Seorang gadis dengan rambut sebahu, berjalan mendekati salah satu mobil hitam yang terpakir di parkiran fakultasnya sore hari itu. Dia terkekeh saat melihat si supir yang sedang melambaikan tangan, diselingi kedipan mata genit yang ditunjukan kepadanya.
"Hai." Sapa gadis bernama Gracia itu. Dia menaruh tas beserta peralatan kuliahnya dikursi belakang. Kemudian gadis cantik itu meregangkan tulang tubuhnya. Mengundang tatapan gemas dari seseorang yang ada disampingnya.
"Sayang, capek banget ya?" Tanya sang pacar. Dia mengelus rambut lembut Gracia.
Gracia mengangguk, memasang ekspresi bak anak kecil. Gemas setengah mati. "Hm, banyak tugas. Dosennya rese." Katanya mengaduh.
Shani, si mas pacar, langsung memeluk gadisnya erat. Kemudian memijat pelipis Gracia dengan lembut. "Diginiin suka gak?"
"Suka." Jawab Gracia yang kini memejamkan matanya. Menikmati pijitan sang pacar yang terasa nikmat dikepalanya. "Kamu seharian ini kemana aja?"
"Jam 7 ke kampus, kelas sampe jam 9. Abis itu ke foodcourt, makan sambil nunggu kelas selanjutnya mulai. Jam 12 sampe jam 2 mulai kelas lagi. Beres kelas, kerkel di cafe depan sampe jam 4. Abis itu udah deh, langsung jemput kamu disini." Jelas Shani panjang lebar. Menceritakan detail kegiatannya hari ini kepada Gracia.
Gracia mengangguk. "Habis ini mau kemana?"
"Ke apartemenku dulu ya? Aku kangen sama kamu." Bujuk Shani dengan puppy eyes. Senjata andalan agar Gracia mau menuruti kemauannya. "Aku punya obat buat ngilangin cape kamu."
"Modus. Aku tau ya pikiran kamu." Cibir Gracia malas. Dia tau kalau itu hanya akal-akalan Shani doang biar dia mau diajakin ke apartemen. "Tapi aku gak bisa nginep loh ya."
"Loh, kenapa? Besok kamu kelas siang, kan? Mau aku izinin ke Papi?"
"No. Aku besok ada acara sama anak-anak HIMA. Jadi dateng pagi banget."
"Aku anter deh."
"Gak mau, Shani. Aku belum nyiapin keperluan buat besok."
"Ya masa bentar doa—"
"Main bentar, atau gak sama sekali?"
Mendengar kalimat itu dari bibir Gracia, seketika membuat nyali Shani menciut. Dia yang awalnya hendak bernegosiasi lebih lanjut, pun akhirnya memutuskan untuk menurut dari pada Gracia ngambek dan gak jadi main di apartemenya. Dengan sabar, Shani segera melajukan mobilnya untuk pulang ke Apartemen.
Sesampainya disana, baru saja Shani membuka pintu namun ia malah mendengar suara yang gak semestinya ia dengar. Dengan cepat, Shani berbalik untuk menutup telinga Gracia. Dia mengunci kepala Gracia agar tak bergerak kemana-mana dan gak melihat pemandangan yang sedang terjadi di ruang tengah apartemennya.
"WOY MAR! Lo kalo main tuh di Kamar, anjing. Sembarangan banget jadi orang." Sentak Shani keras, membuat suara desahan dari dalam apartemen berhenti seketika.
Suara gaduh langsung terdengar. Cowok bernama Mario itu langsung memunguti pakaian miliknya dan milik perempuan yang tadinya sedang bermain panas dengannya diruangan tengah. Dipakainya boxer pendek Mario, "Aman, Shan!" Teriaknya begitu merasa keadaan sudah cukup aman.
Shani melepas tangannya pada kepala Gracia, lalu menarik gadisnya untuk masuk. "Sialan lo!" Sinisnya kepada Mario yang cuma cengengesan gak jelas.
"Sorry, gue kira lo pulang malem." Katanya masih nyengir, lalu dia melirik Gracia yang ada dibelakang Shani. "Wah, makin cakep aja lo, Gre."
Shani langsung menepis tangan Mario yang hendak menyentuh Gracia. "Jauh-jauh lo dari cewe gue!"
"Buset, galak." Cibir Mario, mengelus tangannya yang terasa sakit akibat geplakan Shani. "Gue perlu pindah tempat gak nih?"
"Pindah sono."
Gracia menyubit lengan Shani, "Gak usah, Kak. Gue gak nginep kok." Sahutnya. Dia gak mau membuat repot Mario. Apalagi setelah menganggu aktivitas panas lelaki itu. Pasti rasanya sangat gak enak, Gracia tau itu.
