Tubuhku bergetar, berusaha melawan kata hatiku. Aku ingin menyentuhnya, aku ingin memeluknya dan menjadikannya milikku. Tapi itu tidak mungkin. Dia bukan hakku. Dia hak orang lain, dia milik orang lain. Dan orang lain itu, sahabatku.
***
Mataku menelusuri koridor, kalau-kalau aku tanpa sengaja akan menemukannya dan tidak akan bisa menahan perasaan yang bergejolak selama 1 tahun belakangan ini. Setelah yakin ia tak ada dimanapun, aku melangkah keluar dari persembunyianku. Ujung koridor yang gelap dan sedikit tertutup selalu menjadi pilihan persembunyianku bila sudut mataku tanpa sengaja menangkap ujung rambutnya, dan aku akan menunggu hingga ia menghilang dari pandangku atau setidaknya aku tidak bisa melihatnya lagi.
Aku sungguh pengecut. Ya, memang. Aku mengakuinya.
Sejak pertama kali Stefani-sahabatku- memperkenalkanku padanya, aku tidak bisa menolak gelombang-gelombang aneh yang selalu membuatku ingin melihatnya. Dan bila aku mengikuti alur gelombang itu untuk melihatnya, sebuah desiran aneh akan menghantam ulu hatiku dan membuatku menjadi terasa sesak dan tak sanggup bernafas.
Aku menyadari perasaanku padanya saat tanpa sengaja melihatnya dan Stefani berangkulan dengan mesra. Sebuah api-perasaan yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya-memercik, membakar seluruh tubuh dan jiwaku hingga rasanya aku ingin sebuah lubang menganga akan muncul dan menelanku hidup-hidup, membawaku kepusaranya hingga aku tidak perlu untuk melihatnya lagi. Saat itu aku tahu, aku jatuh cinta padanya semenjak pandangan pertama. Yang bisa aku lakukan hanyalah memendam perasaan itu dalam-dalam.
Aku menyusuri koridor panjang yang akan membawaku menuju gerbang untuk segera pulang. Hari ini terasa melelahkan sekali. Tenagaku seakan terkuras habis ketika harus naik-turun tangga untuk berganti kelas dengan jam yang begitu berdekatan hingga membuatku hampir tidak dapat berisitirahat. Belum lagi, ini adalah hari kedua "bulananku".
"Diana Rianita." panggilan itu membuatku membeku seperti es. Suaranya lembut dan seperti musik di telingaku. Tanpa menoleh aku bisa mengetahui pemilik suara itu.
"Diana?" suara itu mengalun lagi, lembut. Seperti robot aku memalingkan wajahku menatapnya. Pemuda tampan yang berhasil membuatku jatuh hati di pertemuan pertama.
"Razu?" aku berhasil mengeluarkan suaraku, meskipun terdengar begitu parau. Berbeda sekali dengan suara indah miliknya.
"Kau sudah mau pulang?" tanyanya lembut. Dengan usaha keras aku mengangguk. Tanpa sadar aku mulai melakukan tingkah bodohku lagi, menatapnya dengan begitu intens. Matanya kecoklatan, sanggup menyeretku ke dalam pesonanya. Belum lagi rambut coklatnya yang lurus dan halus selalu berantakan di kepalanya membuatnya tampak lebih menarik. Hidungnya yang mancung dan bibirnya yang tipis serta rahangnya yang kokoh menambah nilainya. Sikapnya juga ramah dan begitu lembut, membuat nilai plusnya meningkat.
"Diana?" nada suaranya menyadarkanku. Pipiku merona saat menyadari terselip nada geli di dalamnya ketika ia memanggil namaku. Tertangkap basah seperti itumembuatku ingin segera menghilang dari sini.
"Ya, aku sudah mau pulang." ucapku berharap rona merah itu tidak terlalu terlihat.
"Kalau begitu aku antar?" tawarannya membuatku menatap bola mata coklatnya yang indah.
"Tidak perlu. Aku menggunakan transportasi umum saja." tolakku halus. Berusaha melawan kata hatiku yang meneriakan kata "YA" berulang-ulang.
"Tidak apa. Lagipula arah kita sama. Rumahku melewati rumahmu." bujuknya halus dan aku hampir menerimanya.
"Terima kasih, tapi tidak." kataku berusaha terdengar tegas. Kemudian berbalik melangkah menuju gerbang yang hanya tinggal berjarak beberapa langkah. Meninggalkan pemuda itu dengan ekspresinya yang tidak ingin ku lihat.
أنت تقرأ
He is My Bestfriend's Boy (Completed)
أدب المراهقينCerita ini aku buat pas lagi nganggur dan kebetulan ada ide :D Mungkin masih banyak kekurangan. Jadi mohon kritik dan sarannya. Terima Kasih. ************************************************************************************* "Tubuhku bergetar, be...
