Hujan musim gugur adalah apa yang paling di benci oleh Afrós, terlebih ketika hujan itu membasahi mantel hitam dirinya yang setia meneduhkan wajah pada nisan putih masih segar dihadapannya. Cukup ironis sebenarnya untuk seorang bernama 'hujan' untuk membenci hujan
Ukiran nama yang tintanya masih sangat hitam itu ia belai lembut seakan dirinya membelai wajah kekasihnya yang kini tertimbun dibawah tanah jauh dibawah kakinya. Setiap usapan layaknya goresan pada hati yang masih enggan percaya bahwa sang kekasih telah pergi
"Why is this have to end this way?"
Isakannya kembali terdengar, bersahut-sahutan dengan petir yang menggelegar dibalik awan nun jauh diatas kepala namun terasa dekat pada telinga seakan berusaha menutup pendengaran Afrós menjauhkan dirinya dari suara tangisnya sendiri yang membuat siapapun jika mendengarnya akan merasakan empati menyeruak
Tubuhnya lemas sepersekian detik lalu terjatuh di atas tanah becek yang sama sekali tak ia pedulikan. Afrós hanya ingin memeluk kekasihnya sekali saja,
Sekali untuk terakhir kali
"Bahkan ketika kematian membawamu pergi, tolong ingat bahwa hatimu masih ada digenggamanku"
"Kematian mu adalah apa yang paling aku takuti namun takut itu kini rasanya menjadi satu dengan ku. Benar-benar seperti tak ada celah untuk bernafas barang sedetik...
The pain is much more to bare with
Kalau kamu disini mungkin kamu sudah memelukku dan membawa diriku pergi sejenak menonton Stranger Things—kesukaan kita, sembari menunggu kewarasanku berkumpul kembali dan membawaku pergi jauh ke alam mimpi dimana tak ada yang bisa menyakiti"
"Andai kewarasanku bisa kembali dan membawaku pergi.."
"Pergi jauh ke tempat dimana aku bisa bertemu kamu lagi dan menagih janji untuk kita bersama kembali"
Afrós bangkit lalu memeluk batu nisan dan mengeluarkan semua air mata walau eksistensi nya samar, bersatu dengan guyur hujan deras.
"If only our promise to be together forever is enough to pull you back alive"
Di lepasnya nisan dan di paksanya kedua kaki untuk berdiri, menatap nisan dengan sejuta sakit yang menampar diri layaknya hujan yang menampar dirinya untuk sadar dan pergi dari tempat itu
Langkah kaki suara nya teredam becek, menjauh pergi dan akhirnya tak kembali. Tertutupnya gerbang pemakaman membawa keluar Afrós yang sudah ditunggu sang mama didepan mobil mereka dengan payung hitam dan rasa khawatir yang menggeliat
Supir membawa mereka pulang kerumah dengan suasana "tak hidup" yang lucunya keluar dari para insan bernafas. Afrós duduk sembari termenung mengalihkan dirinya pada dunia di balik kaca mobil yang berembun
Namun damai renungan terpecah ketika entah bagaimana ceritanya kaca di depan batang hidung nya semakin pekat embun menempel. Goresan-goresan abstrak seketika memenuhi kaca mobil seperti ada tangan manusia yang mencoreng embun itu, Afrós melonjak terkejut membuat sang mama menoleh
"Afrós, kenapa sayang?"
Afrós terdiam, meneguk saliva dan rasa terkejutnya yang kini menggerayangi hati
"Nothing. Nothing happened"
Afrós menunduk membuat mama ikut diam berusaha membiarkan Afrós yang mungkin masih berada di antara rasa duka
Merasa sang ibunda kini kembali pada pikirannya, Afrós memberanikan diri kembali melihat kaca jendela mobil yang masih tertutup embun. Goresan itu nampaknya menunggu Afrós untuk kembali melihat kepadanya dan Afrós tau itu ketika goresan-goresan itu kini menulis huruf dan huruf merangkai kata pada sebuah kalimat yang membuat Afrós mati kebingungan
"Be careful with what you wish for"
VOUS LISEZ
Bulletproof Passengers | Heeseung ff
Roman d'amourHelios dan Afrós, sang Matahari dan Hujan, selalu tampak ironi jika berasama sekalipun pelangi hadir karena mereka "Will you face the danger in order to help a stranger?" - Helios June/19/2022