"Loh, Gracia gak nginep? Ngewe-nya gak sampe pagi dong." Ucap Mario dengan wajah tanpa dosa.
Shani langsung melepar Mario menggunakan bantal sofa. "Mulut lo ngewe." Lalu kembali menarik Gracia untuk masuk ke kamarnya.
"Shan, ayo lomba bikin cewe kita ngedesah. Yang paling kenceng, menang." Pekik Mario sebelum Shani dan Gracia benar-benar masuk kedalam kamar.
"Gue tonjok lo, ya."
"Udah ah, ayo masuk." Ujar Gracia berganti menarik ujung jaket Shani. Kalau mereka berdua dibiarin, pasti gak bakal selesai ributnya. Mengingat Shani yang gampang kebawa emosi, dan Mario yang suka mancing emosi.
"Aku mau mandi dulu, ya? Gerah banget."
Shani mengangguk, mengecup bibir Gracia singkat lalu mengambil sekotak rokok dari tasnya. "Iya. Aku dibalkon, mau ngerokok bentar."
Sembari menunggu Gracia mandi. Shani duduk dibalkon, menikmati sebatang rokoknya dengan syahdu. Ditemani cahaya senja yang sedikit tertutup oleh gedung pencakar langit. Kalau gini, Shani udah mirip sama anak senja, cuma kurang kopi item sama lagu akustik indie aja tuh.
Beberapa menit setelahnya, Shani mendengar suara kamar mandi terbuka. Dirinya masih asik merokok karena belum menghabiskan sebatang. Selain itu, Gracia sudah pasti akan melakukan ritual setelah mandi yang menurutnya agak riweuh. Memakai skincare.
Namun dugaan Shani salah. Bukannya memakai skincare terkebih dahulu, Gracia justru berjalan mendekati Shani. Tanpa disadari, gadis cantik itu sudah berada dibelakang Shani. Tepatnya memeluk leher Shani dari belakang. Sesekali menciumi pipi mulus miliknya. Dengan cepat, Shani mematikan rokok dan membuat putungnya ke asbak.
"Kok cepet?" Tanya Shani. Tangannya menjalar ke pinggang ramping Gracia.
"Iya, kasian kamu udah nungguin." Jawab Gracia melepaskan tangan Shani pada pinggangnya. Lalu dirinya duduk dipangkuan Shani. Menyandarkan kepalanya pada dada bidang sang pacar, menikmati elusan tangan Shani yang kembali bertengger pada area pinggangnya.
Baru hitungan menit dalam posisi seperti itu, tiba-tiba Gracia berbalik, berganti mengalunkan kakinya pada pinggang kokoh Shani. "Ada yang bangun, nih." Ledeknya sambil menyolek dagu Shani. Kemudian mengalungkan tangannya pada leher Shani yang sedikit berkeringat.
Lelaki berwajah tampan itu meneguk ludahnya susah payah. Berusaha mengalihkan perhatian dari belahan sempit yang ada daerah atas Gracia. Pacarnya itu hanya mengenakan kemeja putih kebesaran—yang tentu saja milik Shani dengan dua kancing bangian atas yang dibiarkan terbuka. Sedangkan dia hanya mengenakan hot pant saja sebagai bawahan.
Gimana Shani gak ketar ketir.
"Its freaking cold here, baby." Alibi Shani. Tangannya kembali bertengger pada pinggang ramping Gracia, sedikit meremasnya dengan gerakan sensual. Dia memandangi wajah menawab perempuannya dengan ekspresi memuja.
"Bangun karena kediginan, atau justru kepanasan karena liat aku? Hm?"
Shani terkekeh. Ia lupa jika Gracia sangat mengenalnya dari luar maupun dalam. Shani menyingkirkan anak rambut Gracia, menyampirkan beberapa helai ditelinga agar tidak menggangu pandangannya. Tanpa aba-aba, Shani mencium mesra bibir Gracia. Melumat bibir tipis itu dengan tangan yang mulai menjelajah kemana-mana.
"Fuck, you make me crazy." Shani berdesis, menghentikan ciumannya saat Gracia mulai menggerakan badannya tepat di atas selangkangan Shani. Membuat gesekan pada anggota tubuh yang masih tertutup kain itu. "I want you, Gracia. You're mine."
"Im yours, honey."
YOU ARE READING
The Lovers
FanfictionShort Strory about Greshan homophobic dni! spicy content. so, be aware. just skip this if u still minor, please. gxg, but sometimes can be bxg. be wise readers, ya. just a fanfiction. dont bring this to real life.
