Sehabis ashar tadi, aku menangisimu. Entah mengapa memang sebelum sholat, dadaku terasa sesak sekali.
Saat sholat ashar tadi, aku membayangkan dirimu, lalu aku berdoa hingga tak terasa meneteskan air mata, mengalir cukup deras. Aku sesegukan membicarakanmu didepan Tuhanku.
Aku berdoa agar aku ditakdirkan bersamamu, masalah waktu aku pasrahkan padaNya. Tetapi setelah dipikir, kapan itu semua akan terjadi? kapan doaku terkabul?
Saat ku buka media sosial, banyak sekali hal-hal romantis yang dilakukan pasangan diluar sana, termasuk teman-temanku. Aku cemburu sekali, aku juga ingin seperti itu, tentunya bersama Zalfa.
Aku memandangi dan mengamati, sahabatku yang sering kontekan dengan crushnya, mengapa aku tidak bisa seperti itu? aku sangat meninggikan gengsi.
Aku bukan wanita dengan seribu topik pembicaraan dan tidak pandai mendekati lelaki, aku tidak pernah make first move dengan laki-laki manapun termasuk Zalfa yang kusebut first love ku.
Aku tidak tahu itu sebuah kekurangan atau keunggulan, tapi kadang aku membencinya. Padahal kata orang lain, aku ini sangat sempurna, jangankan orang lain, Zalfa saja memujiku.
Tapi kesempurnaan itu milik Tuhan, hal baik yang ada dalam diriku adalah titipanNya, yang harus kujaga.
Aku selalu berfikir, apakah sebenarnya Zalfa juga menyukaiku? tapi dia juga gengsi sama seperti aku. Atau dia tidak menyukaiku?
Sebelumnya, aku lihat following instagram zalfa baik-baik saja, tidak ada yang perlu dicemburui, tapi saat ini semuanya berubah. Zalfa memfollow wanita cantik yang juga memiliki talenta, aku sangat cemburu. Apakah itu tipe idealnya Zalfa? bahkan di salah satu postingan wanita itu, Zalfa memberikan love nya.
Story ku juga pernah dilove sama Zalfa, waktu itu aku posting foto sehabis menonton film doctor strange, aku berfikir dia memberikan love karena itu ada hubungannya dengan film kesukaannya, karena kami sama sama suka film rilisan marvel.
283 kata ku ketik
Harapanku, aku bisa bersatu dengan Zalfa diwaktu yang tepat dan tentunya direstui Allah, direstui semua orang juga.
Mungkin Tuhan hanya meminta aku untuk bersabar, karena semua perjalanan butuh proses, aku percaya Tuhan telah menulis skenario terbaiknya bukan hanya untukku, tapi untuk kami.
Tiara.
