On Your Motorbike

865 96 6
                                        

"Fuck"

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

"Fuck"

Ten menghela nafas sebal, setengah membanting pintu mobil, kakinya melangkah tergesa ke depan kap mobil. Ten bisa melihat asap tipis keluar dari sela kap, dan saat dibuka, asap itu mengepul ke wajahnya.

"What the hell" Keluh Ten lagi, setengah menggumam

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

"What the hell" Keluh Ten lagi, setengah menggumam. Padahal semalam saat dibawa ngebut, Jeep itu masih baik-baik saja.

Celingak-celinguk, Ten mencari seseorang untuk minta tolong. Sayangnya, jalanan di daerah ini selalu sepi, dan kalaupun ada orang, belum tentu mereka bisa membantu.

Ten memijit dahinya pusing. Ia mengeluarkan ponselnya, menelpon kakaknya untuk menghubungkannya ke bengkel. Setelahnya, Ten dengan cepat mengirimkan lokasinya sekarang. Setengah menggerutu, Ten membuka aplikasi transportasi online yang biasanya cuma ia pakai untuk membeli makanan di luar—not that he use it frequently though, his family own professional chef ready for them to cook whatever they want.

"Ten?"

Ten terperanjat kecil. Ia menoleh, mendapati seseorang dengan helm dan jaket denim duduk di atas moge—uh, what is that? Ten tidak begitu tahu merk dan jenis motor.

Seseorang itu melepaskan helmnya, menampilkan wajah yang masih mengenakan masker kain. Bahkan sebelum maskernya diturunkan, Ten sudah melipat bibirnya gugup, bisa menebak siapa lelaki di depannya. Satu-satunya siswa yang terlihat sering mengenakan pair baju corak kerangka dari brand streetwear Jepang Kapital—yang sebenarnya tidak begitu berkesan untuk Ten—dan koleksi sepatu Nike yang bisa tiap hari ganti.

 Satu-satunya siswa yang terlihat sering mengenakan pair baju corak kerangka dari brand streetwear Jepang Kapital—yang sebenarnya tidak begitu berkesan untuk Ten—dan koleksi sepatu Nike yang bisa tiap hari ganti

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Namanya Taeyong. Seniornya, teman kakak keduanya. Mantan crushnya, sebutlah begitu sampai kemudian crush itu berubah jadi crash karena ramai beredar kabar kalau si kakak kelas sudah punya pacar semenjak junior high school. Dan perempuan pacarnya Taeyong itu, hell, she got modelesque figure she could pass as Miss Universe if she want to even though she's still a highschooler.

"Mobilnya kenapa?" Tanya Taeyong sambil turun dari motor.

"Gue udah calling orang bengkel kok" Jawab Ten tidak sinkron dengan pertanyaan Taeyong, sedikit gugup. Tapi untungnya Taeyong cuma mengangguk tipis.

"Lu lagi nunggu mereka? Bisa ditinggal aja, kan?"

Ten mengangguk. Tangannya mengacung, menunjukkan layar ponselnya yang sedang membuka home aplikasi ojek online.

"Bareng gue aja, nggak usah ngojek. Lu ada helm?"

Ten mengangguk lagi. Ia berjalan tergesa, membuka bagasi mobilnya, meraih helm yang biasa ia taruh di sana. Tak lupa ia meraih backpack Gucci kesayangannya edisi Kai penyanyi kpop itu dari dalam mobil—yang isinya cuma Pad dan dompet, juga parfum dan beberapa barang esensial lain. Sedangkan buku-buku pelajaran yang jumlahnya tidak begitu banyak itu—karena pada dasarnya sekolah mereka menerapkan digital base learning—ada di loker sekolah.

"Yuk, bentar lagi bel" Bilang Taeyong, segera naik ke motornya

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

"Yuk, bentar lagi bel" Bilang Taeyong, segera naik ke motornya. Oke, sekarang Ten bingung bagaimana cara naik motor begini karena kakinya tidak sampai ke atas jok penumpang yang jauh lebih tinggi dari jok pengendaranya. Bang Ian punya motor gede satu, tapi jenisnya sedikit berbeda, joknya rata antara depan dan belakang. Dan lagi... Apakah jok belakang itu tidak akan patah kalau Ten naiki? Melihat bentuknya yang cukup kecil dan terlihat ringkih. Dari kecil, bisa dihitung jari berapa kali Ten naik motor. Itulah sebabnya ia sedikit tak yakin.

Bagaimana caranya naik motor begini?

Apa Ten harus lompat seperti Timmy—tupai peliharaan ibunya itu?

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Apa Ten harus lompat seperti Timmy—tupai peliharaan ibunya itu?

"Sorry" Bilang Taeyong tiba-tiba, tangannya cekatan bergerak, menurunkan pijakan kaki di belakang.

"Here's your hand" Pinta Taeyong, Ten manut mengulurkan tangannya, membiarkan Taeyong memegang tangannya dan ia arahnya ke pundaknya.

"Tumpu kaki kiri lu ke footstepnya" Bilang Taeyong. Ah, Ten mengerti, walau sedikit ngeri takut Taeyong tidak bisa menahan berat badannya. Tapi Taeyong nampak tidak kesusahan sama sekali. Motornya bahkan tidak oleng sedikit pun saat Ten naik. Ditahan Taeyong dengan sempurna.

"Udah? Hold me tight" bilang Taeyong lagi. Suaranya terdengar lembut di telinga Ten.

'Oh, c'mon! I have bf already' keluh Ten dalam hati berkali-kali, dengan tubuh yang otomatis mencondong dan tangan yang melingkar erat di pinggang Taeyong.

tbc

Haute École [Taeten]Stories to obsess over. Discover now