01 : Isthika Sila Laksmi

39 4 30
                                        

Cantik tak menjamin kamu didekati orang orang baik. Malahan orang orang picik yang terus mengerubungi. Setidaknya itu yang Sisil pikirkan. Bukan tanpa dasar, itu semua merupakan pengalamannya. Mau sekencang apapun teman-temannya berteriak, "Sil, kamu tuh cantik." Atau, "Sil kamu tuh cantikk banget!" Tetap saja Sisil tak puas.

Cowo-cowo yang mendekatinya tak jauh fakboi jancuk atau buaya iprit yang niatnya menjadikan Sisil sebagai piala bergilir. Menyusun permainan dengan teman temannya kira kira siapa yang bisa mendapatkan hati gadis bernama panjang Isthika Sila Laksmi itu. Patut dipotong anu-nya satu-satu.

Sementara jauh dari cowo-cowo bajingan itu, gebetannya Biru terus memilih untuk diam membisu mau taktik apapun yang Sisil pakai untuk pedekate. Mau ia terang-terangan, kode-kodean, atau mengagumi dalam diam, semuanya nyaris tak ada yang membuatnya bereaksi. Entah Sisil tak tahu Biru itu memang sangat tak tertarik padanya atau tingkat kepekaannya sangat rendah tak seperti mahkluk hidup, namun itu tetap membuatnya sangat kesal. Begitu jengkel hingga kadang Sisil ingin menampiling wajah tampannya pakai sepatu pantofel milik Ayah. Namun apa daya, sekali bertemu pun, Sisil sudah jauh lebih dulu kena peletnya. Terhanyut dalam derasnya pesona wajah seorang Biru Aji Samudra. Tenggelam dalam namanya, tak bisa kembali ke tepian.

"Biru itu bangsat, tapi gue demen." Di akhir kalimatnya, Sisil memejamkan mata sembari berdecak kesal. Sudut perpustakaan yang sepi, kini dipenuhi aura kengenesan Sisil yang tetap memilih jomblo sejak lahir gara gara ngejar Biru Aji. Dan tadi di gerbang kampus, ia baru saja menyaksikan untuk yang keseratus kalinya, bagaimana lelaki itu memalingkan wajah. Hampir ia pukul pakai pentongan Pak Satpam.

"Apa dulu gue pernah dikasih makanan apa gitu sama dia, atau minum, atau benda. Tapi perasaan, dia gak pernah ngasih gue apa apa. Apapun bahkan hatinya."

"Jadi apa media peletnya, ya, Sin?"

Gadis yang ia ajukan pertanyaan hanya bergeridik tak mau ambil pusing sambil terus mengunyah permen kakinya. Sementara di meja, sudah berserakan beberapa bungkus dari permen tersebut yang terlalu malas mereka buang sekarang.

"Eh, gue lupa! Pelet gak perlu ada medianya. Dia cukup pake poto gue, terus ke mbah dukun, terus sat set sat set, terus gue terjebak dalam kisah cinta sendiri selamanyaaa..."

Tangannya meraung-raung ke udara. Menggambarkan betapa besarnya arti kata selamanya itu. Lalu setelahnya, Sisil menjatuhkan wajahnya pada meja. Patah semangat hidup saat membayangkan akan betapa menyedihkannya ia kalau sampai entah kapan harus jatuh terjerumus dalam cinta yang tak berbalas. Tak bersama siapapun karena ingin bersama Biru, saat teman temannya pamer kemesraan. Duduk ngenes di pojok kamar, saat para sejoli malam mingguan. Persis chat khasnya, Biru itu ingin tak hih!

"Eh betewe, lo ngapain kesini deh? Bukannya classmeet sekarang lo gak berpartisipasi? Teladan amat." Sisil bertanya, mengakhiri keheningan di antara mereka yang disebabkan sahabat yang bernama Sinta itu terus enggan lepas dari handphonenya. Main game bareng ayang.

"Gue mau liat ayang Awan, dong. Gue gak sengenes lo."

Rasanya Ingin Sisil banting hape itu sekarang juga. Tapi mau semarah apapun, sahabatnya itu memang benar. Sisil itu sungguh menyedihkan. Lihat bagaimana riwayat chatnya dengan Biru, nyaris dipenuhi emoji batu. Entah apa yang merasuki pria itu.

Sakit hati lalu bangkit lagi. Percaya diri lalu jatuh berkali-kali. Kisah percintaannya tak weleh roda yang berputar. Namun ketika nasib cintanya sedang ada di bagian bawah, roda itu secara ajaib macet tak jalan. Menjadikan kisah cintanya paling memprihatinkan dari semua kisah romansa sahabatnya. Lebih pedih lagi, selain kisah cinta, Sisil juga punya lingkungan keluarga yang entahlah... Mungkin memang ia yang kurang bersyukur.

Mama hampir setiap pagi mengantar sang adik ke sekolah SMP-nya, yang kebetulan sekali sangat tak sejalur dengan sekolah Sisil. Ayah kerja pergi malam pulang malam, membuatnya harus naik angkutan umum tiap pagi. Namun, kadang Sisil bahagia juga, karena itu seluruh siswa angkatannya berbondong bondong memanggilnya independent women. Membuat hidungnya kerap merekah jika sudah ngobrol dengan mereka.

SerangkaiStories to obsess over. Discover now