Malam itu aku baru saja pulang menghadiri perjamuan makan malam dalam rangka perkenalan Atasan baru Bang Andi di Kantor, Atasan baru itu bernama Pak Frans, dia rupanya orang Papua, aku sama sekali belum pernah bertemu dengan orang Papua sebelumnya, tampangnya terlihat sangar namun simpatik, cara bicaranya juga cukup menyenangkan, dia juga murah senyum, namun aku merasa tatapannya padaku terasa aneh, terkadang kupergoki dia memperhatikanku terus, saat pandangan kami bertemu dia menunjukkan senyumnya yang entah kenapa terasa begitu hangat.
Malam itu Bang Andi mengajakku untuk bersetubuh, entah kenapa belakangan ini stamina Bang Andi terasa loyo, kalau aku perhatikan sejak Bang Andi di mutasi ke Surakarta ini, intensitas hubungan seks kami tidak terlalu sering, kalau dulu bisa seminggu dua kali, kini bahkan sebulan sekalipun jarang, itupun Bang Andi tidak seperti dahulu, hubungan seks kami hanya berlangsung dalam hitungan menit lalu kemudian Bang Andi mendengkur, sebagai seorang istri aku cukup maklum dengan kondisi Bang Andi, mungkin karena dia lelah dan telah terkuras pikirannya di kerjaan, aku tidak terlalu mempermasalahkan itu, setiap selesai berhubungan seks, aku selalu menuntaskan dengan bermartubasi di kamar mandi.
Sebagai wanita terkadang aku rindu saat-saat masa lalu, Bang Andi terasa perkasa dalam melaksanakan kewajibannya di ranjang, tapi ya sebatas rindu itu saja, di Surakarta aku melampiaskan gairahku dengan berolahraga seperti zumba atau Yoga, namun alih-alih bisa menekan gejolak hasratku, Olahraga malah membuat libidoku lebih intens datangnya, namun seperti wanita lain, aku hanya menyalurkan lewat martubasi saja untuk memuaskan hasrat seksku, jujur aja aku sama sekali tak pernah menonton film seks seumur hidupku, apalagi kepikiran untuk macam-macam.
Bang Andi adalah tipe pegawai yang jujur, dia sama sekali tak mengerti cara melobi-lobi atau menjilat atasan, saat mendengar sahabat Bang Andi yang bernama Edwin naik jabatan sebagai Kasubag, aku cukup heran kenapa Karier Bang Andi tidak semoncer Edwin, padahal Bang Andi boleh dibilang lebih dahulu setahun menjadi PNS dibandingkan Edwin.
Sebenarnya aku tak terlalu mempermasalahkan soal itu, secara ekonomi kehidupan kami cukup berlebih, selain penghasilan sebagai PNS, hasil kontrakan Rumah orang tua Bang Andi di Jaksel cukup membuat ekonomi kita sangat berkecukupan, namun terkadang saat arisan keluarga aku cukup risih mendengar sepupu-sepupuku membanggakan peningkatan karier suami mereka masing-masing, dan tentu saja hal yang lumrah jika aku juga ingin bisa membanggakan karier suamiku di depan mereka.
Jika topik karier aku buka, Bang Andi selalu berkata dia hanya berkata kalau selama ini dia telah berusaha menjalankan tugasnya dengan baik, soal karier dia hanya mengatakan hanya pasrah terhadap keputusan Atasannya. Aku sendiri cukup bangga karena Bang Andi terkenal tegas dengan pekerjaannya, dia sama sekali tak ingin terlalu akrab dengan berbagai pihak yang memiliki kepentingan dengannya.
***
Dua Hari setelah perjamuan Makan malam dengan Bos baru di Kantor, Bang Andi ditugaskan ke Jakarta selama tiga hari, dan sepulangnya dari Jakarta, aku merasa ada perubahan sikap dari bang Andi, bukan soal perselingkuhan, Bang Andi tipe pria yang dingin terhadap perempuan, aku tahu benar sifat suamiku itu, dia tak akan berbuat macam-macam, jika keluar kota karena urusan pekerjaan, ya memang karena urusan pekerjaan.
Perubahan sikap yang kurasakan bukan berubah menjadi cuek padaku, tapi malah sebaliknya, entah kenapa intensitas hubungan ranjang kami semakin meningkat, walau Durasinya tak ada perubahan berarti, terkadang aku juga merasa bang Andi terasa aneh akhir-akhir ini, dia sering memintaku datang ke kantornya, ada saja alasan untuk membuat ku datang, terkadang minta dibikinkan makan siang, terkadang diminta mengantar dokumen yang tertinggal, padahal aku tahu kalau Bang Andi orang yang sangat cermat dalam segala hal, dan tak pernah lupa dengan dokumen penting yang harus dibawanya, bahkan sepanjang pernikahan kami, baru kali ini Bang Andi mmemintaku untuk mengantar makanan ke kantor.
