Tentang siapa?

22 3 6
                                        

Dalam hidup itu, realistis dianggap penyedang. Lalu ekspetasi sangat ditinggikan, hal yang mustahil terjadi sangat didambakan. Dan, kenyataan yang harusnya diperhatikan seolah diabaikan.

Sebuah dunia imajinasi adalah dunia yang paling sempurna. Kekurangannya, ya ... tentu saja tidak nyata. Walaupun kau berharap bagaimana ekspetasimu menjadi nyata dalam kehidupan. Berharap agar bisa merasakan, apa yang namanya mimpi terwujud padahal tidak berusaha selain hanya berimajinasi.

Ah, perlu saya perjelas. Selain yang menulis ini hanyalah seorang manusia beban, tulisan ini diangkat dari beberapa pengalaman. Yang ... mungkin tidak akan disetujui beberapa orang. Atau bahkan semua yang membacanya?

Tidak ada keyakinan bahwa banyak yang akan membaca tulisan ini. Lagian, sebenarnya saya mengangkat tulisan ini karena sekedar hobi. Beserta merasa ingin mengobrol dengan seseorang yang tidak tahu siapa. Percaya, deh, yang menulis ini itu hanya punya beberapa orang yang ditemani akrab. Kalau kalian suruh saya cerita sama mereka, coba pikir, manusia 'kan terkadang juga tidak mau merepotkan juga direpotkan. Jadi, ya ... mengerti, kan?

Baik, cukup menceritakan diri sendiri seperti beberapa paragraf di atas. Kita kembali ke topik, yang sebenarnya belum ditentukan topiknya apa.

Bicara tentang imajinasi, inginkah kalian memasuki dunia yang seolah nyata walau sebenarnya hanyalah seonggok tulisan sampah? Jika berkeinginan, mari lanjutkan membaca tulisan di bawah.

Tentang manusia yang biasa, bisa dibilang punya kloning kepribadian yang banyak di penjuru dunia. Suka berpikir negatif, pernah merasa dirinya terjangkit penyakit mental, dan senang sendiri, tapi juga suka berdiskusi.

Anggap saja manusia ini adalah dirimu, yang mungkin pribadiannya sama dengan tulisan di atas? Atau bahkan tidak lebih dari seorang manusia biasa saja, yang syukurnya masih bisa dibilang normal. Walaupun, ya, kamu terbilang nolep juga biasa dikalangan dalam lingkungan.

Suatu hari, kamu hanya sedang bermalasan di kamar. Seperti hari-hari biasanya. Jika telah selesai mengerjakan tugas beberes rumah, kamu hanya akan berbaring di atas ranjang menunggu di luar berantakan kembali lalu dibersihkan kembali. Bermain ponsel, menatap layar itu sesekali tersenyum menahan tawa agar tidak terbahak hingga terdengar sampai ruangan luar.

Hidupmu bagai pengangguran, sekolahmu libur karena virus yang menyebar, kamu tidak dihantui tugas, maupun kerja kelompok yang memicu perasaan tidak nyaman.

... Sebagian narasi di atas pasti tidak disetujui kalian.

Oke, akan saya ganti. Kamu tetap bagai pengangguran (semoga saja di masa depan tidak begitu, ya), lalu sekolahmu tetap berjalan bahkan tugasnya malah semakin meningkat setiap hari, gurumu hobi memberi tugas yang materinya baru dan belum dia jelaskan. Pokoknya, sangat menyebalkan! Walaupun kerja kelompok memang ditiadakan, saya rasa hanya itu keuntungan dirimu sekarang, ataukah dahulu.

Kamu nolep dan hidupmu tenang, kuotamu terus terisi karena belajar online setiap saat. Ada kata itu mirip surga dunia, tapi pola hidupmu jadi jelek dan moodmu pun selalu terombang ambing seperti air pasang di bawah kapal feri. Temanmu berkurang, orang tuamu jadi kelihatan menyebalkan. Semakin kedepan ... masalahmu semakin kelihatan—dan, mungkin apabila tidak kamu anggap lebay, kamu akan teriak seperti orang kesurupan sembari mengakhiri dengan; "MENYEBALKAN!"

Tahun corona bagai neraka, eh, bagai ambang keduanya.
Pembawa perubahan drastis bagi kehidupan yang hanya ditemani benda kotak berisi berbagai informasi. Tanpa banyak berinteraksi, banyak hal yang mengubah pelan-pelan bersama waktu yang tidak mau berhenti. Setelah sadar pasa kehidupan, mungkin kamu sedikit lebih suka memilih diam. Sekalipun, benar.

Selama terus bergeming dalam ruang bersama waktu yang berjalan, kamu, saya, mungkin hanya ingin mengatakan satu hal pada dunia yang realita.

"Menyebalkan."

Dan—

"... Mengapa harus menghadirkan aku padahal bukan orang yang dibanggakan?"

HistorisWhere stories live. Discover now