Kau adalah sederet kalimat yang terlalu panjang, ribuan kata yang tak pernah habis, dan ucapan yang tak mampu terjeda. Kau adalah aksara yang rumit untuk dipahami, alur cerita yang sulit untuk ditebak dan nafas yang menghembus kehidupan. Kisah denga...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
9 Tahun lalu..
Angin semi bertiup lembut membelai setiap helai rambutnya, mengusap pipi cabi kemerahannya dan kedua kaki telanjang yang tengah menjejak pada hijaunya rumput padang.
Netra kecoklatannya tak bosan menatap kelopak dandelion yang berterbangan terbawa angin, terkesan seperti sebuah pencerahan kala senja menampakkan angkuhnya di langit barat dan ia menyaksikannya dengan ribuan jawaban akan seluruh pertanyaannya.
Ia duduk diatas padang, melihat sepatu biru muda miliknya dengan tali menyilang disana. Ia menggoyangkan kakinya, membiarkan ilalang bergoyang menggesek pergelangan kakinya.
"Kau disini?" Seorang anak laki-laki dengan rambut hitam pekat itu duduk disampingnya.
Ia tidak menggubrisnya, sorot matanya masih setia menatap sepatu biru mudanya.
"Dimana Alam?" Ia menyeletuk setelah keheningan mulai menyapa. Yang ditanya menengok menatapnya, kemudian menoleh ke belakang, "dia disana" ucap anak laki-laki itu.
Ia ikut menoleh kemudian melambaikan tangannya ke arah anak laki-laki sepantarannya, Alam namanya.
Alam membalas lambaiannya, ia mempercepat langkahnya kemudian duduk di samping kanan si gadis.
_______
Dari kejauhan, seorang anak laki-laki memperhatikannya. Sudut bibirnya tertarik melengkung keatas. Ia ingin ikut bergabung bersama mereka. Lebih tepatnya, ingin duduk disamping gadis bermata coklat yang ia perhatikan di beberapa menit yang lalu.
Ia meremas ujung mantelnya, senyumnya pudar seketika setelah kesadarannya menariknya untuk menyadari siapa dirinya. Si pengidap bipolar yang sedang menjalani masa rehabilitasi.
menjauhlah darinya atau kau akan melukainya,
Ia menggeleng, mengurungkan langkah untuk bergabung bersama mereka. Menikmati senja musim semi, saling melempar lelucon ataupun berlarian di tengah padang dandelion.
"Aku mencarimu. Sudah sore, ayo pulang" Ia menoleh, mendapati pengasuhnya tengah menatapnya lembut dan senyum yang tak bosan bertengger, menghiasi bibir merah cerrynya. Ia masih enggan beranjak darisana, namun ia tak ingin jika pengasuh yang sudah ia anggap sebagai ibu itu dipecat karena terlambat membawanya pulang.
"Siapa dia?" Tanya pengasuhnya. Ia menggeleng, "aku tidak tahu namanya, tapi dia cantik" ucapnya.