"Ya, baiklah. Aku pasti akan datang ke sana." Beep!
Telepon dimatikan sepihak oleh Tsuki, pacarku.
Kami sudah tiga tahun berpacaran sejak kelas 9 SMP. Pertemuan yang mengejutkan itu ternyata dapat membuat kisah manis dan pahit dalam hubungan kami.
Hari ini Tsuki tanding voli dengan anak-anak Nekoma. Bukan tanding yang serius, sih. Hanya tanding voli antar saudara. Aku juga nggak terlalu paham, tapi ya sudahlah.
Yang paling penting, Tsuki pasti akan memintaku datang dengan alasan-alasan yang tidak jelas. Seperti waktu itu, entah dia bilang takut tiba-tiba kram lah, sakit perut lah, bahkan sampai takut terjatuh dilapangan.
Padahal, aku sudah bilang kalau teman-temannya pasti akan membantu. Tapi, dia malah bilang tidak jadi latihan,
Katanya, "Kau tidak jadi datang? Hm, sepertinya aku juga tidak jadi latihan. Aku malas."
Tapi bukan berarti dia egois. Aku paham apa alasannya, karena Yamaguchi -teman dekat Tsuki- memberi tahuku kalau terkadang Tsuki tidak bersemangat jika tidak ada aku.
Dasar lelaki gengsian. Kalau ingin pacarnya datang, ya, tinggal bilang. Karena tanpa alasan-alasan aneh itu aku juga akan datang.
***
Setelah sampai disekolahan Nekoma, aku langsung menuju lapangan voli tempat Tsuki latihan. Diantar oleh satpam sekolah -maklum, aku tidak hafal ke sekolahan yang baru pertama kali aku datangi.
Aku tersenyum ketika mendapati Tsuki berada dipintu masuk lapangan. Mungkin menungguku.
"Hei, kenapa nggak latihan?" tanyaku sambil sedikit mendongak, menatap cowok tinggi itu.
"Menunggumu." ujarnya, lalu menggenggam tanganku dan membawaku masuk ke dalam lapangan.
"Halo pacar Tsuki!" Ah, aku lupa dengan teman-teman tim nya Tsuki yang sedikit menyebalkan. Mereka selalu mengganggu, meledek, dan sebagiannya. Ketika aku dan Tsuki tengah berduaan.
"Halo Hinata, dimana yang lain?" Tanyaku pada Hinata yang sedang memainkan bola voli ke tembok.
"Di sana," Hinata menunjuk kebelakangku.
Saat aku menoleh, di depan mataku hanya ada telapak tangan besar milik Tsuki yang sebelahnya tidak menggenggam tanganku. Aku mengernyit kebingungan,
"Ada apa? Kenapa ditutup?" Tanyaku, lalu Tsuki melirik sinis ke arah Hinata. Yang mana saat mendapati lirikan sinis itu dia langsung kabur.
"Lagi pada ganti baju, jangan lihat." Pantas saja, Hinata langsung kabur. Iseng sekali dia. "Ah, baiklah,"
"Aku duduk dulu ya, kamu siap-siap sana." Ujarku seraya menunjuk bangku kosong dipinggir lapangan. Tsuki masih menggenggam tanganku beberapa detik sebelum akhirnya aku melepaskannya dan berjalan ke tempat duduk.
Sedangkan Tsuki melanjutkan kegiatannya setelah berganti baju, yaitu pemanasan sambil melirik ke arahku.
Ketika ia sedang melirik-lirik, aku akan memberikan gaya yang lucu-lucu padanya sehingga ia memalingkan wajahnya dengan telinga yang memerah. Pemandangan yang sangat menggemaskan bagiku.
"Oi oi oi! Siapa gadis cantik ini? Kenapa aku baru lihat?" Tiba-tiba datang segerombolan laki-laki lewat didepanku. Orang yang barusan bertanya itu berbadan tinggi dan rambut hitamnya yang... jabrik? Aku tidak tahu bagaimana menyebutnya... intinya, dia menyebalkan.
"Sudahlah Kuroo, jangan ganggu pacarnya Tsuki. Segera pemanasan agar kami bisa langsung mengalahkanmu." Ujar ketua tim Karasuno -tim Tsuki- yang aku ketahui namanya adalah Daichi.
