Awalan

26 4 1
                                        

Temaram malam nampaknya masih cantik, aku duduk rapi sambil ditemani camilan ringan kesukaan ku. Oh iya, perkenalkan, namaku Alaanah, lebih lengkapnya Alyaanah Annalina. Aku anak tunggal dari keluarga sederhana, ayahku seorang guru madrasah dan guru mengaji di surau dekat rumah. Perempuan cantik yang kupanggil ibu, seorang ibu rumah tangga, multitasking, yang tiap pagi selalu merangkap peran, tangannya membolak-balik tempe, suaranya kencang meneriaki aku yang masih mendengkur dikamar hehe. Syukur alhamdulillah, Allah memberi aku keluarga yang utuh, utuh akan cinta dan kasih sayang, orang tua yang supportif, dan keadaan rumah yang nyaman juga menyenangkan. Nantinya aku usahakan ya, bahasa dalam tulisan ini adalah bahasa yang sopan hehe, supaya kalian enak membacanya, akan aku tulis apa saja yang aku alami. Ikuti saja yaa, anggap saja kita sudah berteman lama, dan kalian sedang mendengarkan aku curhat tengah malam, ditemani banyak makanan, deeptalk kalau bahasa anak sekarang, wahhh seru nggak tuh.

Aku merupakan salah satu mahasiswi di Universitas Islam Negeri di Jawa timur, yang saat ini sedang duduk di kursi semster 5, prodi ya?? hmmm, aku dari program studi Psikologi, tapi aku bukan dukun, ingat, camkan itu!!. Eh maaf maaf, padahal diawal tadi aku sudah bilang, akan menulis cerita ini dengan bahasa sopan hehe. Sebagai anak dari seorang yang terpandang sebagai tokoh agama di desaku, ayah tentunya tidak membiarkan aku menjadi anak kost, Ya, aku berkuliah sembari menjadi santri di salah satu pondok pesantren dekat dengan kampusku. Ayah juga pernah menuntutku menjadi seorang hafidz qur'an, namun dengan jurus mengiba dan memelas, aku cukup berhasil membidas keinginan itu. Aku cukup aktif di kampus, sadar diri tidak merasa cantik, maka aku mencari value ku dari sisi yang berbeda. Aku menduduki beberapa jabatan penting di kampus, tentunya atas persetujuan orang tua, aku diperbolehkan melalang buana, mencari pengalaman. Secara qodrat semua perempuan di lahirkan menjadi cantik, namun bengisnya dunia, mengeliminasi karateristik cantik berdasarkan kriteria yang tidak masuk akal. Kulit putih berseri, berat badan ideal yang balance dengan tinggi badan, wangi sepanjang hari, dan lain-lain yang aku tidak masuk dalam nominasi cantik versi persyaratan yang aku sebutkan tadi. Aku perempuan dengan tinggi 155, berat badan 70, kulitku sawo matang yang hampir busuk, untuk style? yahhh aku gitu-gitu aja, tidak se hype remaja kota pada umumnya. karena ibuku pernah berpesan " Dadi menungso iku, ojo muluk-muluk, opo sing di ndueni iku sing digawe, yen ra ndu yo meneng, usaha" ( Jadi manusia itu jangan muluk-muluk, apa yang di miliki, itu yang dipakai, kalau ngga punya yan diem, usaha). doktrin nasihat yang seperti itulah, yang membuatku setidaknya bersyukur dan mencintai diriku dengan versi terbaikku.

Aku memiliki banyak teman, namun diantara yang dekat ada 2 orang, ada Alisha Alula Adnan, perempuan keturunan blasteran pakistan jawa si aktifis organisatoris, cukup tomboy, yang nasib ekonominya paling baik diantara kita ber 3, jurusan teknik sipil. Ada juga Falguni Jhamsira, princess diantara kami ber3, berasa semua di borong sama Si Ira ini, ya, kami memanggilnya Ira, Perempuan cantik, dengan postur tubuh tinggi semampai, tatapan yang sendu, seorang hafidzah, penulis, sijago debat dan bintang akademik. Berbanding terbalik dengan Lula, Ira lebih kalem, dan pendiam. Ira satu kelas denganku. Kami bertiga berteman sejak masih sama-sama menjadi mahasiswa baru, dan berlanjut hingga sekarang.

Jatukrama Ke 2Stories to obsess over. Discover now