REBIRTH II : The Bloody Moon In The Dawn Sky
Aku mengorek luka
Persembahan tuk bulan berdarah
Menyeret jiwa pada kegelapan
Tak bertepi
Tak bernada
Tanah tak lagi datar pun bergelombang
Raga tak berjiwa
Menantimu di ujung fajar
Mati terbakar
••••
Suara denting pedang yang saling beradu memenuhi telinganya. Di tengah gerakan pedangnya, napas Qian Mei memburu cepat, dia mulai merasa kelelahan di tengah pertarungan yang tidak imbang. Terlebih lagi jumlah orang bertopeng yang harus dia hadapi terus menyerangnya dari berbagai sisi, membuat Qian Mei kian terpojok.
Menyadari bahwa dirinya tidak akan mampu untuk melawan orang-orang bertopeng yang berjumlah belasan itu sendirian, Qian Mei memutuskan untuk melarikan diri. Hal paling penting saat ini bukan mencari tahu apa yang para bandit itu inginkan darinya, melainkan menyelamatkan nyawanya lebih dulu. Di tengah langkahnya yang terseok-seok, sebuah anak panah melesat cepat menggores lengan kirinya. Qian Mei jatuh tersungkur.
Satu hal yang Qian Mei sadari, orang-orang yang menyerangnya saat ini bukanlah bandit atau penjahat biasa. Kemampuan bela diri dan pedang mereka di atas rata-rata. Dia tidak perlu terlalu pintar untuk menyimpulkan bahwa orang-orang bertopeng ini hendak membunuhnya.
Situasinya kini terpojok oleh beberapa mata pedang yang mengarah padanya, bersiap untuk menebas lehernya dalam sekali gerakan. Qian Mei menatap mereka dengan tatapan nyalang. Tak ada ketakutan dalam sorot matanya. Membayangkan hari ini mungkin akan menjadi hari kematiannya, Qian Mei sama sekali tidak takut. Tak ada apa pun yang dia sesali.
Lagi pula, dirinya juga sudah lama mati di dalam sana. Jadi, tak ada apa pun yang dia harapkan jika dia mati hari ini. Namun, jika dia selamat dari insiden ini, dia bersumpah akan mengejar siapa pun yang dengan berani mengincar dirinya.
"Siapa yang mengirim kalian untuk membunuhku?" Pertanyaan dengan nada tajam dan dingin itu meluncur dari bibir Qian Mei, penuh penekanan. Dia memegangi lengan kirinya. Darah segar merembes keluar. Setengah lengannya basah oleh darah.
Salah seorang dari mereka berjalan mendekati Qian Mei. Pria itu menyeringai di balik topengnya. "Siapa yang mengirim kami itu tidak penting, karena yang terpenting adalah dia membayar mahal untuk kepalamu."
Qian Mei tertawa sinis. "Lalu, kenapa kau terlihat ragu untuk mengayunkan pedangmu?" Qian Mei meletakkan pedangnya ke samping tubuhnya, lalu mengangkat kedua tangannya, menunjukkan pada mereka bahwa dirinya sama sekali tak bersenjata. "Ayo! Kau bisa dengan mudah menebas kepalaku saat ini juga! Tapi ..." Qian Mei memicingkan kedua matanya, menatap ketua bandit tersebut dengan seringai dingin di wajahnya. "Raja akan mengejar kalian karena berani membunuh putrinya!"
Sejenak, ada perasaan gentar saat mendengar kalimat Qian Mei, tatapan mereka berubah ragu.
"Raja tidak akan bisa melakukannya!" balas ketua bandit dengan percaya diri. Ujung pedang kini benar-benar menempel sepenuhnya di leher Qian Mei, namun perempuan itu berusaha untuk tidak gentar sedikitpun. Setelah mengumpulkan tenaganya yang masih tersisa, tangannya diam-diam mengambil pedang yang tergeletak di samping tubuhnya, dengan gerakan cepat dia berputar lalu menendang bandit yang berdiri di dekatnya.
Untuk sejenak, Qian Mei berada di atas angin, namun karena tenaganya yang benar-benar mulai terkuras habis dan luka menganga di lengannya, salah seorang dari mereka berhasil menusuk perut Qian Mei. Perempuan itu seketika tumbang. Darah segar merembes membasahi pakaiannya.
Qian Mei meringis pelan. Di tengah rasa sakit yang mencekiknya, dia tertawa sumbang, mengundang kerutan di kening para bandit tersebut.
"Kalian pikir bisa membunuhku dengan mudah?" desis Qian Mei, tajam. "Aku akan menemukan kalian bagaimana pun caranya!"
YOU ARE READING
The Bloody Moon In The Dawn Sky
FantasyNote : Cerita ini adalah bagian dari REBIRTH SERIES ••••• Feng Ying tidak menyangka bahwa popularitas yang membawanya ke puncak, pada akhirnya mampu menjatuhkannya dalam satu hentakan. Rumor kejam yang menimpa dirinya membuat Feng Ying kehilangan ha...
