1

37.6K 1.2K 9
                                        

"Hatchim!"

Suara bersin yang pelan itu memecah keheningan dalam dinginnya jalanan kota pagi itu.

Salju turun lebat sampai dini hari tadi. Orang-orang yang tidak memiliki kepentingan mendesak, memilih untuk diam di rumahnya yang hangat dibandingkan keluar dan harus menginjak salju dingin di sana sini.

Hanya ada beberapa pemilik toko yang sedang membersihkan salju yang menutupi jalan menuju tokonya.

Jika mendongak ke atas, telihat kepulan asap dari cerobong rumah-rumah di sana. Mereka pasti sedang menyalakan perapian ataupun sedang memasak sup hangat untuk sarapan pagi.

Tapi, jika menoleh ke sudut gang gelap, ada kehidupan lain yang berbeda. Jangankan sup dan perapian hangat, pakaian hangat saja mereka hanya mengandalkan pemberian para dermawan ataupun hasil mengais di tempat pembuangan.

"Kakak. Itu di sana." Suara berbisik terdengar keluar dari bibir yang mulai membiru milik anak laki-laki berusia 5 tahun.

Jari kecilnya menunjuk ke arah belakang toko roti. Ada pemilik toko yang berdiri di sana sedang membuang roti hampir berjamur.

"Sssstt. Kau tunggu di sini." Anak perempuan berusia 8 tahun yang dipanggil kakak tadi berbicara. Ia langsung memasang posisi bersiap.

"3"

Bibirnya mulai menghitung.

"2"

Matanya fokus pada targetnya.

"1"

Wushh

Secapat kilat ia melesat meninggalkan anak-anak yang tiba-tiba muncul entah darimana menargetkan hal yang sama dengannya.

Grap

Tangannya dengan lincah merebut dua bungkus roti dengan ukuran cukup besar lalu berlari pergi dari sana.

"Hahh..hahh.. inii.." Anak perempuan berambut putih kusam itu bersandar pada dinding di sudut gang gelap. Tangannya terulur menyerahkan satu bungkus roti pada anak laki-laki yang lebih muda di depannya.

"Kakak. Kau hebat sekali!!" Anak laki-laki itu memekik senang. Tangannya yang membeku memegang roti dengan hati-hati.

"Tu-Tunggu. Biar aku lihat. Jangan sampai memakan yang sudah berjamur. Nanti kau bisa sakit perut." Airyl, nama anak perempuan itu dengan telaten membolak-balik roti di tangan Jim. Setelah memastikan roti itu masih aman dikonsumsi, Airyl mempersilahkan Jim untuk makan.

"Selamat makan!" Jim tersenyum lebar dan mulai menggigit roti keras dengan semangat. Wajahnya riang seolah-olah sedang memakan makanan terenak di dunia.

Airyl yang melihatnya mau tidak mau tersenyum. Ia memotong roti miliknya dan memberikannya pada Jim lagi.

"Kau mwakanwah, kak (kau makanlah, kak)" Jim protes dengan mulut penuh roti di mulutnya.

"Aku tau kau tidak akan kenyang. Makanlah. Aku tidak makan banyak." ucap Airyl membuat senyum cerah Jim semakin lebar.

Airyl tidak bisa menahan tangannya untuk mengusap rambut Jim. Mereka awalnya diasuh di panti asuhan yang sama di luar daerah. Airyl pertama kali melihat Jim saat usia Jim 1 tahun. Karena panti kekurangan orang untuk menjaga anak balita, Airyl ditugaskan mengurus Jim.

Sampai kemudian, terjadi kebakaran tiba-tiba di panti asuhan menyebabkan pemilik, pengurus, dan beberapa anak panti meninggal. Anak-anak yang selamat terpencar dan harus mengandalkan diri sendiri untuk bertahan hidup.

Airyl hanya membawa Jim bersamanya. Mereka mencoba mencari panti lain, tapi mereka tidak bisa menerima anak lagi karena kurangnya dana operasional panti. Akhirnya Airyl mengajak Jim berkeliling dan bertemulah mereka dengan kakek tua sekarat yang tinggal di dalam gang kumuh di bekas toko yang ditinggalkan.

Girl From The Street [COMPLETED]Where stories live. Discover now