Seorang gadis turun dari sebuah Porsche Cayenne putih dengan gerakan anggun. Seorang gadis lain berwajah blasteran Asia sigap menutup kembali pintu mobil begitu gadis pertama itu melangkah menjauh.
Tanpa melirik ke belakang, gadis tersebut berjalan dari area parkir universitas menuju gedung utama.
Tubuh Jennie Kim menjulang semampai. Rambut hitam kecokelatan tergerai hingga punggung, ujung-ujungnya dibentuk ikal bergelombang yang jatuh rapi. Alisnya, meski tidak terlalu tebal, dibentuk melengkung halus, sepadan dengan sepasang mata cokelatnya yang menyerupai mata kucing tajam, namun tenang.
Setiap kali Jennie melewati lorong-lorong kelas, bunyi decakan kagum dan tatapan mata mengiringi langkahnya. Namun, ia sama sekali tidak mengacuhkan sekeliling.
Pandangan matanya lurus ke depan. Sesekali jemarinya menyibak rambut yang tertiup angin. Ekspresinya datar, nyaris dingin tidak mencerminkan mahasiswa kebanyakan.
Beberapa langkah di belakangnya, gadis blasteran lain berjalan dengan ritme yang terukur. Lisa.
Aura yang ia bawa tak kalah menyita perhatian. Wajahnya unik dengan paduan oriental yang kuat, membuatnya tampak seperti penyanyi asal Negeri Ginseng.
Postur tubuhnya tegap dan atletis. Sepasang matanya tajam, sikapnya dingin sebuah kombinasi yang menghadirkan kesan misterius yang sulit diabaikan.
Lalisa Manoban mengekori Jennie Kim dengan gaya berpakaian santai dan terkesan cuek. Pada salah satu daun telinganya, terpasang anting hitam—model yang biasa dikenakan para personel band, dan hampir selalu menjadi ciri khasnya.
Flashback
"Lalisaaa... di mana sepatunya? Haruskah aku berteriak dulu baru kau bergerak cepat? Ck!"
Gadis bermata kucing itu, yang baru menginjak usia delapan belas tahun tengah bersiap berangkat kuliah. Meski dikelilingi banyak asisten rumah tangga yang siap mengurus segala kebutuhannya, gadis manja itu hanya menginginkan satu orang untuk direpotkan.
Bodyguard-nya.
Jennie Kim adalah anak tunggal dari pasangan pengusaha kaya, Kim Woo Bin dan Jung Rae Won salah satu dari lima keluarga dengan kekayaan terbesar di Korea Selatan.
Sejak kecil, Jennie memang diberikan satu orang pengawal pribadi. Seseorang yang dilatih khusus, bukan hanya untuk melindunginya, tetapi juga mengurus segala keperluannya.
Namun, karena sifatnya yang cenderung semena-mena, Jennie menolak dilayani orang lain. Ia hanya mau satu orang itu—meskipun ia tahu, bodyguard tersebut akan selalu pergi bersamanya ke mana pun.
Bodyguard itu bernama Lalisa Manoban.
Meski seumuran dengan Jennie, Lisa jauh lebih bisa diandalkan. Ia berani, kuat, dan cerdas. Selain menguasai berbagai jenis bela diri, Lisa juga unggul secara akademik—sebuah kombinasi yang jarang dimiliki seseorang seusianya.
Namun, sehebat apa pun Lalisa Manoban, Jennie Kim tetap menjadi nomor satu baginya. Tidak ada posisi yang lebih tinggi, tidak ada perintah yang bisa ia bantah.
Hari ini adalah hari pertama mereka resmi menjadi mahasiswa.
Jennie Kim melanjutkan pendidikannya di universitas milik keluarganya sendiri—The Kim's University. Sebuah institusi prestisius yang berdiri di bawah nama besar Kim Woo Bin, ayahnya.
Mereka berkuliah di tempat yang sama. Sebuah fakta yang bagi sebagian orang mungkin biasa, namun bagi Lalisa Manoban, itu adalah pengecualian yang tidak semua orang dapatkan.
Lisa hanyalah anak yang dipungut Kim Woo Bin.
Pengusaha kaya raya itu dikenal berhati dingin dalam urusan bisnis, namun bermurah hati dalam satu hal yautu putrinya. Demi kenyamanan dan keamanan Jennie, ia tidak keberatan memberikan Lisa tempat tinggal, pendidikan, dan akses yang sama, selama gadis itu tetap berada di sisi Jennie.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE PRICE OF COMING BACK
Fiksi PenggemarJennie Kim pernah memiliki segalanya Nama besar, perusahaan keluarga, dan cinta yang ia yakini akan bertahan seumur hidup. Lalu dalam satu keputusan, semuanya runtuh. Enam tahun kemudian, saat hidupnya nyaris hancur oleh hutang, pengkhianatan, dan k...
