya bingung.
"Let me, Princess."
Ada semburat merah tipis di pipi Heeseung. "Gue bisa pake sendiri," komentarnya sambil mengambil helm itu dari tangan Jake. Jari-jari mereka bersentuhan. "Dan gue bukan princess, tolonglah haha. Malu dengernya."
Jake membiarkan Heeseung memakai sendiri helmnya. Saat semuanya sudah siap, ia mengeluarkan motornya dari parkiran dan mempersilakan Heeseung duduk di boncengannya.
Di tengah jalan, Jake mengubah sedikit arah spion kiri motornya agar dapat melihat wajah Heeseung di belakangnya.
Pandangan mereka sempat saling bertemu. Jake tersenyum, Heeseung terlihat memerah lagi sebelum ia mengalihkan pandangannya. Dasar.
"Berhenti senyum-senyum," cerca Heeseung pelan ketika mereka tengah berhenti di lampu merah. "Balikin spionnya ke posisi yang semula."
Jake malah nyengir lebar. "Gue senyum karena gak nyangka akhirnya bisa liatin lo tanpa takut ketahuan kalau gue suka sama lo lagi."
Heeseung mengerang, tetapi wajahnya benar-benar sudah merah. Jake tertawa dan tawanya mengundang pukulan keras di punggungnya--yang berhasil membuatnya memekik kecil karena sakit.
Semoga ini awal yang baik.
Dia ingin Heeseung sepenuhnya jatuh cinta kepada dirinya. Hal yang lebih penting dari itu, ia ingin Heeseung bahagia kembali.
.
.
New Mission
(n.) a brand new strongly-felt aim, ambition, or calling.
.
.
A/N : Hello again, I guess?
HAHAHAHA aku gak setega itu namatin abort mission dengan gantung. Aslinya buku ini masih bagian dari abort mission, tapi kok aku males bikin buku yang lebih dari 60 chapter ya wkwk kupisah ajalah.
Btw iya memang sedari awal itu Jakeseung end game. Pelan-pelan bakal direveal semua hints yang udah kesebar dari book abort mission di sini. Bakal ada Jayseung juga buat manas-manasin suasana (gak juga sih wkwk) dan beomseung. Kemungkinan besar juga bakal ada tambahan platonic hoonseung dan hoonjay. Iya, hoonjay, tapi platonic. Bukan dalam konteks romantis.
Buku ini kemungkinan cuma 10 chapters doang (kemungkinan). Gak banyak, kok. Konfliknya juga gak seberat abort mission.
(Anyway Under the skin somehow kinda represents Jake's feeling to Heeseung. He waited for a long time before finally he got his chance. He deserves a happy ending route.)
Makasih banyak yang udah baca! <3
Sincerely,
Ruu.
YOU ARE READING
new mission • jakeseung
FanfictionStep by step, Jake is getting closer to his star. "Apa lo sanggup nungguin gue, Jake?" "Kata siapa gue mau nunggu? Gue mau berusaha." . . - sekuel dari abort mission (HARAP BACA ABORT MISSION DULU) - dom!jake x sub!heeseung - slight pairs lain
