Prima fillia pov
"Kamu tuh udah 17 tahun harusnya kamu sudah mampu belajar dari temen temen kamu itu, sikap kamu kayak anak anak tau gak?" Tentu air mata belum benar benar jatuh dari mata ku memang harus kuat kan? Menangis hanya menambah beban betul?
Kesalahan pertama ku yaitu terlalu berharap besar kepada orang. Aku tau itu kesalahan terbesar ku benar benar besar hingga menjadi lobang bahkan luka bagi ku hingga saat ini aku memang tak belajar dari kesalahan ku semasa SMP yang di mana orang tua ku sendiri tak mempercayai ku yang seharusnya menjadi pendorong terbaik bagiku saat itu
ya... lucu bukan? menangisi perihal pertemanan agaknya hanya suatu issu yang busuk tapi apakah menangisi issu orang tua seperti ini juga busuk?
"terus kenapa ibu gak belajar dari orang tua teman teman aku? ibu berharap aku menjadi lebih baik dari teman teman ku tapi ibu sama sekali tidak belajar dari orang tua teman teman ku ibu berharap apa?" suara ku bergetar hebat tentu saja sesak benar benar sesak mungki bisa menjadi trauma hebat
"nyesal ibu melahirkan anak bloon kek kamu" kata kata yang terus terngiyang ngiyang katakanlah aku lebay prihal perkataan ibu yang menyakitkan itu tapi itu benar benar menjadi salah satu luka yang dalam bagi ku
'prim lo harus kuat gue tau lo kuat biasanya lo mampu di kayak giniin prim ayo bisa' itu yang benar benar diriku katakan pada diri sendiri karena aku tahu tuhan menurunkan ku sebagai yang pertama bagi orang tua ku untuk kuat akan ekspetasi kedua pihak keluarga
aku memang tidak bisa mengelak dengan serba tuntutan dari dua pihak keluarga untuk menjadi sosok si sempurna ya kan? munafik memang menjadi sosok yang terus bisa tersenyum dan bisa meng handle semuanya dengan genggaman sendiri demi mempertahankan sisi bangga orang orang yang melahirkan ku
"makasih bu udah bilang itu" tak tau apa yang harus aku katakan lagi aku hanya tak ingin cairan di pelupuk mataku tumpah hanya karena aku merasa tak sanggup sebenarnya aku tahu aku lelah tapi siapa yang peduli akan itu? oranng orang hanya mau aku yang sempurna bukan yang lemah dan sekali lagi aku terus teguh pada diri sendiri tuhan tahu akun kuat untuk menghadapi ini bukan?
entahlah apakah ibu merasa bersalah akan penyataannya bearusan atau tidak aku hanya menatap kedua bola mata ibu dengan tatapan kosong namun berat tapi aku rasa ibu bisa melihat bendungan air mata di mata ku lalu aku hanya bisa mengangkat kepala ku dan menatap langit langit agar mataku ini tak meneteskan air mata sama sekali
bisa ternyata aku bisa menahan air mata itu untuk tak menetes hanya saja seperti ada goresan di hati ini dan pergelutan di dalam diri sendiri seperti 'apakah aku memang berguna? apa kah aku benar benar berhak hidup? sepertinya aku punya dosa besar di kehidupan yang lalu mungkin ini memang penebus dosa ku? ya... bisa jadi walau kesannya agak humor tapi sakit'
setelah menatap ibuku aku mengukir sedikit senyum tanganku yang awalnya sedikit mengepal sedikit demi sedikit melonggar awalnya buku buku jariku memutih kini kembali ke warna aslinya aku mengalihkan pandang ku lalu membuang nafas sedikit dan mengangguk tipis berdiri dari dudukku lalu pergi ke kamar mandi ibu melihat gerak gerik ku berfikir mungkin aku akan membalas perdebatannya itu nyatanya aku tak melakukannnya aku berjalan pergi ke kamar mandi menyalakan keran lalu mencuci tanganku sembari membaca basmalah ya... aku memilih berwudhu karena menurutku tak ada yang bisa menolongku di fase di mana jika ku lanjutkan adu kata panas itu hanya lah omong kosong yang sia sia
setelah berwudhu dan membaca doa aku membuka pintu kamar mandi lalu ke betemu kagi dengan tatapan ibu aku mentapnya dengan tatapan tak penuh arti aku berjalan ke kamarku mungkin saja ibu berpikir bahwa aku tebal muka nyatanya aku terbiasa bukan tebal muka
aku mengambil mukena yang memang selalu ada di kamarku dan melaksanakan shalat magrib dan di situlah saat saat di mana aku tau saatnya aku menangis ketika ku angkat kedua tanganku untuk melakukan takbir saat itu pula aku menarik nafas dan air mataku benar benar jatuh melewati pipiku luka yang sendari tadi ku tutup tutupi kini benar benar terbuka lebar tuhanku tahu saat saat terlemah bagiku tuhanku tahu aku punya banyak luka tuhanku tahu aku lemah namun harus kuat dan tuhanku jauh lebih tahu kalau aku benar benar kuat
enam kali sujud ku lakukan dengan banyak doa di curahkan beserta jeritan dalam hati seolah tercurahkan luka batin ku hatiku benar benar sakit sakit sekali bagaikan luka yang tersiram air garam nafasku benar benar bergetar hebat hingga benar benar sesak sesak sekali sulit bagiku bernafas seolah bingung, lelah, dan sakit bercapur aduk
hingga kedua salam mengakhiri shalatku saat itu dzikir dan doa ku terus panjatkan karena aku merasa kalau ini benar benar salahku ya... salahku karena aku tak sesempurna yang mereka ingikan salah ku karena aku tak bisa sesuai ekspetasi mereka salahku yang terlalu bodohdan salahku juga karena aku masih belum mampu
terlalu tak sanggup hingga tak dapat terucap oleh bibir hanya hanyut oleh kata kata dalam hati ku rasa bersalah selalu ada karena aku tak se sempurna yang mereka mau
YOU ARE READING
Farfalla Rotta
Teen FictionPrima Fillia ialah gadis yang terlahir sebagai anak sulung dan tentu saja memiliki sikap keras kepala, perfesionis, dan tebal muka ohh yaa... memang membuat dongkol banyak orang tak terkecuali keluarganya Tapi... apa kamu tau ada luka tersirat dan...
