Riley Calum pindah ke Manhattan untuk menghindari kehidupan pernikahan sang ayah dan istri barunya.
Tiba di Manhattan, dia bersekolah di Westville High. Di sekolah barunya itulah dia bertemu Ken Lee, laki-laki yang dikenal oleh semua orang sebagai...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
"Sial!"
Sepatu bot murahku tercebur ke dalam kubangan air ketika aku turun dari taksi. Aku mengumpat sekali lagi sebelum akhirnya meloncatkan kedua kakiku ke atas rumput-rumput hijau basah beberapa senti di seberangku.
Aku memandang sepasang sepatu bot ungu milikku kini berwarna cokelat kumal di bagian bawahnya.
"Ah, berengsek," umpatku seraya mengibaskan kakiku di udara agar lumpur yang menempel di sepatuku sedikit tersingkir.
Suara bagasi mobil terdengar dibanting, aku menoleh ke belakang, sopir taksiku ternyata telah mengeluarkan koper merahku dari bagasi.
"Thank you, Sir," ucapku, lalu sopir taksi itu mengulang berterima kasih dan dia melesatkan mobil sedan kuning miliknya dari pekarangan rumah.
Aku menyaksikan mobil taksi butut itu hingga menghilang di belokan jalan yang jauh di sana. Memang aneh menunggu taksi itu hingga sirna dari pandangan, namun aku melakukannya karena seketika aku menjadi enggan untuk masuk ke dalam rumah itu, rumah ibuku.
Aku berkacak pinggang, lalu menyugar rambutku selagi berpikir untuk menyetop taksi lain dan menetap di penginapan selama aku tinggal di Manhattan. Tapi tentu pikiranku itu langsung ditepis dengan bagaimana mungkin aku bisa menghidupi diriku sendiri selama tinggal di kota ini?
Di saat bersamaan, seorang wanita keluar dari rumah, aku dan wanita itu melakukan kontak mata singkat. Lalu wanita itu melangkah dengan gerakan kaki yang dipercepat sehingga kini dia sudah berada di hadapanku.
"Hei," sapaku canggung dengan sebelah tanganku diangkat.
Jane, maksudku, ibuku membalas sapaan dengan tak kalah kikuk, "Well, hai, Riley. Lama tidak berjumpa."
Aku mengangguk kaku, lalu merespon, "Ya, lama tidak berjumpa juga."
Aku meneliti ibuku secara singkat. Dia memakai sweater hijau tua yang kerahnya menutupi leher, bajunya tersebut dilengkapi dengan celana longgar coklat susu yang menjuntai hingga hampir menutup seluruh kakinya. Terlepas dari pakaiannya, aku beralih pada wajah wanita paruh baya itu, garis-garis halus menempati bagian bawah matanya. Keriput juga hinggap di beberapa bagian wajah dan di tangannya. Jane terlihat berbeda, namun tetaplah orang yang sama yang rumahnya kutinggalkan delapan tahun yang lalu.
Benar, delapan tahun, bukan waktu yang sebentar bagi wajah dan tubuh Jane untuk digerus oleh penuaan. Sebagaimana delapan tahun bagiku adalah waktu yang cukup lama sehingga aku kini adalah seorang gadis berumur 18 tahun yang menyedihkan.
"Kau sudah besar, Riley. Kau terlihat sehat," ucapnya, gestur tangannya seakan ingin memelukku, namun diurungkannya dan hanya menepuk sebelah lenganku.
"Kau juga Jane. You look great," balasku canggung.
"Masuklah, Riley," ucap Jane, lalu langkahnya buru-buru melewatiku dan dia langsung menyeret koperku untuk dimasukkan ke dalam rumah.
"Aku bisa membawanya sendiri," kataku dan Jane langsung menolak.
Aku tak berniat untuk tetap bersikeras membawa koperku sendiri, sehingga aku masuk ke dalam rumah sesaat setelah Jane telah masuk lebih dulu.
Ketika aku menginjakkan kaki ke dalam, sekelebat memori terlintas di ingatanku. Diriku yang saat ini melakukan kilas balik tentang bagaimana aku besar di rumah ini sampai aku berumur 10 tahun. Jane sudah menaiki tangga menuju lantai atas ketika aku masih berdiam diri menatap sekeliling ruang tamu.
