Part One: Antara Raya dan Obsesi.
_______________________________
Nyatanya, rasa ini membunuh, jua menyembuh.
Adinaraya Pratista
________________________________
o0o
"GENTA!"
"Genta ganteng banget, anjir!"
"Genta punya gue, titik!"
"Pala lo kotak! Jelas-jelas dia punya gue!"
"Nge-halu mulu lo, belajar sana biar otaknya nggak tumpul."
Begitu lah kira-kira suasana di kelas XII Sosial 1, begitu rusuh dan kurang terkendali. Hal itu 'tak jauh dari satu nama yang selalu menjadi bahan 'histeria' para siswi SMA Danadyaksa.
Genta Putra Pamungkas, namanya. Siswa sekolah SMA Pertiwi, yang berlokasi tepat di sebelah SMA Danadyaksa. Kedua sekolah ini saling bersaing untuk mengharumkan nama secara ketat dan terkesan berlebihan. Masing-masing membatasi muridnya untuk berinteraksi secara lebih. Bahkan, kedua sekolah ini mengirimkan mata-mata untuk memantau para murid yang berani melanggar peraturan yang telah dibuat oleh sekolah.
Berbicara tentang Genta yang merupakan siswa sekolah sebelah, bukanlah perbuatan yang aman. Mereka bisa saja dikenai sanksi berat maupun ringan, tergantung jenis pelanggaran seperti apa yang telah dilakukan. Apalagi, jika hal itu menyangkut sekolah saingan mereka.
Namun, lagi-lagi ancaman itu kurang atau bahkan sama sekali tidak digubris oleh siswi SMA Danadyaksa. Tiada kata "berhenti" yang dapat menghentikan mereka, kecuali jika kata itu diikarkan sendiri oleh Genta.
"Berisik banget, sih," ucap Raya yang baru saja memasuki kelas. Gadis itu kemudian meletakkan tasnya ke atas meja, beralih duduk sembari berpangku tangan di dagu, dan manik kembar itu secara intens menatap kerumunan teman sekelasnya.
"Bacot. Kayak lo nggak aja," sahut Dinda.
Raya menghela nafas lelah. "Lagi nggak mood. Soalnya 'pacar' gue nggak upload apa-apa dari kemarin. 'Kan gue khawatir kalau 'dia' kenapa-kenapa."
Raya beralih menatap Dinda. "Lo juga, harusnya lo setor foto baru buat persediaan nge-halu gue. Gimana, sih."
Gadis itu mengendikkan bahu. "Dia gak ada up apa-apa. Ya, mau gimana lagi, coba."
"Mood gue langsung hilang. Bete banget, ah. Gue butuh Genta."
Dinda yang sudah kepalang gemas, pun, lantas mencubit kedua pipi berisi itu dengan kencang, dibalas tepisan oleh Raya yang kini meringis, sekaligus kesal.
"Sakit, bego!" cetus Raya jengkel.
"Gemes gue sama lo, tahu gak. Tiap hari Genta terus. Lo nggak bosen emang?"
Raya menatap tajam Dinda. "Bosen? Kayaknya nunggu kiamat dulu, baru bosennya hilang. Alias, nggak mungkin!"
Dinda hanya bisa menggelengkan kepala. Sudah terlalu hapal akan bagaimana besarnya rasa obsesi sang sahabat terhadap seorang pemuda tampan siswa sekolah sebelah, yang sayangnya 'tak pernah dilihat secara langsung oleh mata telanjang.
"Hmm, Ra,"
"Ngapa?"
"Kalau gue suruh lo buat berhenti suka sama Genta, gimana?" Dinda menatap Raya dengan lekat.
أنت تقرأ
HALU
أدب المراهقين[SUDAH TERBIT] Ini kisah tentang Raya yang menyukai sang Pujaan Hati, tanpa pernah bertatap muka. Cerita tentang seorang gadis, yang ter-obsesi dengan sesosok pemuda tampan penuh pesona, bernama Genta. Seolah terjebak pada dimensi penuh imajinasi...
