Gadis itu menerabas dinginnya malam seorang diri. Tentu dengan motor kecil kesayangannya itu. Di tengah keramaian kota namun kesepian. Oh tunggu, gadis itu adalah aku. Semua orang memanggilku, Ana. Atau mungkin sekedar, Na?
Sejujurnya, aku tidak benar-benar sendirian. Jalanan itu penuh dengan kenangan indah. Iya, dengan dia. Siapa lagi kalau bukan Putra? Sial, aku mengingatnya lagi malam ini. Biarkan gadis ini meratapi kebodohannya itu. Sungguh, kota ini dipenuhi oleh kenangan indah dengannya, nyaris tidak ada buruknya. Karena itu berada di bab yang berbeda.
Aku berjalan dari timur hingga barat, selatan ke utara sendirian. Bodoh, tidak seharusnya aku melalui jalan ini. Benar-benar tidak ada jalan yang tidak kami lalui—selama tiga tahun— di kota ini. Sedikit menyedihkan, namun tak apa. Tidak ada buruknya mengenang masa-masa indah dengannya.
Sungguh tidak ada yang tidak menyesal di awal saat cerita harus berakhir. Kami bahagia dengan jalan yang berbeda. Bukankah itu cukup untuk membuktikan bahwa kami memang seharusnya berpisah?
Hingga akhirnya aku singgah di sebuah kedai kopi yang tak jauh dari Kota Madya. Kedai kopi pertama yang kami kunjungi setelah baskara tenggelam. Aku seperti orang teraneh di kedai kopi itu, karena hanya seorang diri di saat lainnya dengan manusia lain. Aku memang tidak menyukai rasa kopi itu, namun terasa nyaman entah kenapa, aku tidak tahu.
Arkian melanjutkan perjalanan—mengenang masa lalu—Jalan Ketabang, salah satu nama jalan di tengah kota yang pertama kali aku hafal setelah berkali-kali mengelilingi kota ini dengannya. Sedikit remang-remang lampu jalan menemaniku. Bisa dikatakan sangat sepi nan sunyi. Bagaimana tidak? Pelat logam pipih itu sudah membentuk sudut sembilan puluh derajat dan hanya jalan ini yang terasa selalu sepi entah pagi pun malam.
Gandrung tak pernah terobati. Bumantara itu terlihat aksa, sedangkan pawana memelukku. Semua sudut di kota ini hanya mengingatkanku padanya. Bahkan kedai kopi di ujung jalan itu masih ada sampai sekarang. Sudah seharusnya aku pergi dari kota ini! Kota pahlawan, katanya. Bangunan-bangunan lama itu masih ada hingga kini di tengah kota. Terlihat ringkih. Biasanya dia sudah berubah menjadi sejarawan setiap kali melalui bangunan-bangunan tua itu.
"Na, kamu tahu bangunan itu? Dahulunya beroperasi sebagai kantor di zaman Belanda. Namun di akhir, ada hal mistis yang terjadi di dalamnya. Dan pada akhirnya kantor itu ditutup, kini terbengkalai."
"Ternyata bangunan tua selalu memiliki kisahnya tersendiri, ya?"
"Na, tidak hanya bangunan tua yang selalu memiliki kisahnya tersendiri. Pun seisi alam semesta."
Dan gadis ini hanya terdiam, melihat deretan-deretan bangunan di kota tua ini. Masih seperti dulu, hanya saja kini tidak ada lagi yang mengoceh sepanjang jalan. Pun masih merasakan kehangatannya, meski tidak sehangat kemarin.
Jalanan ini terasa sangat panjang, sebenarnya tidak benar-benar panjang. Memori masa lalu yang membuatnya begitu panjang. Hingga aku tiba di ujung jalan, lelah. Bukan, maksudku lelah untuk menahan rasa ingin kembali yang sejujurnya hanya rindu sesaat. Dan pada akhirnya aku memilih untuk pulang. Tentu saja ke rumah eyang putri. Ini sudah terlalu larut jika aku harus pulang ke rumah. Akhir-akhir ini MERR tidak diterangi oleh lampu jalan. Mengerikan bagi penakut sepertiku.
Selalu hangat seperti rumah di ujung Kota Pahlawan ini. Sepertinya tidak sehangat itu. Hanya ada aku dan nenek di sini, karena kakekku sudah lama berpulang—tepat tujuh hari sebelum ulang tahunku yang ke-tujuh belas tahun—Sangat sepi setelah beliau tidak lagi di rumah. Padahal, biasanya kakek hanya menonton televisi atau bahkan hanya sekedar duduk-duduk santai. Namun rasa kehilangan masih sangat terasa hingga kini. Benar-benar dingin. Bahkan kasurnya sudah dipindahkan entah kemana. Hal itu membuatku merasa semakin kehilangan. Kosong.
YOU ARE READING
Pena dan Senja Tak Abadi
Teen FictionDia menitipkan semua kenangan masa SMAnya kepadaku. Yang awalnya aku belajar untuk menyayangimu, kini aku belajar untuk merelakanmu.