"Riley!" panggil Jane dari atas sana.
"Aku datang!" Aku menyahut dan segera bergerak menuju tangga.
Suara kakiku terdengar heboh sepanjang aku melangkah di atas anak-anak tangga. Setibanya di lantai dua, aku menengok ke kanan dan ke kiri-mencari Jane di antara empat ruangan. Seperti mengetahui kebingunganku, terdengar suara Jane yang sedikit teredam.
"Di sini, Rile."
Aku mengikuti suara Jane yang ternyata berada di ruangan paling pojok sebelah kanan. Aku berderap menuju ruangan tempat Jane berada seraya dengan singkat mengamati dua ruangan yang kulewati.
Aku berdiri di mulut pintu, mataku melihat Jane yang berdiri di tengah ruangan. Kedua kakiku lalu melangkah masuk dan aku menjadi lebih leluasa untuk memperhatikan setiap detail di ruangan yang sekarang menjadi...kamar tidurku? Well, maksudku ruangan ini dulunya memanglah kamarku, dan karena Jane menyeret koperku kemari, pastilah aku akan kembali menetap di kamar ini.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Jane.
Aku melihat sekeliling, lalu menjawab, "Bagus."
Biru pastel melapisi tiap sudut dinding kamarku yang sebelumnya berwarna merah muda. Namun bukan hanya itu perubahan yang terjadi di kamar ini. Aku ingat dulu menempel beberapa poster Powe Puff Girls dan Ben Ten di beberapa spot dinding, dan sekarang poster-poster kartun itu tak ada lagi di sini.
Sedari aku memperhatikan kamarku, aku tertarik pada sebuah meja belajar putih yang tampak baru yang terletak satu meter di sebelah tempat tidurku. Meja tersebut dilengkapi tiga buah laci di bagian bawahnya dan terdapat sekat bertingkat di atas permukaan meja yang bisa digunakan untuk meletakkan buku atau benda-benda lain.
Aku ingat dulu selalu menginginkan meja belajar seperti ini, tetapi aku tak pernah mendapatkannya.
"Aku merombak beberapa karena kurasa kau terlalu dewasa untuk warna pink dan poster kartun-kartun itu," ungkap Jane yang sebenarnya tak kusetujui. Tidak pernah ada kata terlalu tua atau dewasa untuk tetap menyukai Ben Ten dan Power Puff Girls.
Namun alih-alih menyatakan kebalikan pendapatku mengenai para kartun itu, aku menjawab, "Benar, aku sudah terlalu tua untuk itu."
Jane tertawa kecil menanggapi ucapanku, setelah itu beberapa detik di antara kami berjalan sedikit canggung, untungnya Jane paham akan situasi dan dia hendak bergegas meninggalkan kamar.
"Aku akan membiarkanmu merapikan barang-barangmu, oke...dah," ucap Jane sebelum akhirnya dia benar-benar keluar dari kamar dan langkahnya terdengar mulai menjauh ke anak-anak tangga menuju lantai bawah.
Kepergian Jane membawaku pada kebebasan jiwa yang lepas dari situasi kikuk dan canggung. Aku menghela napas, lalu kuambrukkan tubuhku ke atas tempat tidur, kedua mataku menatap langit-langit putih kamar, dan aku pun bermonolog dengan batinku.
Apa aku membuat keputusan tepat dengan datang ke tempat ini?
Apa seharusnya aku tetap tinggal di tempat Ayah dan bertahan hidup dengan istri baru tercintanya dan anak-anak tirinya yang lebih dimanja ketimbang aku, anaknya yang dialiri DNA yang sama dengannya?
Pikiranku berkecamuk antara dua pilihan dengan masing-masing memiliki sedikit peluang bagiku untuk lebih bahagia. Hidupku tidak sengsara amat, sih. Tetapi kalau dibilang hidupku bahagia, itu terlalu berlebihan.
Berpikir membuatku lelah, aku memejamkan mataku tanpa ada niatan untuk tidur, namun aku malah terlelap dan terbangun ketika cahaya oranye menerpa wajahku melalui celah dari jendela yang luput dari tutupan tirai.
Ternyata sudah sore.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.