"Dasar miskin"
"Jelek"
Kata- kata itu benar benar nyakitin telinga aku. Mereka lemparin aku pakai bola kertas dan sampah. Harga diri aku selalu diinjak-injak di sekolah. Air mata ini nggak bisa aku tahan lagi. Tapi...aku malah diketawain gara-gara itu.
Amora, orang yang aku anggap sebagai monster itu, nyiram rambut aku sama kuah bakso yang udah dicampur banyak kecap. Aku nggak bisa bilang apapun. Rambut ku kusut dan udah bau nggak keruan. Semuanya melihat jijik kearahku yang nggak ada bedanya sama sampah.
"Iyuhhh!" Caci Amora , lalu tertawa keras. Semuanya juga ikut tertawa mengejek.
"Najis!!" hina Amora lagi. Dia menoyor kepala aku berulang kali dengan jari tengahnya.
" Modelan gembel gini nggak pantes sekolah disini!"
Aku mendongak ketika mendengar suara berat itu. Dia Revan , pacar Amora . Cowok itu merangkul Amora mesra, tapi natap aku jijik. Dan ketika mata kami bertemu, dia langsung membuang ludah tepat di sepatuku. Itu menyakitkan!.
"Jijik" sambungnya, lalu disambung tawa dari yang lain. Derita ini selalu aku jadi kebahagiaan mereka. Ngelawan? Ngak bisa. Aku gak punya kekuatan buat itu. Ngelawan mereka cuma nambah kesengsaraanku disini.
Dengan tangan gemetar, aku ambil buku diary usang dimeja belajar. Kejadian hari ini aku tulis dibuku diary itu sambil menangis. Aku nggak sanggup lagi sama penderitaan ini
Dianggap sampah , diperlakukan kayak babu, sampai harga diri aku diinjak-injak. Manusia berkelakuan iblis itu udah ambil kebahagiaanku.
Tuhan, kapan aku bahagia?
Tuhan, kapan orang-orang jahat itu musnah?
Atau aku yang harus musnah ?
Itulah pertanyaan yang selalu ada dibenakku. Aku mau nyerah. Aku lelah nunggu kapan segala derita ini berakhir. Tubuh lemah ini udah nggak sanggup nahan rasa sakit.
Disakiti fisik ✔️
Mental dibunuh ✔️
Kebahagiaan direnggut ✔️
Aku memberikan tanda centang pada setiap takdir buruk yang diberikan Tuhan kepadaku. Aku terkekeh geli dengan air mata menetes.menertawakan hidupku yang begitu konyol.
Ujung pulpen yang dalam genggamanku ini kutancapkan di ujung jempol dalam dalam. Aku mengiris nyeri ketika tetesan darah mulia menetes dan membasahi lembaran buku diary. Ini yang selalu aku lakuin ketika berpikir untuk bunuh diri aja.
Aku mendongak kepala sambil merasakan sakit di ujung jari ini. Hanya satu harapanku. Jika aku mati aku cuma mau mereka rasain semua rasa sakit dan ketidakberdayaanku ini.
Tapi jika aku masih hidup akan ku balas semua perbuatan perbuatan mereka yang sekarang ini di kehidupan yang akan mendatang.
09September2019.
👹👹👹
YOU ARE READING
I'm no't a nerd
Action"Dia adalah orang yang selalu kusebut sebagai monster dalam kehidupanku. Duniaku kelam saat itu juga. Mentalku terguncang, aku dipermalukan begitu rendahnya. semua menatapku begitu jijik yang patut dijauhi. #I'm not a nerd
