"Buruan bego ke sini!!"
"Aman ga cuy di sini? ketauan gua salahin lu."
"Aman anjing percaya dah sama gua."
"Si Firza suruh buruan gitu, lama amat tuh anak kencing doang."
Disaat semua murid melaksanakan upacara bendera dan hanya mereka saja yang bersembunyi di pojok ruang kelas kosong yang sudah tidak terpakai untuk bersembunyi dari para osis yang sedang berjaga.
"Tadi sampai menit keberapa cuy?"
"2:56"
"Gantilah jangan Jepang, berisik cewe Jepang tuh mending Western ajalah."
"Tanggung 2 Menit lagi juga beres dah ni video."
"Ganti ganti wae kek lu ada aja yang bagus."
Selama jam upacara dilaksanakan, yang mereka lakukan hanya menonton video p*rno yang sama dan diputar berkali-kali agar menghilangkan rasa bosan selama jam upacara dimulai. Tapi entah ada yang berbeda pada Firza selama mereka memutar video p*rno, dia hanya terdiam melihat video yang sedang diputar dan melamun seperti sedang memikirkan sesuatu.
1 Jam lalu...
"Males amat dah upacara mending turu, mana sekarang ada pengumuman siswa berprestasi anjirlah makin lama dah tuh upacara tsk."
Firza yang sedang berjalan menuju toilet untuk membuang air kecil terhenti saat melihat Haikal yang begitu terburu-buru dengan wajah yang sangat merah dan telapak tangan yang diletakkan di depan celananya menuju toilet yang sama.
Dengan pikiran yang sudah curiga dan penuh tanda tanya, Firza mengikuti Haikal dengan sembunyi-sembunyi untuk mengetahui apa yang anak itu lakukan di toilet. Melihat Haikal yang begitu terburu-buru memasuki pintu toilet dan menutupnya dengan kencang membuat pikiran Firza menjadi kemana-mana.
"Hahahaha gua ga nyangka si bendahara ternyata suka ngaceng pagi-pagi, mayan nih gua videoin terus gua ancem dia biar gua ga usah bayar tuh duit kelasan."
Tapi entah apa yang membuat Firza sehingga lupa untuk merekam Haikal, saat dia melihat wajah yang begitu penuh dengan gairah. Wajah yang memerah seperti kepiting rebus dengan keringat yang begitu banyak memenuhi wajahnya yang terlihat sangat polos, mulut yang terbuka sedikit dan hanya memerlihatkan saliva yang keluar melewati bibirnya yang kecil membuat Firza membeku akan ekspresi yang dibuat Haikal.
Tangan yang begitu kaku saat menggerakkannya membuat wajahnya menjadi sangat frustasi. Terus dan terus dia lakukan tapi tidak berdampak apapun pada p*nisnya dan hanya membuat seragamnya menjadi basah karna penuh dengan keringat.
"Ayo turun.. Kenapa ga turun turun!!" Wajah frustasi yang dibuatnya entah kenapa begitu menarik perhatian Firza daripada wanita-wanita dalam video p*rno yang sering dia lihat. Melihat ekspresi wajah yang begitu sedih, kesal dan frustasi yang dialami Haikal membuat Firza ingin menyentuhnya.
Wajah yang memerah sampai telinga dan leher dengan hidung yang kembang kempis karna suhu badan yang begitu panas, tangan yang tidak hentinya ia gerakkan hingga membuat dadanya terus maju.
'ANJING ANJING ANJING KOK GUA IKUT NGACENG!!'
Sudah lebih dari 8 menit Firza terus memperhatikan Haikal dalam celah pintu toilet samping yang begitu sangat menarik baginya sehingga lupa tujuan ia datang ke toilet untuk buang air kecil.
"Aduh engga lagi deh gua baca komik pagi-pagi."
Melihat Haikal yang sudah keluar dari dalam toilet membuat Firza kembali penuh pada kesadarannya. Mengamati Haikal yang sedang mencuci tangan dan membasuh wajahnya membuat Firza memikirkan apa yang sudah ia lakukan, merasa Haikal sudah keluar dari toilet dan menuju lapangan untuk melaksanakan upacara Firza pun keluar dan melakukan hal yang sama dengan mencuci tangan dan membasuh wajahnya.
'Anjing gua masa ikut ngaceng liat wajahnya, iihh najis parah'
.
.
.
.
.
.
"Napa lu bengong terus?" Tanya Rizal pada Firza.
"Hah?"
"Hah hoh hah hoh, tuh lu dipanggil sama si Haikal pasti ditagih uang kas."
Tersentak akan ucapan Rizal yang menyebut Haikal memanggilnya membuat Firza cepat-cepat menoleh pada ujung bangku belakang untuk melihatnya. Dan benar saja, Haikal sedang menatapnya dengan ekspresi marah dan tangan yang menjadi tompangan wajahnya di atas meja.
"Firza lu pengen gua yang ke sana apa lu yang ke sini?" Ucap Haikal yang membuat Firza tersentak untuk kedua kalinya membuat ia buru-buru mendatangi Haikal.
"Duh gua kaga ada duit kal... Besok deh ya janji~"
"Besok besok besok terus aja gitu sampe lulus sekolah, cuma dua rebu doang emang engga punya? terus lu tadi ke sekolah pake apa? jalan? dianterin? apa terbang? bayar buru! awas aja gua liat lu istirahat jajan gua tinju muka lu ya."
"Iyaa~ kal janji besok... Tapi gua istirahat bakal jajan soalnya buat makan kan kalo ga makan nanti pusing terus sakit... Emang lu mau tanggung jawab?"
"Alesan doang."
Setelah berbicara dengan Haikal buru-buru Firza berbalik dan duduk ditempatnya. Hanya karna bicara dengan Haikal sudah membuat jantungnya begitu kencang.
'Anjing kok gua deg-degan gini si, biasanya juga santai wae ngomong sama dia.'
Memikirkan kejadian saat di toilet membuat Firza tidak bisa fokus pada jam pelajaran berlangsung dan yang hanya ia lakukan hanya bengong.
.
.
.
KAMU SEDANG MEMBACA
Just 2 Us
Fiksi Remaja"Hahahaha engga mungkin gua suka sama dia najis parah." Kejadian tidak sengaja yang dialami Firza membuat ia terus berpikir ada yang salah dalam dirinya, terus dan terus ia hilangkan malah semakin terus muncul dalam pikirannya.
