Ar Dante 1

2 0 0
                                        

Ar Dante; Berbalik dan Lihatlah Aku 1

        “Ekhemm, cek, cek, cek.” Aku menatap beberapa pasang mata yang juga menatapi dengan ekspresi kaget. Mereka terlihat bingung dengan kehadiranku di atas panggung membawa sebuah gitar di genggamanku.

“Memang selalu begini, ya, kalau orang ganteng mau nyanyi? Pada melotot gitu liatnya,” ucapku yang sebenarnya bercanda, tapi sepertinya banyak yang anggap serius dan berubah ilfeel. Ada juga yang malah tersenyum atau tertawa. Aku ikut tertawa.

Langsung kuperbaiki posisi dudukku dan mulai memainkan gitar. Lagu yang akan aku bawakan adalah lagu dari Obbie Mesakh yang berjudul ‘Kisah Kasih di Sekolah’. Selamat menikmati.

“Resah dan gelisah~ menunggu di sini.” Aku menatap seorang gadis yang duduk di sana, pada bangku baris ke lima dengan urutan pertama.

“Di sudut sekolah, tempat yang kau janjikan ingin jumpa denganku, walau mencuri waktu~ berdusta pada guru.” Pandanganku masih padanya, dia terlihat menikmati setiap lirik lagu dan alunan melodi dari gitar yang kupetik.

“Malu aku malu, pada semut merah yang berbaris di dinding, menatapku curiga seakan penuh tanya, sedang apa di sini~ menanti pacar, jawabku.” Aku memalingkan pandang saat sadar mata kami bertemu dan bersipandang.

“Sungguh aneh tapi nyata tak 'kan terlupa~ kisah kasih di sekolah, denan si dia. Tiada masa paling indah, masa-masa di sekolah, tiada kisah paling indah, kisah kasih di sekolah~.” Aku tersenyum, kembali mengawali petikan gitarku pada bagian reff. Entah kenapa, rasanya aneh dan sedikit lucu jika ingat kejadian itu.

Awalnya, rencanaku membawakan lagu ini hanya sebagai hiburan untuk mahasiswa baru yang belum lama ini berada di dunia putih abu-abu. Sekarang malah aku yang terhanyut di dalamnya.

Meski begitu, aku tetap ingin mengulangnya. Mengulang bagaimana dia menolakku di tengah teduhnya kami di sudut kantin kala hujan menghantam bumi dengan kerasnya. Sebagaimana kerasnya hati menahan pedih pada kata ;tidak' dari bibir manisnya.

Petikan gitarku masih belum berhenti, gerakan mereka yang juga mengikuti alunan musik tidak berhenti. Ya, lagu ini benar-benar asik untuk mengenang semua kenangan yang pernah tercatat dalam diary cinta putih abu-abu.

“Tiada masa paling indah, masa-masa di sekolah. Tiada kisah paling indah, kisah kasih di sekolah~.” Senyumnya adalah pandangan terakhirku sebelum mengakhiri petikan gitar untuk melodi dari lagu ini. Terkesan indah dan memaksaku ikut tersenyum dalam tunduk menatap jari pada senar gitar di kunci F.

“Enak, gak, lagunya?” Aku kembali menatap bangku penonton yang sudah lebih ramai daripada sebelumnya.

“Enak, Bang. Suaranya ganteng!” teriak seorang gadis yang terlihat sedikit barbar di antara gadis lainnya. Dia mengangkat kepalanya sembari mengscungkan jempol agar terlihat olehku.

"Dasar anak baru," celetuk gadis lainnya yang berdiri di belakangku sembari ikut tertawa. Dia Ushi, wakilku."

Aku tersenyum geli, setengah kesal setengah senang. Senang karena mereka menikmati lagi yang aku bawakan, dan kesal karena yang ganteng suaraku bukan aku.

Aku melihat sekeliling masih terlalu sepi untuk memulai acara walaupun jumlah orangnya usdah bertambah. Dan lagi, memang masih ada waktu sekilar lima belas menit lagi sebelum mulai. Memang dasarnya anak baru ini yang terlalu cepat hadir, sementara senior-seniornya masih pada molonr mungkin di kos masing-masing.

Menimang waktu yang masih tersisa, aku coba kembali memulai cerita dengan mereka. Terlebih mereka sudah mulai berisik dari sebelumnya.

“Sebenarnya …,” ucapku memecah kebisingan dan membuat mereka kembali fokus padaku, “… lagu tadi kupersembahkan untuk seseorang. Mungkin dia duduk di antara kalian?” Aku memberi pertanyaan sekaligus pernyataan.

Ar Dante; Berbalik dan Lihatlah AkuStories to obsess over. Discover now